Berbusana Adat, Cara Guru di Flotim Ajarkan Siwa Cinta Budaya

Editor: Koko Triarko

282
LARANTUKA –  Mengenakan pakaian adat di setiap acara yang diadakan di sekolah, merupakan sebuah keharusan bagi SMPN 1 Lewolema. Siswa diajak untuk mencintai budaya daerah, khususnya tenun ikat etnis Lamaholot di kabupaten Flores Timur.
“Siswa-siswi diajak mencintai budayanya dengan perbuatan, bukan sekedar wacana. Bersama dewan guru dan komite, kami membangun kesepakatan bersama  siswa dan orang tua untuk mengenakan pakaian adat Lamaholot pada saat menerima amplop hasil kelulusan siswa,” ujar Pieter Kedang, Kepala Sekolah SMPN1 Lewolema, Kamis (31/5/2018).
Kepala sekolah SMPN1 Lewolema, Pieter Kedang. -Foto: Ebed de Rosary
Menurutnya, ide mengenakan pakaian adat saat penerimaan amplop kelulusan  itu lahir dari keprihatinan akan anak-anak zaman sekarang yang lebih menyukai pakaian gaya modern.
“Cara ini juga sebagai strategi untuk meminimalisir aksi tidak terpuji dari siswa, yang mencoret-coret baju dan celananya usai menerima amplop kelulusan. Semua siswa sangat antusias hadir mengenakan pakian adat,” tuturnya.
Momentum ini, kata Pieter, sebagai pertanda baik untuk dapat dilanjutkan pada tahun ajaran baru nanti. Minimal satu hari dalam seminggu, siswa dan guru wajib mengenakan pakian adat.
Kasmirus Rape Baluk, siswa berprestasi SMPN 1 Lewolema mengaku bangga dan merasa percaya diri mengenakan pakian adat Lewolema, meskipun awalnya merasa canggung karena belum terbiasa.
 “Awalnya kaku mengenakan pakaian adat untuk menghadiri acara pembagian amplop. Namun, saat tiba di lokasi saya, jadinya percaya diri karena semua teman- teman termasuk guru menggunakan pakaian adat,” ungkapnya.
Kasmirus, berterima kasih atas kebersamaan selama 3 tahun di sekolah bersama bapak kepala sekolah dan bapak/ibu guru, terlebih momen penerimaan amplop kelulusan yang sangat berkesan.
“Terima kasih telah mengajarkan kami ilmu pengetahuan, keterampilan, juga akhlak. Dan, hari ini di akhir kebersamaan kita, Bapa/Ibu Guru mengajarkan kami akan rasa cinta terhadap budaya kita,” sebutnya.
Guru SMPN 1 Lewolema Flores Timur (Flotim), Maksimus Masan Kian, menambahkan, siswa SMPN 1 Lewolema angkatan perdana berjumlah 50 orang, dengan persentase kelulusan 100 persen. Saat menerima amplop, semuanya berpakaian adat.
“Flotim memang terkenal sebagai salah satu kabupaten yang memiliki potensi dan kekayaan budaya yang luar biasa, terutama ragam motif  busana adat Lamaholot,” sebutnya.
Atas keunggulan ini, tandas Maksi, sapaannya, pemerintah kabupaten Flotim di bawah kepemimpinan  Bupati Anton Hadjon dan wakilnya, Agustinus Payong Boli, di awal kepemimpinan telah mencanangkan kepada seluruh ASN untuk wajib berbusana adat pada minggu pertama dalam setiap bulannya.
“Hasil dari program ini, untuk sementara yang dapat dilihat, orang semakin percaya diri berbusana adat Lamaholot. Jika sebelumnya hanya digunakan saat seremoni adat, saat ini sudah dibanyak  momen orang mulai memilih menggunakan pakian adat,” paparnya.
Baca Juga
Lihat juga...