Berkah Ramadhan Bagi Petani dan Pelaku Usaha Kecil

Editor: Mahadeva WS

276

LAMPUNG – Datangnya bulan suci Ramadan ikut membawa berkah bagi petani buah di Lampung Selatan. Kebiasaan masyarakat membuat minuman dengan buah segar menjadi rezeki yang dinikmati oleh para petani buah tersebut.

Salah satu penjual buah timun suri Wulan menyebut, sejak dua hari sebelum Ramadan dirinya berjualan di depan rumah. Kegiatan berjualan tersebut menjadi pekerjaan sambilan saat Ramadan tiba. Selain timun suri Wulan juga menjual blewah, melon dan semangka yang dibeli suaminya dari Bakauheni.

Pada awal bulan puasa harga timun suri masih cukup tinggi. Untuk ukuran kecil dijual Rp3.000, ukuran sedang Rp5.000 dan ukuran besar Rp8.000. Buah timun suri dibeli dalam keadaan setengah matang dari sejumlah petani di Sukatani Kalianda Lampung Selatan. Dengan keuntungan sekira Rp1.500 perbuah, 100 buah timun suri disediakannya di depan rumah dan sebagian dijual sang suami dengan berkeliling.

“Saat awal Ramadan banyak petani yang belum panen sehingga harga masih tinggi. Pertengahan Ramadan hingga akhir biasanya harga  turun karena buah ini kerap diburu untuk minuman berbuka puasa,” terang Wulan saat ditemui Cendana News, Kamis (17/5/2018).

Saat awal puasa, wulan menyediakan 50 hingga 100 buah timun suri untuk dijual dengan berbagai ukuran. Sebagian buah timun suri sengaja dibeli dalam kondisi tua menjelang matang sehingga bisa dijual saat sudah dalam kondisi matang untuk dipergunakan sebagai menu minuman berbuka puasa.

Buah buahan dibeli oleh warga juga dibeli oleh penyedia minuman berbuka puasa yang menyediakan menu es buah. Buah timun suri yang memiliki aroma wangi penggugah selera minum tersebut memiliki fungsi untuk menurunkan panas dalam sehingga cocok untuk orang yang menjalankan ibadah puasa.

Beberapa ibu rumah tangga membeli timun suri,buah yang kerap dijual selama bulan Ramadan sebagai menu es buah [Foto: Henk Widi]
Berjualan timun suri dimanfaatkan Wulan untuk mengumpulkan uang lebaran. Dengan keuntungan Rp1.500 perbuah, Wulan bisa mengumpulkan Rp150 ribu jika menjual sekitar 100 buah.

Salah satu pembeli buah timun suri Rusmini menyebut, membeli buah tersebut untuk membuat rucuh. Rucuh dibuat dengan campuran buah timun suri yang telah diberi dengan cairan gula merah diberi es batu. Menu tersebut sering disantap saat berbuka puasa.

Selain menyegarkan menu rucuh tersebut, diakuinya tidak menggunakan bahan pengawet dan menyegarkan dibandingkan minuman sirup buatan pabrik. “Menu berbuka puasa sederhana ini sudah bertahun tahun kami gunakan bahkan selalu menjadi minuman favorit,” beber Rusmini.

Selain timun suri, berkah Ramadhan juga dirasakan oleh penjual gula merah asal Kubang Gajah. Salah satu penjual gula merah Sodik menyebut, mendapat rejeki sebelum dan awal ramadan. Pembuat gula tersebut mengaku menjual gula merah secara berkeliling dengan harga Rp15.000 perkilogram. Setiap kilogram gula merah berisi 25 butir. Gula merah kerap digunakan untuk pembuatan kolak, cendol, juruh minuman serta pembuatan minuman jenis lain selama bulan ramadan.

Stok gula merah yang diambil dari pembuat gula kelapa bisa terjual 100 kilogram perhari ke sejumlah warung. Harga sebesar Rp13.500 untuk warung yang menjual gula merah membuat Dia bisa mendapatkan omzet Rp1.350.000 untuk pengiriman selama dua hari berkeliling ke tiga kecamatan.

Selain dipergunakan untuk modal usaha, membuat gula kelapa sebagian hasil penjualan dipergunakan untuk keperluan saat Idul Fitri. Petani penanam timun biasa, timun suri dan jagung manis bernama Suroto di Desa Sukabaru juga ikut mendapat rejeki awal puasa ramadan.

Laki laki yang menanam buah timun 20 guludan tersebut bisa panen 20 kali dan rata rata panen 100 kilogram timun sekali petik. Selain timun Suroto juga mendapat hasil dari memanen jagung manis yang banyak diminati warga untuk menu sayur berbuka puasa.

Tanaman lain timun suri yang bisa dipanen usia 60 hari ditargetkan bisa dipanen pertengahan bulan puasa. “Tanaman timun suri yang saya tanam memang diprediksi panen pertengahan ramadan saat petani lain sudah tak ada stok baru kita jual,”paparnya.

Buah timun Suroto dijual dengan harga Rp2.500 dengan hasil 1000 kilo. Untuk sepuluh kali panen Dia bisa mendapatkan hasil Rp2,5juta. Hasil jagung manis bisa menghasilkan sekitar 2000 kilogram harga Rp2.500 bisa menghasilkan Rp5juta.

Timun saat bulan ramadan diakuinya kerap dijadikan campuran untuk kuah empek empek dan rujak tahu untuk menu berbuka. Sementara untuk jagung manis dibuat perkedel jagung sebagai bahan berbuka puasa. “Kreasi dari tanaman sayuran yang saya tanam memang banyak digunakan untuk bulan ramadan ini sehingga permintaan meningkat,” terang Suroto.

Selama Ramadan Dia bisa memperoleh keuntungan dari tiga jenis komoditas pertanian. Timun, jagung manis dan timun suri ditanam dengan sistem waktu berjenjang sehingga bisa dipanen dalam waktu berbeda. Cara tersebut ditempuh untuk memperoleh hasil secara berkelanjutan dengan proses panen sehari sebelum waktu pasar buka dan kerap diambil pengepul di rumah untuk diecer di pasar.

Baca Juga
Lihat juga...