Blasi Alu, Tarian Pesta Panen Etnis Tana Ai

Editor: Satmoko

339

MAUMERE – Menari dan mensyukuri hasil panen padi serta jagung selama satu musim panen merupakan sebuah kebiasaan bagi warga etnis Tana Ai yang mendiami wilayah timur kabupaten Sikka yang berbatasan dengan kabupaten Flores Timur.

Biasanya, saat pesta panen selalu digelar tarian Blasi Alu atau Wadong Alu yang merupakan tarian menumbuk padi. Tarian ini dibawakan oleh para perempuan tua. Sambil menari dilantunkan syair-syair adat sebagai ucapan syukur terhadap leluhur serta pengauasa langit dan bumi.

“Tarian ini merupakan tarian adat etnis Tana Ai yang biasa dibawakan saat ritual adat pesta panen, usai panen padi. Blasi atau Wadong artinya menyanyi, membawakan lagu tradisional yang hanya dinyanyikan saat pesta panen. Sementara Alu merupakan alat untuk menumbuk padi,” sebut Yohanes Yan Lewar, Minggu (20/5/2018).

Yohanes Yan Lewar tetua adat atau Marang etnis Tana Ai di desa Kringa kecamatan Talibura.Foto : Ebed de Rosary

Tidak semua perempuan, kata Yan, sapaannya, yang bisa melantunkan syair-syair adat saat menari tersebut. Selain membawakan syair-syair adat, juga saling berbalas pantun dalam bahasa daerah. Tarian ini bisa dibawakan semalam suntuk.

“Dalam menarikannya, para perempuan memakai giring-giring di kaki. Sementara di ujung Alu diikat Lensu warna putih atau sapu tangan sebagai hiasan. Tarian ini biasanya dibawakan oleh 6 sampai 10 perempuan,” ungkapnya.

Moses Boli, tetua adat desa Kringa lainnya menjelaskan, kalau ada kunjungan orang besar (pejabat) tarian ini juga diperbolehkan untuk dipentaskan. Tetapi harus izin tokoh-tokoh adat terlebih dahulu dengan membuat ritual adat guna meminta restu kepada leluhur, Nian Tana Lero Wulan atau penguasa bumi dan langit.

“Setelah dibuat ritual adat, baru diperbolehkan untuk menampilkan tarian ini. Ritual adat khusus dihadiri oleh para tetua adat saja. Dalam menarikan tarian ini di tengah-tengah lingkaran penari tidak diperbolehkan memakai Lesung,” terangnya.

Karena kalau memakai Lesung, lanjut Moses, maka harus membunuh seeekor hewan, biasanya menggunakan babi. Juga harus memberi makan arwah leluhur serta bumi dan langit dengan membuat ritual adat menggunakan telur ayam terlebih dahulu.

“Ritual adat ini dilakukan untuk mendirikan Lesung atau memperbolehkan penggunaan Lesung dalam tarian ini. Bila tidak menggunakan Lesung, maka di tengah lingkaran penari ditaruh sebuah batu ceper sebagai simbol. Atau langsung Alu dihentakkan ke tanah saat menari,” jelasnya.

Setiap ritual adat, beber Moses, telur ayam harus lebih dahulu dipersembahkan. Sebab bagi orang Tana Ai, ayam dianggap sebagai jago dunia. Karena ketika ayam berkokok  adalah pertanda khusus hari menjelang pagi.

“Bila menarikan Wadong Alu atau Blasi Alu di kebun maka wajib menggunakan lesung. Di dalamnya ditaruh batu sebagai simbol. Sebelum pesta panen di kebun semua sudah dibuat ritual adat terlebih dahulu, termasuk menyembelih hewan dan mengadakan ritual untuk mendirikan atau membuat berdiri Lesung,” sebutnya.

Untuk warga etnis Tana Ai yang bermukim di Buhe Buluk atau perkampungan di lembah terang Mosen, tarian ini dinamakan Wadong Alu tetapi kalau di Buhe Gahar atau kampung yang ada di dataran tinggi atau pegunungan dinamakan Blasi Alu.

Disaksikan Cendana News, saat tarian ini dipentaskan semua penari bertelanjang kaki berdiri membentuk lingkaran dan menari berputar. Alu yang dipegang di tangan kanan dihentakkan ke tanah saat penari maju bersamaan ke batu di tengah lingkaran seraya melantunkan syair-syair lagu dan pantun.

Baca Juga
Lihat juga...