Bre Redana: Kritik Film Harus jadi Kritik Kebudayaan

Editor: Koko Triarko

247
Bre Redana –Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Kritik film harus menjadi kritik kebudayaan, demikian salah satu yang disampaikan Bre Redana, mantan wartawan budaya, saat mengungkap tentang perkembangan teknologi pers dan kritik film, dalam acara workshop kritik film di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (10/5/2018).

Lelaki kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 27 November 1957 itu membeberkan, dalam film-film sebagai produk budaya bisa dilihat dinamika kebudayaan masyarakat.

“Hal itu menyangkut, misalnya cara berpikirnya; kecenderungan politiknya; sikap sosial-agamanya; fase-fase sosial yang tengah dijalaninya; gaya hidupnya, dan lain-lain,“ beber lulusan Sastra Inggris Universitas Satya Wacana, Salatiga (1957) dan jurnalisme di School of Jounalism and Media Studies, Darlington, Inggris (1990–1991).

Menurut Bre Redana, yang banyak dilakukan orang sekarang adalah ‘review film’, yang membahas sebuah film sebagai karya estetik. “Yang umumnya dibahas kemudian adalah segi-segi estetik dan teknik seperti cerita dari naratif, plot, klimaks, antiklimaks dan seterusnya. Kemudian, tema, akting, penyutradaraan, pengadeganan, sinematografi, editing, musik dan lain-lain,“ papar penulis buku ‘Nonton Film, Nonton Indonesia’, itu.

Perkembangan teknologi informasi dan implikasinya, kata Bre Redana, membuat keadaan zaman sekarang terjadi kelimpahan informasi, tapi sayangnya hal tersebut tidak berbanding lurus dengan penulisan kritik film yang cenderung menurun.

“Beda dengan zaman dulu, wartawan harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan informasinya, untuk itu harus bertemu langsung dengan sutradaranya dan kemudian hasilnya kritik filmnya lebih tajam,“ ujarnya.

Zaman sekarang yang penuh kelimpahan informasi ini membutuhkan kecepatan dan kesegeraan. Semua orang menjadi ahli. “Hal ini menimbulkan, the death of expertise, matinya para pakar, sehingga akhirnya otoritas tidak ada,“ tegasnya.

Bre Redana menyampaikan, bahwa kita berada di tengah kondisi masyarakat yang semuanya maha tahu; maha benar; ingin melihat dan mendengar apa yang ingin mereka lihat dan dengar saja; tidak butuh informasi, tapi konfirmasi dan justifikasi.

“Tak kecuali kritik film berada di tengah kondisi tersebut dan itulah tantangan, bukan saja dunia kritik film, tapi juga tantangan kebudayaan kita,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...