Buka Bareng Nasi Kapau Khas Minangkabau

Editor: Satmoko

315

PADANG – Selama bulan Ramadan tempat pabukoan (berbuka) menjadi incaran untuk mendapatkan makanan yang bisa menjadi hidangan saat berbuka. Mulai dari takjil, hingga dari sambal yang menggugah selera.

Soal menggugah selera, di Sumatera Barat ada tempat yang selalu menjadi incaran bagi masyarakat untuk mendapatkan hidangan berbuka yakni nasi Kapau.

Sebelum membahas apa saja yang terdapat pada nasi Kapau, perlu dikenalkan terlebih dahulu, apa itu nasi Kapau, dan apa bedanya dengan nasi Padang. Nasi Kapau adalah nasi rames khas nagari Kapau, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, yang merupakan salah satu daerah di Sumatera Barat.

Nasi kapau ini terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (babat) atau paruik kabau. Nasi ini memiliki rasa khas tersendiri yakni benar-benar berasal dari daerah Tilatang Kamang.

Lalu kalau nasi Padang, soal sambalnya juga tidak jauh berbeda dengan nasi Kapau. Hanya saja nama nasi Padang ini mengingatkan ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat ialah Kota Padang. Jadi segala hal yang datang dari Sumatera Barat dikenal dengan nasi Padang.

Sebenarnya, kalau berbicara masakan khas di Minangkabau, tidak hanya ada nasi Kapau, nasi Padang, tetapi juga ada masakan Piaman. Masakan Piaman ini merupakan masakan yang berasal dari salah satu daerah di Sumatera Barat yakni Kota Pariaman. Masakan Piaman ini cukup banyak tersebar di sejumlah daerah di Sumatera Barat.

Tapi kalau nasi Kapau ini, yang membuatnya begitu diincar oleh masyarakat ialah masakan dan sambal yang disajikannya benar-benar masakan dari perkampungan dan bukanlah makanan yang ala zaman sekarang. Bumbu dan cara racikan masakannya pun masih dikerjakan secara tradisional, yakni menggunakan tungku panggang dari kayu.

Seperti yang dikatakan oleh H. Mes seorang penjual nasi Kapau yang ada di Kota Bukittinggi. Masakan dan sambal yang dijualnya benar-benar untuk selera orang Minang yaitu memiliki rasa pedas, kaya akan rasa rempah-rempah, dan tentunya rasa gulai santan yang begitu lezat.

“Di sini cukup banyak pembeli yang datang dari berbagai daerah. Soal tempat cukup kecil, tidak seperti rumah makan apalagi restoran. Tapi soal rasa masakan, banyak orang yang bilang nasi Kapau memiliki rasa yang lezat,” katanya, Sabtu (19/5/2018).

Ia menyebutkan, dari bahan ayam saja, di nasi Kapau bisa menyajikan sejumlah masakan, seperti ayam goreng lado hijau, ayam bumbu, ayam gulai, dan rendang ayam. Tarif makan di nasi Kapau mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 per porsi tergantung jenis sambal yang dipesan.

Apalagi selama Ramadan ini, nasi Kapau akan menjadi incaran favorit masyarakat ketika berkunjung ke Kota Bukittinggi. Di lokasi H. Mes berjualan nasi Kapau juga banyak terdapat penjual nasi Kapau lainnya. Meski terdapat banyak penjual nasi Kapau, bisa dikatakan tidak ada tempat yang sepi di masing-masing penjual nasi Kapau.

Meta, seorang pembeli nasi Kapau mengaku, daya tarik nasi Kapau tidak hanya dari rasanya saja, tapi keramahan penjual dan juga cara menyajikan pesanan terbilang unik. Sebab posisi penjual di atas tempat yang dikelilingi oleh masakan dan sambal yang dijual. Tidak perlu mondar-mandir untuk mengambil sambal, tapi cukup dengan menggunakan sendok yang panjang.

“Saya kalau setiap datang ke Kota Bukittinggi selalu menyempatkan makan siang di nasi Kapau. Kalau untuk Ramadan ini saya belum ke Bukittinggi lagi. Seandainya ada waktu ke Bukittinggi, tentu saya akan mengajak para sahabat untuk berbuka di sana,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...