banner lebaran

Cerita Film Hello Salma Lebih Berkembang

Editor: Koko Triarko

215
Karina Suwandi –Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Karina Suwandi termasuk artis senior yang sampai sekarang mampu menjaga eksistensi karirnya di dunia perfilman. Kariernya bermula dari foto model di majalah remaja pada akhir 1980an.

Lalu, wajah indonya yang lugu dan cantik menjadikan daya tarik tersendiri bagi Achiel Nasrun, sutradara film Lupus II pada 1987. Ia diberikan kesempatan untuk menjadi aktris pendukung dalam film tersebut.

Berangkat dari sana, ia kemudian meneruskan karier aktingnya di berbagai film layar lebar, diantaranya: Cinta Anak Jaman (1988), Valentine Kasih Sayang Bagimu (1989), Zig Zag (1991), Bestfriend? (2008), 7 Hari Menembus Waktu (2015), hingga Dear Nathan (2017). Kini ia membintangi sekuel filmnya; Hello Salma.

“Film Hello Salma ceritanya lebih berkembang,“ kata Karina Suwandi, seusai syukuran film ‘Hello Salma’ di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Menurut Karina, film ini berkisah tentang seorang ayah yang ingin anaknya menjadi dokter. Walaupun sebetulnya Salma sudah dididik dan mendapatkan nilai akademis yang baik, tapi masih ada keturunan yang dia inginkan harus tercapai.

“Saya harapkan ini bisa menjadi pilihan bagi penonton untuk orang tua dari sisi mana melihatnya. Ada orang tua yang ingin anaknya harus jadi dokter, tapi ada juga orang tua mau jadi apa anaknya tetap didukung. Dalam film ini ceritanya digambarkan lebih berkembang,“ ungkap artis yang populer sejak tahun 1980an.

Perempuan kelahiran Jakarta, 26 Desember 1973, itu membeberkan dalam film ‘Hello Salma’ diceritakan mereka lebih dewasa jadi ceritanya lebih berkembang.

“Ke orang tuanya lebih dalam. Mereka sudah mau kuliah jadi stepnya sudah selanjutnya. Peran orang tua lebih berpengaruh pada kehidupan Nathan maupun Salma. Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi Nathan maupun Salma, termasuk saya juga,“ beber artis berdarah campuran Indonesia dari ayahnya dan Republik Ceko dari ibunya.

Main dengan artis-artis muda zaman sekarang, Karina merasa salut dengan mereka yang mencari ruang dalam berakting.

“Kalau dulu ada latihan, tapi sekarang ada acting court, saya cukup beruntung main dengan mereka yang serius. Saya salut dengan mereka yang mencari ruang dalam berakting. Kalau mereka yang serius tampak menyenangkan sekali mereka berproses. Memang, beda dulu dengan sekarang,“ paparnya.

Secara psikologis, Karina merasa dirinya dulu berproses dengan artis seumuran jadi lebih menyenangkan.“Kita ada reading dan bertemu beberapa kali. Kalau persiapan panjang bisa sama dengan zaman dulu,“ ujarnya.

Perbedaan yang paling mencolok antara zaman dulu dengan jaman sekarang, menurutnya ada pada kedisiplinan. “Kalau dulu sangat disiplin, tapi sekarang kurang disiplin, jadi kadang-kadang saya merasa kurang nyaman,“ tegasnya.

Karina menekankan, artis-artis zaman sekarang kalau mau bertahan harus dispilin. “Artis sekarang banyak yang cantik-cantik dan ganteng-genteng, tapi kalau tidak disiplin akan digilas zaman dan tentu tidak akan bertahan lama,“ tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.