Din Syamsuddin Ajak Terapkan Nilai Harmoni Islam

Editor: Satmoko

234
Prof Din Syamsuddin dalam acara Kajian Ramadan di Universitas Muhammadiyah Malang, Minggu (20/5/2018).- Foto Agus Nurchaliq

MALANG – Tujuh nilai utama Wasatiyyat Islam yang mencerminkan keseimbangan dan harmoni kehidupan telah dihasilkan dalam Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia yang digelar di Bogor pada awal bulan Mei lalu.

Melalui penerapan tujuh nilai utama Wasatiyyat Islam tersebut ini pula, Islam Berkemajuan dan Indonesia Berkemajuan yang selama ini didengungkan Muhammadiyah diharapkan bisa terwujud.

Hal tersebut disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Prof. Din Syamsuddin, ketika menjadi pembicara dalam acara Kajian Ramadan di Universitas Muhammadiyah Malang, Minggu (20/5/2018).

Menurutnya, Wasatiyyat Islam mengutamakan keseimbangan dan harmoni, penuh toleransi, menghindari kekerasan dalam menegakkan syariat dan tidak menganut paham takfiri sehingga sangat perlu diterapkan.

“Anggota dan kader Muhammadiyah harusnya bisa memperjuangkan sekaligus menerapkan tujuh nilai utama Wasatiyyat Islam demi tercapainya Islam Berkemajuan, Indonesia Berkemajuan,” terangnya.

Nilai utama Wasatiyyat yang pertama adalah Tawassut yakni berdiri tegak di posisi jalur tengah dan lurus untuk menegakkan keseimbangan. Dan yang kedua yaitu berperilaku profesional serta menegakkan keadilan secara bertanggung jawab.

Selanjutnya yang ketiga menurut Din Syamsuddin adalah Tasamuh yaitu mengakui dan menerima perbedaan, kemudian berinteraksi dengan penuh tenggang rasa dan lapang dada.

“Hal ini sangat penting, jangan main pokoke atau mengkafirkan orang lain dan merasa paling benar sendiri,” jelasnya.

Kemudian yang keempat yaitu Syura yakni cenderung untuk bermusyawarah, menyelesaikan masalah bersama untuk meraih yang terbaik.

“Orang-orang di luar negeri sangat mengapresiasi Islam di Indonesia yang sangat mengamalkan syuro. Apa pun perbedaan selalu ada jalan keluar,” akunya.

Selanjutnya, nilai utama kelima adalah Islah yang cenderung melakukan hal yang baik untuk kemaslahatan bersama termasuk selalu mendamaikan. Keenam qudwah menampilkan keteladanan, melakukan kepeloporan untuk melakukan hal-hal yang positif, konstruktif, inovatif untuk kebaikan bersama.

Dan yang terakhir yaitu muwatonah yakni menerima negara bangsa dimana pun berada dan kemudin bertekad untuk menjadi warga negara yang baik.

“Kira-kira Wasatiyyat seperti inilah yang ingin saya masukkan dalam konten dari politik nilai yang kita lakukan,” tuturnya.

Anggota maupun kader Muhammadiyah yang tidak mau berjuang melalui partai politik, harus tetap menjaga gawang dakwah, termasuk memperjuangkan nilai-nilai Wasatiyyat.

“Saya kira kalau hal ini terjadi, Islam berkemajuan dan Indonesia berkemajuan yang kita perjuangkan itu Insha Allah dengan pendekatan dari strategi kebudayaan, strategi dakwah dan strategi politik semacam ini, akan bisa tercapai. Karena kalau tidak, maka Indonesia berkemajuan termasuk Islam berkemajuan akan tinggal kata-kata yang hanya kita ucapkan. Tapi tidak kita amalkan,” pungkasnya.

 

Baca Juga
Lihat juga...