Dinkes Bali Gencar Ingatkan Remaja Bahaya Merokok

Editor: Satmoko

330

DENPASAR – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya, mengingatkan generasi muda akan bahaya merokok untuk kesehatan.

Menurutnya lebih dari 50 persen perokok adalah remaja, apalagi rokok mengandung zat adiktif yang membuat perokok ketagihan. Itu sebabnya ia meminta remaja yang belum merokok agar tidak mencoba.

“Satu satunya cara agar tidak kecanduan adalah jangan memulai merokok,” katanya pada acara Kampanye Simpatik Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2018 yang diselenggarakan di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja, Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Minggu (20/5).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya.-Foto: Sultan Anshori.

Suarjaya menambahkan, satu batang rokok mengandung paling tidak 4000 senyawa berbahaya. Selain itu, ia menambahkan, terdapat 400 senyawa penyebab kanker atau karsinogenik pada satu batang rokok. Oleh karena itu ia mengajak seluruh masyarakat hidup sehat dengan tidak merokok.

“Kami (Pemerintah) sudah terus melakukan langkah untuk mencegah penyebarluasan rokok. Salah satunya dengan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok,” pungkas Suarjaya.

Senada dengan Kadinkes Bali, Gede Sutha Arta Pramana dari HMKM UNUD mendorong para remaja untuk mulai berani bersuara. Hal ini menurutnya penting karena remajalah yang menjadi target utama untuk menjadi perokok baru.

“Caranya dengan menjadi sponsor kegiatan remaja atau memasang iklan yang massif. Remaja perlu kritis dan menyampaikan pendapatnya,” ucapnya.

Sementara itu, Jro Penjor, salah seorang warga memberi apresiasi soal rokok. Sebagai penggiat meditasi ia mengatakan, merokok adalah merongrong kebutuhan pokok masyarakat.

Kebutuhan pokok yang dimaksud adalah kesehatan. Namun ia berharap para insan kesehatan bisa mencari manfaat positif dari tembakau agar tidak hanya terasosiasikan dengan rokok.

“Prosesnya halus, tidak terasa, lebih banyak terasa nikmatnya bagi para perokok,”. ujarnya.

Seperti yang diketahui, peringatan Hari Tanpa Tembakau sudah dimulai sejak 31 Mei 1989 karena dampaknya saat itu sudah dirasakan. Bahkan diestimasi korban meninggal akibat rokok di seluruh dunia mencapai 8 juta orang. Di Indonesia, 190 ribu orang meninggal setiap tahun. Sementara yang sakit mencapai 380 ribu orang setiap tahunnya.

Baca Juga
Lihat juga...