Dolar Naik, Pembuat Tempe Kurangi Ukuran Tempe

Editor: Mahadeva WS

253

BALIKPAPAN – Siapa bilang pelemahan rupiah terhadap dolar hanya dirasakan para pelaku industri besar? Pembuat tahu dan tempe di kawasan Industri Kecil Menengah (IKM) Somber, Balikpapan, sudah merasakan dampak kenaikan dolar.

Perajin tempe di Somber Balikpapan, memangkas ukuran tempe hasil produksinya. Upaya tersebut dilakukan agar harga ke konsumen tidak naik. “Kalau saya naikkan harga jualnya, pembeli pasti berpikir ulang. Daripada konsumen berkurang, lebih baik harga tetap, tetapi ukuran tempe diperkecil,” kata salah satu perajin tempe di Somber Balikpapan Rukyat (44), Senin (21/5/2018).

Pelaku IKM yang belasan tahun memproduksi lauk kesukaan masyarakat tersebut mengatakan, sebungkus tempe hasil produksinya dihargai Rp2 ribu perbungkus untuk ukuran kecil dan Rp3.500 perbungkus ukuran besar. “Karena biaya produksi naik, untung kami jadi tipis. Karena itu saya kurangi kedelainya beberapa gram atau ukuran tempe berkurang satu senti,” tambahnya.

Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tempe sudah dirasakan Rukyat terjadi sejak dua minggu lalu. Biasanya, kedelai yang dibeli dari koperasi setempat hanya berharga Rp7.200 perkilogram. Namun saat ini harganya sudah menjadi Rp8 ribu perkilogram. Kenaikan harga dirasakan terjadi sejak nilai rupiah terhadap dolar melemah beberapa hari terakhir. “Karena kedelai yang kami pakai diimpor dari Amerika. Makanya saat dolar naik, harga kedelai ikut-ikutan naik,” tambahnya.

Ketergantungan pembuat tahu dan tempe di Balikpapan terhadap kedelai impor terjadi sejak lama. Hal itu dikarenakan belum mampunya Indonesia memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Perajin tahu tempe seperti Rukyat memerlukan sedikitnya 250 kg kedelai dalam sehari. Jumlah itu mampu menghasilkan 800 bungkus tempe berbagai ukuran dan 38 ember atau 7.200 potong tahu.

Sementara Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) yang menjadi pemasok tunggal para perajin tahu-tempe di wilayah tersebut hanya mampu memasok 12 kontainer atau 23 ton kedelain dalam sebulan. “Namun akhir-akhir ini kami hanya mampu menyediakan tujuh sampai delapan kontainer sebulan dengan harga di angka Rp8 ribu per satu kilogram,” kata Staf Administrasi Primkopti Balikpapan, Saidah.

Bagi perajin seperti Rukyat, kenaikan harga bahan baku membuatnya harus bisa memutar otak. Selain mengurangi bentuk tempe yang diproduksi, mereka harus kreatif dengan membuat produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Salah satunya dengan membuat kecambah. “Alhamdulillah, itu bisa menutupi kekurangan pendapatan produksi hingga berjualan dari tahu tempe,” kata pelaku IKM yang memiliki tujuh pekerja tersebut.

Dengan kondisi yang ada Rukyat hanya berharap pemerintah bisa menekan nilai tukar dolar, atau meningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan perajin tempe dan tahu.

Baca Juga
Lihat juga...