Dua Distributor Barang di Mataram Terancam Sanksi BPOM

Editor: Koko Triarko

236

MATARAM – Satukan penyimpanan barang berupa deterjen, sabun dengan produk makanan dan minuman, dua distributor barang di Kota Mataram terancam sanksi dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Mataram.

Kepala BPOM Mataram, Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih, mengatakan, temuan tersebut didapatkan setelah petugas gabungan BPOM Mataram bersama Dinas Perdagangan dan aparat kepolisian melakukan sidak ke dua distributor barang.

“Tadi hasil sidak, setelah melakukan pengecekan gudang penyimpanan barang dua distributor di Mataram, semua barang baik makanan, minuman dengan barang lain seperti deterjen dan sabun dicampur jadi satu”, kata Suarningsih, Selasa (22/5/2018).

Menurutnya, hal tersebut menyalahi aturan, karena akibat percampuran tersebut produk makanan lain bisa terkontaminasi produk kebutuhan rumah tangga seperti deterjen dan sabun, sehingga bau makanan juga bisa bau sabun.

“Maka, kami selalu menyarankan, makanan dengan produk lain dipisahkan”, katanya.

Temuan lain ada beberapa produk kedaluarsa sudah dipisahkan, tapi belum dimusnahkan, itu bisa jadi sarang tikus, sehingga BPOM meminta komitmen pemilik untuk segera memusnahkan produk barang kedaluarsa yang tidak bermanfaat, sehingga penataan barang jadi bagus, lingkungan bersih dan tidak terkontaminasi.

 

“Untuk pemusnahan dan penataan barang, BPOM memberikan waktu sebelum lebaran untuk perbaikan, kalau tidak akan diberikan sanksi keras sampai pencabutan SIUP”, katanya.

Sejauh ini, BPOM masih melakukan pembinaan. “Melindungi konsumen merupakan tanggung jawab bersama, jangan sampai masyarakat dirugikan dengan mendapatkan produk tidak layak, kadaluarsa dan terkontaminasi”, jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Putu Selly Andayani, menambahkan, salah satu tugas Disdag, BPOM dan Satgas Pangan adalah melindungi konsumen, terutama saat bulan puasa dan jelang lebaran.

Karena itu, untuk melakukan perlindungan, harus dimulai dari pengawasan dari hulu, yaitu distributor untuk dilakukan  pengawasan, pembinaan bahkan pembinaan.

“Penataannya harus bagus, biar layak, karena kita lihat tadi selain campur makanan dan sabun, juga ada bau kencing tikus, pengaturan sirkulasi udara di ruang penyimpanan barang juga tidak bagus, maka ruangannya jadi pengap”, kata Selly.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.