Dunia Serangga TMII Koleksi 415 Jenis Serangga

Editor: Koko Triarko

243

JAKARTA – Bangunan Dunia Serangga Taman Mini Indonesia Indah (TMII) didesain berbentuk tubuh belalang. Diorama seekor kumbang tanduk raksasa bertengger di halaman Dunia Serangga menyambut pengunjung.

Memasuki area Dunia Serangga tersaji mozaik kepala kumbang yang disusun dari puluhan kumbang berbagai jenis. Mozaik kepala kumbang ini dipamerkan dengan judul tajuk “Pesona Kumbang Nusantara”. Terdapat pula peta kupu-kupu Indonesia dengan dengan penanda jenis kupu-kupu yang disusun rapi memikat pengunjung.

Ide mendirikan Dunia Serangga ini  adalah prakarsa Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI). Pihak PKBSI menyampaikan ide ini kepada Ibu Tien Soeharto.

Kepala Seksi Umum Dunia Serangga TMII, Agus Hidayat. -Foto: Sri Sugiarti.

Gayung pun bersambut, Ibu Tien merestui dan mengizinkan pembangunan  Dunia Serangga di TMII menempati area seluas 500 meter persegi. Tepatnya di samping Dunia Air Tawar TMII.

“Dunia Serangga TMII didirikan atas restu Ibu Tien Soeharto. Dan, diresmikan pada 20 April 1993 oleh Presiden Soeharto, bertepatan dengan HUT ke 18 TMII,” kata Kepala Seksi Umum Dunia Serangga, Agus Hidayat, kepada Cendana News, ditemui di area Dunia Serangga, Kamis (17/5/2018).

Menurutnya, tujuan utama dibangunnya museum ini adalah untuk memperkenalkan keaneka ragaman khasanah serangga kepada masyarakat, agar peduli terhadap peran dan potensi alam.

Apalagi, di Indonesia ada 16-20 persen serangga hidup di Indonesia. Sehingga keanekaragaman hayati ini memerlukan upaya pelestarian dan pendataan jenis-jenis serangga.

Museum Dunia Serangga TMII hadir memberikan informasi serangga Indonesia melalui berbagai cara. Seperti diorama dan paparan kehidupan alam yang bermanfaat bagi kegiatan pendidikan dan penilitian bagi pelajar dan mahasiswa.

“Koleksinya ada  415 jenis serangga. Sekitar 250 jenis kupu-kupu dan 150 jenis kumbang. Sisanya kelompok serangga jenis lain, seperti capung, belalang, jangkrik, dan kerabat” ujar Agus.

Ke depan, tambah dia, akan ada penambahan koleksi serangga hidup dan awetan kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Seluruh koleksi serangga dipamerkan di kotak kaca. Yang paling mencuri perhatian pengunjung adalah koleksi kupu-kupu yang dipamerkan berdasarkan kategori. Seperti kupu-kupu Pulau Seram dari Maluku.

Terdapat pula ruang audio visual. Di ruang ini pengunjung dapat menyaksikan pemutaran film tentang kehidupan serangga dan penjelasannya.

Dunia Serangga TMII, Jakarta, Kamis (17/5/2018). -Foto: Sri Sugiarti.

Selain itu, kata Agus, pihak Dunia Serangga juga menyediakan layanan bimbingan berbagai hal mengenai serangga. Baik itu tentang pengawetan dan penangkaran yang juga ditunjang dengan adanya perpustakaan.

Pada 1998, jelas Agus, Dunia Serangga menambah wahana baru, yaitu Taman Kupu-kupu di atas lahan seluas 500 meter persegi yang dilengkapi kebun pakan, kandang penangkaran, dan laboratorium. Ini sebagai upaya untuk pelestarian jenis kupu-kupu dengan cara penangkaran, membuat awetan serangga, identifikasi dan tempat memelihara serangga hidup dan mati.

Di Taman Kupu-kupu ini terdapat 20 jenis tanaman bunga yang selalu dikunjungi serangga. Pada 2004, jelas Agus, pihaknya menambah wahana baru, yaitu Mini Zoo koleksi hewan hidup bon serangga. Seperti kijang, tupai, dan kancil.

Namun sayangnya,  kata Agus, dengan adanya pembangunan Museum Batik pada 2016, area Taman Kupu-Kupu dipindahkan ke bagian timur gedung Dunia Serangga.

“Kini, area Taman Kupu-Kupu kecil dibangun di atas lahan 8 x 15 meter persegi. Sedangkan mini zoo-nya ditiadakan,” ujarnya.

Sejak 2015, Dunia Air Tawar TMII dan Dunia Serangga TMII digabungkan.  Sehingga, kata Agus, pengungjung yang berkunjung ke Dunia Air Tawar bisa berlanjut ke Dunia Serangga dengan cukup membeli satu tiket masuk.

“Cukup bayar tiket Rp25.000, pengunjung bisa melihat keaneka ragaman ikan dan jenis serangga,” kata Agus.

Menurut Agus, hadirnya Dunia Serangga di TMII memberi warna tersendiri bagi pelestarian flora dan fauna Indonesia. Dunia Serangga ini memberikan wawasan dan edukasi kepada masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa.

Karena, kata Agus, tidak hanya seni budaya bangsa yang harus dilestarikan, tapi juga flora dan fauna Indonesia, masyarakat juga perlu mengetahuinya.

“Indonesia ini tidak cuma kaya seni budaya, tapi flora faunanya juga beragam,” imbuhnya.

Agus berharap, dengan berkunjung ke TMII  masyarakat bisa lebih mengenal Dunia Serangga. Dan, setiap hari tidak pernah sepi pengunjung. Senin hingga Jumat adalah kalangan pelajar mulai siswa TK, SD, SMP, SMA dan mahasiswa.

Mereka datang ke Dunia Serangga tak sekedar untuk wisata, tapi berdiskusi dan bahkan melakukan penelitian untuk tugas sekolah.

Sedangkan Sabtu-Minggu atau hari libur besar, ramai oleh pengunjung keluarga. “Dalam sebulan, lima ribu pengunjung lebih yang datang ke Danau Serangga,” ujarnya.

Namun demikian, pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan pengunjung dengan menggelar berbagai kegiatan di luar area TMII. Seperti seminar dan pameran di mal dan juga di sekolah-sekolah.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan agar Dunia Serangga TMII lebih dikenal lagi, sehingga diharapkan pengunjung akan terus meningkat.

“Dunia Serangga ini kan wahana edukasi, tentu untuk melestarikannya kita juga harus jemput bola pengunjung. Agar mereka peduli terhadap kekayaan habitat hayati,” tandasnya.

Sementara itu, Heni, warga Jatinegara, Jakarta Timur, mengaku kerap mengajak anaknya bernama Kirana yang duduk di kelas 3 SD berkunjung ke Dunia Serangga TMII.

“Saya ingin mengenalkan Kirana ragam flora dan fauna termasuk jenis serangga. Ya, biar dia mengenal lingkungan alam,” kata Heni.

Kirana pun mengaku senang bisa berkunjung ke wahana ini dan menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.

“Koleksi kupu-kupunya bagus banget. Apalagi yang di Taman Kupu-Kupu pada terbang,  nggemesin,” kata Kirana.

Dia mengaku, sebelum ke Dunia Serangga, terlebih dulu berkunjung ke Taman Burung dan Museum Komodo TMII.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.