Esensi Cinta dan Hakikat Dakwah Film ‘212: The Power of Love’

Editor: Koko Triarko

367
Adegan Film 212 The Power of Love. -(Foto: Dok. PH Warna Pictures/ Akhmad Sekhu

JAKARTA – Apa yang kita lakukan jika berbeda pandangan dan pemikiran dengan orang tua? Tentu, sebagai anak lebih baik mengalah untuk tidak mempertajam perbedaan.

Adat ketimuran kita mengajarkan untuk tetap menaruh hormat pada orang yang melahirkan dan membesarkan kita. Esensi hubungan anak dan orang tua tetap berlaku sampai kapan pun. Demikian yang mengemuka dari film ‘212: The Power of Love’, yang mengisahkan tentang esensi cinta hubungan anak dan orang tua dengan latar hakikat dakwah persatuan ukhuwah Islamiyah.

Kisahnya dimulai dari Rahmat (Fauzi Baadila), seorang wartawan majalah Republik, yang begitu sibuk kerja liputan. Tapi begitu mendengar kabar, bahwa ibunya meninggal dunia, serta-merta ia langsung memutuskan untuk pulang ke Ciamis, setelah 10 tahun belum pernah pulang, dan meski pulang ke Ciamis adalah hal yang sangat berat baginya. Sebab, ia berselisih dengan ayahnya, Kiai Zainal (Humaidi Abbas).

Tak hanya dengan Sang Ayah, Rahmat bahkan dikisahkan dalam film ini pada dasarnya berselisih dengan hampir semua orang. Di kantor, ia berselisih dengan Bosnya (Rony Dozer), juga dengan kawannya, Adhin (Adhin Abdul Hakim), fotografer yang eksentrik, berambut gondrong, dan bewokan.

Sosok Rahmat tipikal orang berperangai keras, tatapan matanya sinis dan berbagai atribut negatif disandangnya.

Beda dengan Adhin yang terkesan tipikal orang berperangai lembut, humoris, dan berbagai atribut positif. Terlepas dari perbedaan pandangan, keduanya tentu harus bersama, karena untuk liputan memang idealnya ada reporter dan fotografer.

Rahmat ditegur oleh Adhin lantaran isi artikel yang ditulisnya di majalah Republik tempatnya bekerja, dianggap telah menjelekkan citra Islam. Bosnya juga berpendapat demikian. Rahmat memang berpikiran liberal, anti-Islam, sosok yang tidak memahami niat suci para peserta Aksi 411 (aksi sebelum 212).

Rahmat protes dan kalau artikelnya tidak dimuat, ia akan mengundurkan diri. Karena ia yang dikenal sebagai jurnalis terbaik merasa bisa bekerja di mana saja.

Bosnya tak bisa berbuat apa-apa selain tetap memuat artikel Rahmat, meski kontroversial, yang tentu akan mengancam medianya dihujat masyarakat.

Di Ciamis, Rahmat bertemu dengan Yasna (Meyda Safira), muslimah cantik berhijab sekaligus teman masa kecilnya. Adik Yasna, seorang pemuda rohis (diperankan oleh Hamas Syahid), tak senang kakaknya didekati Rahmat, maka ia pun melabraknya karena ia telah membaca majalah Republik, di mana artikel yang ditulisnya telah menjelekkan citra Islam.

Di Ciamis, Rahmat bertemu kembali dengan Yasna, sahabat kecil yang diam-diam masih ia kagumi dan tampaknya ia benar-benar menaruh hati.

Adhin mengerti dan memahami kalau Rahmat memang benar-benar jatuh cinta, sehingga apa pun akan dilakukannya dan perangainya yang keras kini berangsur-angsur melunak, melembut.

Usai pemakaman ibunya, Rahmat bermaksud kembali ke Jakarta, namun ia mendapat kabar, bahwa ayahnya Kiai Zainal akan melakukan longmarch bersama para santri Ciamis untuk mengikuti aksi 2 Desember 2016. Sebagai anak, Rahmat tentu tidak tega melihat ayahnya harus berjalan kaki menempuh perjalanan jauh dari Ciamis ke Jakarta.

Hubungan Rahmat dan Kiai Zainal dikisahkan selama ini sangat tidak harmonis. Kiai Zainal menganggap Rahmat seorang pengecut yang tidak bertanggung jawab.

Rahmat berupaya menggagalkan niat ayahnya, karena khawatir aksi tersebut ditengarai akan ditunggangi elit-elit politik, sehingga akan memicu kerusuhan dan menimbulkan korban jiwa.

Film ini mengharukan. Esensi hubungan antara ayah dan anak yang dalam keadaan apa pun dan bagaimana pun tetap ada ikatan yang erat.

Meski berbeda pandangan dan pemikiran, tapi tetap secara emosional dalam batin terjalin erat. Sang Anak tentu tak dapat memungkiri kehadiran ayah yang membuat dirinya lahir dan hadir di dunia ini.

Sutradara Jastis Arimba mengemas konflik hubungan antara ayah dan anak dengan cukup baik. Penulisan skenarionya digarap bersama dengan Ali Eunoia menghadirkan perbedaan pandangan dan pemikiran antara ayah dan anak dengan cukup gamblang.

Rahmat yang lulusan kuliah di Negeri Barat tentu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pandangan dan pemikiran mengenai politik yang berbeda dengan ayahnya.

Ada keberanian yang patut diapresiasi dengan perbedaan dua pandangan dan pemikiran dari dua generasi antara ayah dan anak yang seperti menggedor-gedor kesadaran kita.

Zaman sekarang yang penuh keterbukaan memang memungkinkan hal itu terjadi. Meski kadang terkesan naif dan permisif, tapi itulah yang terjadi di masyarakat kita.

Perselisihan antara anak dan ayah ini mengingatkan kita pada film ‘Mencari Hilal’ karya sutradara Ismail Basbeth, premisnya juga mirip; seorang anak yang berselisih paham dengan ayahnya harus pulang ke rumah, lantas terjebak pada situasi yang mengharuskan keduanya untuk saling berinteraksi.

Akting Fauzi Baadila cukup baik, meski terkesan masih kurang maksimal. Fauzi tampak belum sepenuhnya melebur diri pada karakter Rahmat yang diperankannya. Bahkan sering terlihat dipaksakan. Meski demikian, ada kuasa keras dari Fauzi tampil sebaik mungkin.

Begitu juga dengan akting Humaidi Abbas sebagai Kiai Zainal, ayahnya Rahmat, yang bisa dikatakan cukup baik juga. Kehadirannya sebagai pendatang baru dalam dunia perfilman di usia tua mengingatkan kita pada sosok Ponco Sutiyem sebagai nenek dalam film ‘Ziarah’ karya BW Purba Negara.

Akting Adhin Abdul Hakim cenderung lebih baik sebagai pendatang baru yang patut diperhitungkan. Sosoknya yang eksentrik, berambut gondrong, dan bewokan memang beda daripada bintang-bintang film sebelumnya. Karakternya kuat yang dalam beberapa adegan mencoba memperkuat Rahmat.

Ada pun sosok-sosok seperti Hamas Syahid, Meyda Safira, Asma Nadia dengan penampilannya sebagai muslim dan muslimah memperkuat film religi ini.

Termasuk dengan para seleb yang menjadi cameo dalam film ini, seperti Arie Untung, Dimas Seto, Irfan Hakim, Tommy Kurniawan, Peggy Melati Sukma hingga Neno Warisman.

Menyaksikan film ini dengan latar peristiwa Aksi Damai 212, memang menggetarkan, dengan seruan-seruan ‘Allahu Akbar’. Begitu banyaknya umat tumpah ruah bersatu dalam kesatuan pesan dakwah ukhuwah Islamiyah.

Sebuah film memang tak hanya hiburan semata, tapi juga bisa untuk menyampaikan pesan dengan misi dakwahnya. Yang terpenting memang karya, bahwa mereka sudah berkarya dan sebuah karya yang sudah beredar di tengah masyarakat, biarkan masyarakat menilainya.

Baca Juga
Lihat juga...