Fenomena Baru Teror di Indonesia

Editor: Mahadeva WS

197
Ketua Presidium IPW, Neta S Pane. -Foto: Makmun Hidayat

JAKARTA – Pelibatan perempuan dan keluarga menjadi hal terbaru dalam aksi terorisme di Indonesia. Selain itu, dua fenomena baru lainnya adalah, nekat dan tidak lagi dilakukan oleh kalangan ekonomi lemah.

Empat fenomena aksi teroris tersebut menjadi catatan dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane setelah mengamati aksi teror di Surabaya beberapa hari terakhir. “Ini pertama kali satu keluarga terlibat dalam melakukan serangan teror bom bunuh diri. Dan, keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri makin masif,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (14/5/2018).

Melihat teror beruntun di Surabaya, Neta berharap jajaran kepolisian harus meningkatkan kecermatannya. Jika tidak bisa segera mengendalikan situasi, dikhawatirkan masyarakat akan semakin resah dan merasa tidak aman. “Bagaimana pun masyarakat butuh situasi aman saat melaksanakan ibadah Ramadan,” tandasnya.

Diharapkan, Polri dan kalangan intelijen bekerja super keras untuk menghentikan aksi teror yang terjadi di tengah masyarakat. Hal itu dibutuhkan agar tidak ada celah bagi aksi teror. Terutama menjelang sidang tuntutan terhadap tokoh teroris Aman Abdurrahman yang rencananya akan berlangsung Jumat pekan ini di Pengadilan Negeri Jakakarta Selatan.

“Aman adalah otak bom Thamrin. Ucapan dan perintah tokoh JAD ini sangat didengar dan diikuti para pengikutnya, termasuk melakukan aksi bom bunuh diri. Situasi ini perlu diantisipasi kepolisian. Pagar betis harus dilakukan agar pengikut Aman tidak punya celah untuk menebar teror balas dendam,” tutur Neta.

Aksi teror beruntun kali ini menunjukkan, program deradikalisasi yang digalang pemerintah gagal dan harus ada evaluasi. Dari pengamatannya, saat ini jaringan baru teroris bermunculan dan jaringan yang tertidur sudah terbangun lagi. “Sepertinya pemerintah perlu mengevaluasi banyak hal agar situasi keamanan di negeri ini kembali kondusif, terutama saat Ramadan, Idul Fitri dan pelaksanaan pilkada serentak,” tambahnya.

Data yang dihimpun Cendana News, satu keluarga menjadi pelaku bom bunuh diri di tiga gereja du Surabaya terdiri ayah, ibu, dan empat orang anaknya. Sementara pada kejadian bom yang tiba-tiba meledak di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Minggu (13/5/2018) pukul 22.00 WIB, ada enam pelaku yang merupakan satu keluarga. Kemudian dalam peristiwa yang terjadi Senin (14/5/2018) pagi di depan gerbang Mapolrestabes Surabaya, diketahui ada lima orang yang terlibat juga merupakan satu keluarga.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.