Festival Bebas Batas Menjadi Ruang bagi Disabilitas

Editor: Mahadeva WS

139

JAKARTA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Festival Bebas Batas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari usaha untuk memberi ruang bagi disabilitas.

Festival Bebas Batas yang dirancang untuk pertama kalinya tahun ini, menjadi festival bagi disabitas yang pertama. “Konsepnya memberi ruang untuk karya teman-teman disabilitas, terutama disabilitas mental disitu ada yang bipolar, autis, aspergers dan skizofrenia,“ kata Seniman Nawa Tunggal kepada Cendana News di halaman Galeri Nasional Indonesia, Senin (14/5/2018).

Lelaki kelahiran Yogyakarta, 28 Juni 1994 itu menyebut, Festival Bebas Batas memberi wadah untuk karya hasil dari aktifitas menggambar para difabel. Dengan festival tersebut, diharapkan pemahanan bahwa dalam seni rupa tidak ada batasan. Kegiatannya bisa dilakukan secara otodidak atau secara akademis. “Dan pelakunya, bisa orang yang mengalami kesempurnaan ataupun mereka yang memiliki gangguan di dalam fikirannya,“ bebernya.

Nawa menyebut, teman-teman yang punya gangguan mental selama ini dianggap memiliki kekurangan. Namun di festival tersebut, mereka punya kelebihan dengan membuat karya lukis yang berbeda dengan orang-orang akademis. “Festival Bebas Batas itu memberi ruang bagi teman-teman disabilitas,“ ungkapnya.

Peserta Festival Bebas Batas ditargetkan ada 60 orang dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Pelaksanaannya direncanakan Oktober mendatang, setelah Asian Paragames digelar. Direncanakan, karya gambar yang dipasang di tenda, tendanya nanti akan ditempatkan di ruang publik seperti di bandara pada Agustus 2018.

Keberadaan tenda sebagai media dalam festival tersebut menjadi simbol kedaruratan situasi disabilitas dan situasi kebhinekaan. Dengan demikian, festivalnya akan menjadi tenda disabilitas dan tenda kebhinekaan di Indonesia yang terpinggirkan.

Dengan Festival Bebas Batas, diharapkan kaum disabiltas bisa lebih bermartabat, bisa diterima di tengah masyarakat. Dan karyanya bisa diterima masyarakat. “Mereka melukisnya dengan sepenuh hati, “ tegasnya.

Dengan melukis, Nawa melihat ada efek terapetik bagi para disabilitas. Menggambar menjadi terapi, dan akhirnya para disabilitas berkarya terus-menerus sebagai upaya untuk menjaga kewarasan yang tersisa. “Dengan melukis, mereka menjaga kewarasan dan meningkatkan kewarasan sehingga tidak menjadi gangguan di sekelilingnya,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.