Film Lima, Representasi Lima Sila Pancasila

Editor: Satmoko

433

JAKARTA – Dalam satu keluarga tentu masing-masing anggota keluarga memiliki masalah sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka bergelut dengan permasalahannya, yang pada akhirnya semua kembali ke lima hal dasar yang menjadi akar kehidupan, yaitu: Tuhan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

Demikian yang mengemuka dari film ‘Lima’. Sebuah film yang merepresentasikan lima sila Pancasila.

Kisahnya dimulai dengan adegan Adi (Baskara Mahendra) yang mewarnai kuku Maryam (Tri Yudiman), ibunya. Hal itu dilakukannya dengan pelan-pelan agar cat pewarna tidak berceceran. Kemudian, datang pendeta yang mendoakan Maryam sebelum pulang dari rumah sakit. Maryam memuji doa tersebut menenteramkan dirinya, meski dirinya sudah tidak menganut agama Kristen, tapi sudah menjadi muslimah.

Pulang dari rumah sakit, Maryam yang meninggal dalam keadaan sebagai muslimah dikisahkan sebelumnya pernah memeluk agama Kristen. Dari ketiga anaknya, hanya Fara (Prisia Nasution), yang mengikuti jejaknya sebagai muslimah. Masalahnya, jenazah yang pernah murtad dan menjadi Islam itu ditolak disalatkan di sebuah masjid karena mazhab almarhumah berbeda dari mazhab masjid setempat.

Ada juga masalah Aryo (Yoga Pratama), anaknya yang Nasrani, sempat dilarang atau diharamkan turun ke liang lahat untuk sekadar turut menguburkan sang ibu yang muslimah. Meski sempat terjadi perdebatan tentang jenazah ibu mereka dari sudut pandang agama masing-masing, tapi kemudian berbagai polemik tersebut bisa diselesaikan dengan cara damai.

Masalah berkembang ke anak-anak Maryam. Mulai dari Adi yang kerap di-bully menyaksikan peristiwa yang tidak berperikemanusiaan. Ada seorang pencuri dihakimi massa. Adi berusaha membantu mencegah massa main hakim sendiri, walaupun untuk itu ia harus berhadapan dengan Dega, teman sekolah Adi yang kerap melakukan bully. Adi pun ketiban getah, ikut dihakimi massa.

Saat menghadapi petugas, Adi beberapa saat lamanya diam karena bingung mau bicara apa. Sang petugas mengingatkan, bahwa kalau tidak mengatakan fakta yang sebenarnya itu sama saja melindungi pelaku, bukan melindungi korban!

Lalu Fara menghadapi masalahnya sendiri sebagai pelatih renang: menentukan atlet yang dikirim ke pelatnas, tanpa unsur ras dalam penilaian. Ia menghadapi tantangan dari pemilik klub. Padahal para muridnya tak pernah mempermasalahkan warna kulit mereka.

Lantas Aryo, harus menjadi pemimpin dalam persoalan warisan. Hal itu dikarenakan notaris (Rangga Djoned) datang mendadak dan mereka tentu saja belum siap. Sempat terjadi ketegangan, Adi menganggap itu siasat Aryo yang baru saja kena PHK dan kemudian menjadi pengangguran sehingga membutuhkan banyak uang untuk buka usaha baru. Memang persoalan warisan sangat riskan sehingga cukup penting adanya poin kebijaksanaan dalam musyawarah.

Terakhir, Bi Ijah (Dewi Pakis), pembantu yang setia, terpaksa pulang kampung untuk menyelamatkan Agus (Aji Santosa) dan Noni (Eliza), kedua anaknya, yang didakwa mencuri beberapa batang kayu dari perusahaan besar. Ijah menuntut keadilan yang seringkali tak mampir ke orang kecil seperti dirinya.

Film ini menyadarkan kita dengan berbagai persoalan sosial dan keluarga yang mendasar dan biasa terjadi di Indonesia. Film ini pun digarap bersama lima sutradara, yaitu Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriyansyah, dan Adriyanto Dewo.

Mereka berlima merepresentasikan lima sila dalam Pancasila. Masing-masing menyutradarai satu babak, yang merepresentasikan setiap sila dalam Pancasila. Hebatnya, pergantian dari sila satu ke sila lainnya nyaris tak terasa, seperti lebur dalam satu kesatuan film yang utuh.

Skenario filmnya sendiri ditulis oleh Sinar Ayu Massie dan Titien Wattimena. Keduanya memang sangat berpengalaman dalam penulisan skenario. Terlebih, Sinar Ayu yang piawai menggarap skenario film mengenai kasus-kasus serius seperti korupsi, seperti di antaranya film Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014) dan Kita versus Korupsi (2012). Adapun Titien tentu kuat dalam cerita dramanya yang menyentuh.

Akting para pemain, mulai dari Prisia Nasution, Tri Yudiman, Baskara Mahendra, Yoga Pratama, Dewi Pakis, Rangga Djoned, Aji Santosa, dan lain-lainnya, begitu natural dalam menghidupkan peran mereka masing-masing dengan total.

Adegan memandikan jenazah digambarkan cukup mendetail yang tampaknya untuk lebih meyakinkan bahwa prosesi memandikan jenazah dalam agama Islam begitu runut, bersih dan mendetail sekali. Dalam hal ini, Fara, Bi Ijah, dan beberapa pemain perempuan yang memandikan jenazah Maryam.

Menonton film Lima, produksi Lola Amaria Production, kita dapat menyaksikan Indonesia dengan segala kompleksitas sosial permasalahan yang muncul di dalamnya.

Berbagai permasalahan sosial di tengah masyarakat yang kerap terjadi di Indonesia inilah yang digambarkan dalam film Lima dengan sangat baik. Sederhana tapi begitu mengena. Tentang Indonesia yang belum selesai dengan segala kompleksitasnya. Pancasila pun menjadi solusi di negara Bhinneka Tunggal Ika ini.

Baca Juga
Lihat juga...