Fredrich Yunadi Dituntut 12 Tahun Penjara

Editor: Mahadeva WS

254
Fredrich Yumadi usai menjalani persidangan di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta - Foto : Eko Sulestyono

JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut terdakwa Fredrich Yunadi 12 tahun penjara. Tak hanya itu saja, jaksa juga menuntut Fredrich membayar denda Rp600 juta subsider kurungan selama enam bulan.

Jaksa KPK meyakini Fredrich Yunadi terbukti dengan sengaja menghalangi atau merintangi proses penyidikan perkara oleh penyidik KPK. Dalam hal ini dalam perkara yang melibatkan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov). Fredrich saat itu diketahui merupakan pengacara sekakigus kuasa hukum Setnov.

“Menyatakan bahwa terdakwa Fredrich Yunadi telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah karena merintangi penyidikan dalam suatu kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor),” kata JPU KPK Kresno Anto Wibowo di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (31/5/2018).

JPU menyebut, Fredrich diduga telah membuat sebuah rencana atau skenario agar kliennya Setnov bisa menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS). Tujuan, Setnov bisa menghindari proses pemeriksaan oleh penyidik KPK dalam perkara dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Fredrich menghubungi seorang temannya yang bernama Bhimanesh Sutarjo yang diketahui sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Fredrich kemudian meminta kepada dokter Bhimanesh agar Setya Novanto menjalani perawatan di RS. Medika Permata Hijau, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Jaksa KPK menduga Fredrich dengan sengaja menyembunyikan Setnov karena akan ditangkap secara paksa oleh penyidik. Hal itu dikarenakan, Setnov selalu mangkir alias tidak menghiraukan panggilan pemeriksaan dari penyidik KPK. Setnov saat itu diketahui sedang berada di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Pada saat yang hampir bersamaan, Fredrich Yunadi kemudian menyuruh seorang anak buahnya bernama Rudiansyah mendatangi RS. Medika Permata Hijau untuk mengecek bagaimana kelengkapan atau  fasilitas yang ada, misalnya  seperti kamar pasien dan lain sebagainya.

Fredrich Yunadi diduga telah memerintah dokter Bhimanesh mengubah hasil diagnosis penyakit darah tinggi atau hipertensi menjadi sakit yang diakibatkan kecelakaan. Padahal kenyataannya Setya Novanto hanya menderita luka ringan pasca mengalami kecelakaan mobil di Kebayoran, Jakarta Selatan.

Baca Juga
Lihat juga...