banner lebaran

Guru Honorer ini Kenalkan Olahraga Karate di Penengahan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

285

LAMPUNG — Kecintaan dan keseriusan Khafid Ibrahim menekuni olahraga karate membuat  pria kelahiran 26 tahun lalu akhirnya sukses mewujudkan cita-cita, yakni mendirikan dojo untuk anak anak usia SD hingga SMA.

Keinginan mendirikan Dojo Anak Singkong sejak 2 Januari 2017 silam tersebut terwujud berbarengan dengan dirinya mulai mengabdi sebagai tenaga honorer bidang studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di sebuah sekolah dasar. Pemilihan nama diakuinya karena sebagian besar orangtua murid merupakan petani.

“Semangat anak petani yang selama ini hanya dianggap penuh kesederhanaan namun bisa kami buktikan melalui berbagai prestasi dalam beberapa kejuaraan tingkat kecamatan hingga nasional,” terang Khafid Ibrahim, pelatih utama karate di Dojo Anak Singkong saat ditemui Cendana News baru baru ini.

Pembagian waktu disebutnya dilakukan sebab selain sebagai pelatih di dojo Anak Singkong ia juga melatih ektrakurikuler karate di beberapa sekolah.

“Karena setiap sekolah sekaligus menjadi dojo maka saat ini saya melatih di sebanyak enam dojo dengan pembagian waktu yang saya atur dibantu oleh asisten pelatih yang berpengalaman,” cetus Khafid Ibrahim.

Semua dojo yang dilatihnya rata rata memiliki murid sekitar 30 orang. Semua menginduk pada Ranting Khusus (Ransus) Bakauheni yang merupakan bagian dari Perguruan Bandung Karate Club (BKC) Bakauheni.

Selain bertugas sebagai pelatih di dojo Anak Singkong, sebagai guru honorer di SDN Gedung Harta dan beberapa sekolah Khafid mengaku masih menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Metro memasuki semester empat.

Sebagai bentuk peran serta murid dojo Anak Singkong di kancah luar dojo, beberapa murid juga kerap membela sekolahnya dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan pertandingan lain.

Beberapa orang murid mendapat piala Bupati Cup di antaranya Ragil (13) dan Puan Intan (16) pada ajang O2SN dan sudah mencapai tingkat provinsi.

Selain itu Rizki Yulian Putrii (14) yang juga anggota BKC Ransus Bakauheni mengikuti ajang BKC Open Internasional Championship 2017 di Batam dengan medali emas dan Rani Oktasari (22) mengikuti Batam Inkado Open dengan medali emas.

“Selain menjadi kebanggaan atas prestasi bagi setiap dojo perolehan medali emas dalam kejuaraan menjadi bukti bahwa BKC Ransus Bakauheni sudah dikenal di kancah nasional dan internasional,” terang Khafid Ibrahim.

Dojo Anak Singkong diakui Khafid Ibrahim bahkan terakhir menyelenggarakan turnamen karate antar dojo dengan memperebutkan sebanyak 38 trophy. Sebanyak 125 karateka dengan pertandingan kelas kata hingga komite bahkan diikuti dari tingkat SD hingga SMA dan diselenggarakan pada (12/5) lalu.

Khafid Ibrahim
Khafid Ibrahim (tengah) pelatih utama cabang olahraga karate Bandung Karate Club ranting khusus Bakauheni [Foto: Ist/Henk Widi]
Mengajar karate di dojo Anak Singkong, beberapa kendala disebutnya selain keterbatasan sarana dan prasarana juga butuh dedikasi yang tinggi.

Beberapa peralatan seperti body protector (pelindung badan), hand pro (pelindung tangan), decker (pelindung tulang kaki), sepatu khusus dan matras disediakan secara bertahap.

“Beruntung beberapa peralatan dibantu oleh beberapa sponsor dan dari pegiat literasi Sugeng Hariyono,” sebutnya.

Ia juga menyebut pasang surut siswa yang berlatih ditunjukkan dengan ada siswa yang mundur dan tidak ikut latihan lagi.

Khusus untuk ekstrakurikuler di setiap sekolah ia menyebut dibayar Rp200.000 per bulan sementara untuk di dojo Anak Singkong hanya iuran Rp20.000 per bulan setiap anak. Uang tersebut diakui Khafid dipergunakan untuk penyediaan sarana sekaligus transportasi pelatih.

Menularkan ilmu dengan dedikasi penuh diakui Khafid juga butuh perjuangan. Ia kerap terkendala kurangnya pemahaman orangtua dalam melihat olahraga karate yang baik untuk anak.

Karate disebutnya bukan sekedar bela diri melainkan cara untuk menata diri, mengendalikan emosi, membantu pertumbuhan anak pada masa pertumbuhan. Selain orangtua beberapa sekolah masih enggan menjadikan sekolah sebagai ekstrakurikuler meski karate menjadi satu cabang olahraga pada pelaksanaan O2SN.

Berbagai kendala tersebut diakuinya dijalani dengan semangat untuk membentuk siswa berprestasi terutama dalam karate di Dojo Anak Singkong.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.