Guru SMA-SMK di Flores-Lembata Ikuti Edukasi Keuangan

Editor: Koko Triarko

263
MAUMERE – Para guru sebagai agen pendidikan, harus menjadi orang terdepan untuk membantu dalam kaitan edukasi dan literasi keuangan berbasis inklusif, sehingga bisa memberikan pemahaman kepada para murid dan masyarakat di tempat tinggalnya.
“Sosialisasi dan edukasi keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan kepada para guru, sangat penting, agar masyarakat memahami tentang lembaga keuangan, agar tidak terjebak dalam lembaga keuangan dan lembaga investasi yang tidak terdaftar atau illegal,” ungkap Drs. Paolus Nong Susar, Plt. Bupati Sikka, Kamis (24/5/2018).
Plt. Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar. -Foto: Ebed de Rosary
Dalam kegiatan sosialisasi sinergi edukasi OJK dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan bagi guru SMA dan SMK se-daratan Flores-Lembata, Nong Susar menyampaikan terima kasih kepada lembaga OJK atas inisiatifnya memberikan pemahaman kepada masyarakat di Flores terkait investasi keuangan.
“Di Flores memang OJK tidak masuk langsung kepada lembaga keuangan perkoperasian, tetapi untuk Flores dan NTT, omzet terbesar keuangan di koperasi sudah melebihi omzet daerah NTT,” ungkapnya.
Namun, lanjut Nong Susar, di sisi lain ada sekelompok pihak yang sudah menggunakan spirit keuangan lewat koperasi maupun lembaga-lembaga keuangan di pemerintah, untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga, membuat masyarakat mudah tergiur menanamkan modalnya.
“Kultur kita ingin cepat kaya dengan usaha yang begitu singkat, dan kita masih berada pada suatu kesadaran yang kita sebut magis atau naif itu. Ini yang membuat masyarakat sering terjebak dalam investasi bodong atau ilegal,” tegasnya.
Hadirnya OJK, tandas Nong Susar, memberikan pemahaman kepada masyarakat, agar lepas dari permainan sekelompok pihak yang mengajak kerja sama, dan membuat seseorang lupa, bahwa telah tereksploitasi dan terjebak dalam investasi ilegal yang menawarkan keuntungan berlipat ganda.
“Uang yang  dikasih untuk membeli buku jangan sampai dipakai untuk membeli telepon genggam, sehingga sekarang harus diiventarisir, mana yang menjadi kebutuhan utama dan mana yang karena keinginan untuk bersaing. Pada situasi ini, kita berada pada posisi yang transisional, dan tidak salah presiden kita mengagas program revolusi mental,” ungkapnya.
Revolusi mental, menurutnya, tidak hanya berbicara spiritualitas yang tidak kelihatan, tetapi bagaimana keuangan di lingkungan kelembagaan masing-masing, khususnya di sekolah dan para pelajar mulai mengerti manfaat dari uang itu sendiri.
“Uang harus menjadi media menuju pemberdayaan, kemandirian dan kesejahteraan atau uang hanya sebagai  sarana kita hidup bersenang-senang, ini yang harus mulai dipikirkan oleh masyarakat, terutama para guru yang merupakan orang terdidik,” sebutnya.
Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK, Sondag Martha Samosir, menyampaikan sesuai amanat Undang-Undang RI nomor 21 tahun 2011 tentang otoritas jasa keuangan, pasal 28 huruf A, disebutkan OJK berwenang memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat atas karakteristik sektor jasa keuangan layanan dan produknya, serta mengimplementasikan.
Peraturan Presiden Republik Indonesia  nomor 82 tahun 2016 tentang strategi nasional keuangan inklusif, atau yang sering kita dengar SNKI, terang Martha, pada pilar pertama edukasi keuangan sehingga dengan ini kami bersinergi dengan Kemendikbud melakukan sinergi kegiatan keuangan OJK bagi bapak ibu guru SMA dan SMK di wilayah Flores.
“Kegiatan sinergi keuangan edukasi OJK ini merupakan bagian dari program literasi dan edukasi keuangan, yang bertujuan untuk memperkenalkan material buku manual  otoritas jasa keuangan dan industri jasa keuangan tingkat SMA, agar materi tersebut dapat disampaikan kepada siswa-siswi dan guru,” paparnya.
Dengan demikian, lanjut Martha, dapat terjalin multiplayer effect  yang lebih luas, kemudian juga untuk menyiapkan sumber daya manusia pelaksana edukasi keuangan pada jenjang pendidikan formal tingkat SMA dan SMK.
Buku mengenal otoritas jasa keuangan dan industri jasa keuangan tingkat SMA memuat materi mengenai OJK.
“Buku ini juga memuat  berbagai industri jasa keuangan yang berada di bawah pengawasan OJK, mulai dari perbankan, pasar modal, perasuransian, lembaga pembiayaan, dana pensiun, pegadaian hingga industri jasa keuangan syariah,” bebernya.
Pada Senin 21 Mei 2018, ucap Martha, sudah diluncurkan materi literasi keuangan dalam format module learning bagi SD dan SMP yang terdiri dari materi ajar dan modul  permainan, karena anak- anak SD maupun SMP itu masih lebih masuk materi-materinya bila disampaikan dalam bentuk permainan.
“Saya berharap, ke depan modul-modul pembelajaran  ini juga nanti bisa dilakukan untuk level SMA dan SMK, yang nantinya bisa bekerja sama dengan para guru, sehingga kami dapat masukan untuk memperkaya materi-materi yang sudah ada,” ujarnya.
Selain melakukan kegiatan sinergi edukasi bagi guru tingak SMA dan SMK, tambah Martha, OJK juga melakukan sosialisasi kepada para dosen di perguruan tinggi.
Sesuai dengan SNKI, katanya, maka cakupan dari edukasi ini termasuk ibu-ibu rumah tangga, disabilitas, pulau-pulau terluar dan ini juga mereka harus tahu juga tentang ekonomi.
Hadir dalam kesempatan itu, Deputi Divisi Literasi Inf OJK-Greta Joice Siahaan, Asisten Vice President DPLK Mandiri- Liza Sulistiana, Pimpinan Bank NTT cabang Sikka-Boy Bogar dan para guru peserta sosialisasi se-Flores Lembata.
Baca Juga
Lihat juga...