Harga Daging Ayam Ras Picu Kenaikan Inflasi di Balikpapan

Editor: Koko Triarko

250
Manajer Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveillans Kpw Bank Indonesia Balikpapan, Nyi Mas Mirnayanti Jayasari. –Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN – Kenaikan harga daging ayam menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Merujuk data yang dikeluarkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia setempat, harga daging ayam, telur dan sayuran, mendongkrak inflasi.
“Bulan lalu inflasi hanya 0,30 persen, namun seiring dengan kenaikan konsumsi daging ayam, telur dan sayuran, bulan ini kami prediksi akan lebih tinggi dengan rentang 0,40 sampai 0,60 persen,” ungkap Manajer Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveillans Kpw Bank Indonesia Balikpapan, Nyi Mas Mirnayanti Jayasari, Selasa (29/5/2018).
“Selain tingginya permintaan, komoditas seperti daging ayam ras mengalami kekurangan stok di pasaran. Namun, TPID berupaya memastikan stok mencukupi dengan cara operasi pasar,” ucap Nyi Mas Mirnayanti, meyakinkan.
Untuk menekan gejolak harga daging ayam ras, pemerintah telah mengupayakan penambahan pasokan daging ayam beku. Sehingga bisa menjadi alternatif, ketika daging ayam ras segar kembali mengalami kenaikan harga.
Nyi Mas mengatakan, daging ayam beku dengan HET Rp32 ribu disediakan di ritel modern. Harapannya bisa menekan lonjakan harga daging ayam ras di pasaran yang saat ini harganya kurang bisa ditebak, karena dijual per ekor, bukan kiloan,” kata dia.
Sementara, Badan Urusan Logistik (Bulog) juga menyisir harga dengan operasi pasar yang menjual harga beras medium sesuai HET Rp9.450 di gerai Rumah Pangan Kita atau RPK. Sedangkan Dinas Perdagangan menggelar Pasar Murah atau Bazar Ramadan sejak 22 Mei sampai 6 Juni, mendatang.
“Kami juga terus turun ke pasar untuk memastikan tidak terjadi penimbunan bahan pokok oleh oknum, yang berdampak kepada kenaikan harga secara tidak wajar, hingga berkali-kali lipat dari harga awalnya,” lanjutnya.
Selain itu, para distributor juga dimintai komitmennya dalam penandatanganan pakta integritas untuk menjaga kewajaran harga.
“Mungkin beberapa komoditas telah naik harganya, namun itu masih dalam kewajaran, karena pasokan cukup,” ujar perempuan yang akrab disapa Mirna.
Berdasarkan data yang dimiliki BI pada Ramadan 2017, inflasi lebih rendah 1,41 persen ketimbang saat menjelang Ramadan dan Idul Fitri sepanjang lima tahun terakhir ini, yang mencapai 1,73 persen.
Selain itu, seruan bijak berbelanja terus digaungkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia dan bazar ramadan yang dilaksanakan juga salah satu upaya mengendalikan inflasi.
“Seruan bijak berbelanja juga terus disosialisasikan, agar dalam berbelanja tidak berlebihan,” tambah Mirna.
Baca Juga
Lihat juga...