Hari Buku Nasional, Gauli Buku Terbitlah Cakrawala

OLEH MAKMUN HIDAYAT

166
Makmun Hidayat - Foto: Ist

DI MANA ada buku di situ ada pencerahan. Ketidaktahuan akan lenyap seketika karena otak menerima informasi maha penting dari sebuah buku. Buku adalah jendela informasi yang mampu membuka cakrawala.

Begitulah kekuatan buku. Bahkan buku juga menjadi petanda sebuah peradaban kemajuan sebuah bangsa, juga sebagai jembatan penghubung antarmasa dan generasi.

Karena kekuatannya itulah, terkadang buku bernasib sial. Dilarang beredar karena dinilai “bermasalah”. Buku-buku yang tersimpan rapi di perpustakaan pun menjadi sasaran empuk untuk dimusnahkan dalam suasana perang.

Di zaman kini atau now, buku-buku dengan mudahnya dijumpai di perpustakaan-perpustakaan atau di toko-toko buku. Tetapi jika tidak disentuh apalagi dibaca, maka alamat! Tanpa membaca buku tentu akan susah untuk benar-benar menjadi melek.

Bagaimana mau menganyam peradaban masa kini, sementara untuk sekadar membaca dan mendiskusikannya sejenak dalam alam pikir tak ada waktu? Bagaimana mau merekayasa masa depan, sementara masih terpenjara dalam “kebuta-hurufan”?

Dalam sejarahnya, sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai sebuah negara, kearifan budaya bangsa di masa silam yang terdiri dari beragam suku bangsa informasinya terlacak dalam naskah-naskah kuno yang tertulis dalam berbagai media seperti daun lontar, kulit kayu, bilahan bambu atau rotan, prasasti, dan lain-lain. Kertas berjilid-jilid masih tergolong langka.

Orang-orang terdahulu membuat peradaban pada masanya, dan mengkoneksikannya dengan masa depan agar sejarah tidak terputus dan dilupakan oleh penerusnya. Jadi, untuk mendapatkan informasi melalui media buku pada saat itu tidak semudah seperti saat ini.

Kini, buku dapat diakses dengan mudah. Tinggal bagaimana membaca buku itu menjadi sebuah kebutuhan, bukan lagi merasa wajib baca karena kita disemati sebagai anak sekolahan atau anak kuliahan, misalnya.

Di sinilah kemudian, semangat membaca dan membudayakan diri dan masyarakat untuk gemar membaca menjadi sangat penting. Apalagi hasil survei tentang minat baca, Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara lainnya. Maka penumbuhan budaya literasi nasional, bukan semata menjadi tanggung jawab para pemangku kepentingan melainkan menjadi tangggung jawab kita bersama.

Setidaknya, itu dapat dimulai dari diri sendiri dengan memunculkan minat baca yang tinggi. Otak pun menjadi isi, dan terasah. Letak otak yang berada di bagian organ kepala atau orang Jawa bilang sirah, maka sirah harus terisi dan terasah, antara lain dengan membaca.

Sir Charles Sherrington mengatakan otak manusia adalah sesuatu yang tampak mempesona dengan jutaaan kumparan yang berkelip membentuk pola tertentu, suatu pola yang penuh arti dan tak kunjung diam, yang terdiri atas perubahan yang harmoni dari pola-pola yang lebih kecil. Itu seperti Galaksi Bimasakti memasuki suatu kosmik yang berdansa.

Sekaitan dengan penumbuhan budaya membaca, Ari Ginanjar Agustian dalam bukunya Emotional Spiritual Quotient (ESQ) mengatakan membaca adalah awal mula suatu ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keberhasilan manusia. Dia menjelaskan, bahwa perintah untuk “membaca” adalah langsung diturunkan oleh Tuhan.

Quraish Shihab sebagaimana dikutip Ari Ginanjar menjelaskan, ketika diturunkan wahyu Tuhan untuk pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata: “Iqra (bacalah)”. “Ma aqra (tetapi apa yang harus dibaca?)”, pertanyaan Nabi tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Lalu bagaimana mendorong bangsa ini memiliki kebiasaan gemar membaca? Kita bisa melihat Jepang. Bukan hanya mengirim kaum muda ke berbagai negara di kawasan Eropa dan Amerika secara besar-besaran untuk belajar dalam mengejar ketertinggalannya, tetapi semua buku-buku Barat juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang sehingga memudahkan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dunia barat.

Buku-buku di Jepang juga dijual dengan harga sangat murah. Dorongan ini telah membuat bangsa Jepang memiliki kebiasaan gemar membaca. Hal itu bisa dilihat di mana-mana di Jepang, baik di kereta api, di dalam bus-bus, di stasiun-stasiun, atau di mana saja, hampir semua membaca.

Sebagai bagian dari ikhtiar membiasakan kegemaran masyarakat untuk membaca buku, di Tanah Air Indonesia setiap tanggal 17 di bulan Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Di tengah ketersediaan jumlah perpustakaan di Indonesia yang relatif banyak dan mumpuni, Hari Buku Nasional menjadi momentum untuk kembali menyayangi buku dan membacanya.

Penetapan tanggal tersebut dipilih sebagai Hari Buku Nasional berdasarkan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980. Penggagasnya adalah Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong saat itu, Abdul Malik Fadjar, di tahun 2002 lalu.

Penetapan Hari Buku Nasional bukan tanpa alasan. Tujuan adalah untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat Indonesia. Selain itu, diharapkan dapat melestarikan budaya membaca buku sekaligus menaikkan penjualan buku.

Berbagai upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia harus terus dilakukan tanpa lelah. Pasalnya, minat dan kebiasaan membaca di Indonesia masih tergolong rendah. Upaya pemerintah dengan menggratiskan pengiriman buku tiap tanggal 17 setiap bulannya, misalnya, harus dimanfaatkan dengan baik.

Pengiriman buku gratis tersebut dilakukan untuk memperkuat minat baca anak-anak Indonesia, dengan harapan warga yang tinggal di berbagai pelosok di Tanah Air juga dapat menikmati buku gratis. Selain itu, juga sebagai upaya solutif untuk mengatasi mahalnya ongkos pengiriman buku ke daerah di luar Jawa.

Adanya upaya pengiriman buku gratis ke seluruh Tanah Air dengan melibatkan PT Pos Indonesia tersebut, setidaknya juga sekaligus dapat menjadi problem solver atas rendahnya minat baca atau literasi di Indonesia yang disebabkan oleh keterbatasan akses pada buku karena banyak daerah tak memiliki perpustakaan dan toko buku.

Untuk mempertemukan buku dengan masyarakat, sebenarnya juga tidak selalu dengan menghadirkan buku dalam bentuk cetak. Bagi masyarakat pengguna aktif internet, juga dapat memanfaatkan platform online yang tersedia untuk membaca buku-buku secara digital.

Perayaan Hari Buku Nasional memang tidak sebesar dan semeriah peringatan hari besar lainnya, namun jauh lebih penting dari sekadar merayakan adalah bagaimana kita memaknai upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Diperingati sejak 2002, Hari Buku Nasional menjadi pengingat bahwa membaca buku tak kalah pentingnya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap buku, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap individu. Kendati begitu, peringatan Hari Buku Nasional diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya buku. Selamat Hari Buku Nasional 2018, yuk kita gauli buku. ***

Penulis adalah jurnalis Cendana News

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.