Hindari Larangan, Truk Ekpedisi Percepat Pengiriman Barang

Editor: Mahadeva WS

438

LAMPUNG – Sejumlah perusahaan ekspedisi pengangkutan barang dari Sumatera menuju ke Jawa mempercepat kegiatan pengiriman barang. Percepatan dilakukan sebelum truk ukuran besar dilarang atau dibatasi melintas di jalan raya selama masa mudik dan balik lebaran 2018.

Salah satu pengurus Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Hendra (30) menyebut, 50 kendaraan truk ekspedisi sudah melintas sebelum akhir Mei. Kondisi tersebut mempertimbangkan pembatasan truk dimulai 12 Juni 2018.

Sejumlah armada pengangkut barang non sembako yang menggunakan jasa penyeberangan sudah melintas sebelum Juni. Beruntung pembatasan tersebut tidak berlaku untuk truk yang mengangkut bahan bakar minyak (BBM) dan sembako. Dari 50 kendaraan ekspedisi yang dikelolanya, sebagian besar merupakan kendaraan pengangkut sembako.

“Kita lakukan pengiriman lebih awal agar saat beroperasi tidak bertepatan dengan saat pembatasan truk beroperasi dan larangan menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni terutama truk yang non sembako,” terang Hendra saat ditemui Cendana News, Kamis (31/5/2018).

Selain melalui pelabuhan Bakauheni yang dioperasikan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, truk ekspedisi juga melewati pelabuhan Bandar Bakau Jaya. Meski truk tidak diperbolehkan beroperasi di jalan nasional, dipastikannya, truk masih bisa dipergunakan untuk mengangkut barang di jalan kabupaten. Larangan kendaraan melintas di jalan nasional dan menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni hanya akan berlangsung selama sepekan.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Qodratul Ikhwan (kiri) dan General Manager PT.ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Anton Murdianto (kanan) saat meninjau terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Qodratul Ikhwan menyebut, pemberlakuan larangan truk melintas di jalan nasional mengikuti aturan dari pusat.  Pelarangan mengacu Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No.34/2018 tentang Pengaturan Lalu Lintas pada masa Angkutan Lebaran Tahun 2018.

Aturan tersebut membatasi operasional truk barang di jalan tol dan jalan nasional mulai 12-14 Juni 2018 dan 22-24 Juni 2018. Salah satu aturan tersebut diantaranya truk dengan berat minimal 14 ton dilarang melintas di jalan nasional. Meski demikian ada dispensasi bagi sejumlah kendaraan meski bertonase di atas 14 ton diantaranya kendaraan pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM), pengangkut ternak, air, sembako dan keperluan pos.

Sosialisasi disebutnya sudah dilakukan kepada sejumlah serikat buruh, pelaku jasa ekspedisi dan PT. ASDP Indonesia Ferry selaku penyedia jasa pelayaran. “Sosialisasi telah kita lakukan dan saya rasa sejumlah pengusaha ekspedisi sudah mengetahui karena larangan ini selalu berlaku setiap tahun pada angkutan lebaran,” beber Qodratul Ikhwan.

General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Anton Murdianto menyebut, pemberlakuan Permenhub No.34/2018 akan membantu kelancaran arus mudik dan balik. Jasa pelayaran pada masa angkutan lebaran akan diprioritaskan untuk mengangkut penumpang. Meski ikut mempengaruhi pendapatan dari sektor jasa penyeberangan, pelayanan kemanusiaan dan sosial pada angkutan lebaran lebih diutamakan.

“Kendaraan truk ekspedisi dari pulau Sumatera menuju ke Pulau Jawa memang sudah meningkat selama Ramadan terutama sebelum lebaran,” ujar Anton.

Kenaikan jumlah truk yang menyeberang dari Jawa dan Sumatera dipengaruhi tingginya faktor permintaan barang kebutuhan. Sejumlah truk ekspedisi yang melintasi pelabuhan Bakauheni menghindari pemberlakuan larangan truk bertonase 14 ton melintas di jalan nasional. Selain berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan pemberlakuan larangan tersebut juga akan melibatkan pihak kepolisian.

Baca Juga
Lihat juga...