Hujan Tinggi, Pertumbuhan Jagung Petani Penengahan Terhambat

Editor: Satmoko

311

LAMPUNG – Budidaya tanaman jagung di wilayah kecamatan Penengahan kabupaten Lampung Selatan mengalami hambatan akibat curah hujan tinggi selama beberapa pekan terakhir.

Aliman (40) salah satu petani jagung di desa Ruang Tengah kecamatan Penengahan menyebut, sebagian tanaman jagung tidak tumbuh karena lahan tergenang air (bacek).

Imbasnya Aliman bahkan harus membuat parit-parit kecil mengalirkan air yang menggenang di area tanaman jagung varietas hibrida tersebut.

Pada masa tanam yang dimulai bulan April ia menyebut, menanam sekitar dua kampil atau sebanyak 10 kilogram benih jagung pada lahan seluas setengah hektar. Total lahan yang ditanam sebanyak 12 hektar, tersebar di dua desa diantaranya desa Pasuruan dan desa Ruang Tengah.

Meski demikian ia menyebut tanaman jagung di wilayah desa Pasuruan yang sudah berusia dua bulan mengalami pertumbuhan yang kurang maksimal.

“Faktor intensitas hujan tinggi membuat tanaman jagung menjadi busuk dan sebagian yang sudah tumbuh kerdil karena tanah yang kerap tergenang air,” terang Aliman salah satu petani jagung di kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Sabtu (19/5/2018).

Curah hujan tinggi berimbas sebagian tanaman jagung tidak tumbuh sehingga terpaksa dilakukan proses penyulaman dengan benih baru [Foto: Henk Widi]
Aliman bahkan menyebut, pada ukuran normal tanaman jagung usia 30 hari semestinya sudah berukuran lebih tinggi dari orang dewasa. Namun saat ini tanaman jagung yang ditanamnya sebagian tumbuh hanya sedada orang dewasa. Bahkan di beberapa petak ia terpaksa melakukan proses penyulaman dengan benih baru akibat tidak tumbuh.

Normalnya, ia menyebut, tanaman jagung akan tumbuh dengan sempurna dalam kondisi curah hujan minimal sepekan sekali.

“Beberapa pekan sebelumnya bahkan lahan sempat tergenang oleh banjir berimbas tanaman membusuk,” papar Aliman.

Lahan penanaman jagung dengan kadar air yang tinggi akan berimbas produktivitas tanaman menurun. Sebab pada penanaman musim sebelumnya pada lahan seluas satu hektar dengan penanganan yang baik meliputi pupuk, penanganan hama, ia bisa memanen sekitar 4 ton jagung kering panen.

Dengan harga jagung pitilan berkisar Rp3.000 per kilogram ia memperoleh hasil Rp12 juta per hektar atau Rp144 juta untuk seluas 12 hektar.

Kondisi tanaman jagung di lahan yang digarap justru berada di lahan yang berada di perbukitan kaki Gunung Rajabasa. Lahan penanaman jagung yang memiliki kontur tidak terkena genangan air langsung  justru menghasilkan panen yang lebih baik.

Jika curah hujan tidak berangsur berkurang selain menghambat pertumbuhan tanaman ia memastikan proses pembungaan pada tanaman jagung selama musim hujan akan terhambat.

“Masa pembungaan yang bertepatan dengan musim hujan akan berimbas pada terhambatnya penyerbukan dan menurunkan produksi jagung,” paparnya.

Selain terhambat oleh kondisi cuaca curah hujan yang tinggi, saat ini penanaman jagung terhambat oleh kebutuhan pupuk bersubsidi. Pupuk bersubsidi untuk penanaman jagung diakuinya meliputi jenis NPK, Urea dan SP-36 dengan kebutuhan per hektar mencapai 4 ton dan harus ditebus melalui kelompok tani (Poktan).

Penebusan dengan sistem billing  selain diberi kuota membuat sebagian lahan yang dimiliki dipupuk dengan pasokan pupuk non-subsidi. Harga pupuk subsidi untuk tiga jenis dibeli mulai dari harga Rp115.000 hingga Rp130.000 per sak (isi 50 kilogram).

Penggunaan pupuk non-subsidi dengan selisih harga berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000 per sak harus tetap dipenuhi. Sebab tanaman jagung miliknya tetap harus mendapatkan pasokan pupuk untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

Selain pupuk non-subsidi jenis NPK, SP-36 dan Urea, ia bahkan terpaksa mempergunakan nutrisi organik cair untuk perangsang pertumbuhan.

“Harapan kami dengan menggunakan pupuk tambahan meski lebih mahal hasilnya bisa maksimal dan curah hujan berkurang,” cetus Aliman.

Curah hujan tinggi dalam beberapa pekan bagi tanaman jagung berimbas pada tumbuhnya gulma pengganggu. Jenis rumput sidat gangsir dan rumput pengganggu lain terpaksa disemprot dengan menggunakan herbisida.

Proses pemupukan dan penyemprotan yang tertunda membuat pertumbuhan gulma semakin meningkat akibat curah hujan tinggi. Selain pencabutan rumput secara manual penggunaan herbisida terus dilakukan mengurangi terhambatnya pertumbuhan tanaman jagung miliknya.

Baca Juga
Lihat juga...