ICCTF: Unej Sukses Laksanakan Program Mitigasi Bencana

178
Universitas Jember

JEMBER — Pimpinan proyek Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Sudaryanto menilai Universitas Jember (Unej) di Jember, Jawa Timur sukses melaksanakan program mitigasi bencana berbasis lahan, dengan berbagai indikator keberhasilan.

“Kami menilai program mitigasi bencana berbasis lahan yang diselenggarakan oleh Unej dengan dukungan dana dari ICCTF telah berhasil, bahkan melampaui target yang ditetapkan,” katanya dalam kegiatan ekspose program tersebut di Gedung Soetardjo Unej di Jember, Selasa (15/5).

Program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang didukung oleh ICCTF, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID, serta Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilaksanakan sejak Februari 2017 hingga Juni 2018.

“Kesuksesan itu di antaranya terlihat dari keberhasilan penanaman 91 ribu bibit tanaman durian, langsep, kemiri, dan pakem dari target yang awalnya hanya 82 ribu bibit tanaman,” tuturnya.

Penyerapan karbon yang ditarget 1,135 ton/hari, naik menjadi 1,913 ton/hari, bahkan tim ICCTF Indonesia yang dipimpin langsung oleh Sudaryanto mengunjungi kawasan rehabilitasi di TNMB dan Desa Wonoasri, Tempurejo yang merupakan desa penyangga TNMB pada Senin (14/5).

Ia berharap keberhasilan Unej menjalankan program selama tujuh belas bulan itu akan direplikasi pihak-pihak terkait seperti Pemkab Jember, agar tujuan penurunan emisi rumah kaca sebagai bagian dari penanggulangan efek perubahan iklim dapat tercapai.

ICCTF sendiri adalah lembaga wali amanah yang mengelola dana internasional yang digunakan untuk menanggulangi efek perubahan iklim termasuk di dalamnya pengurangan emisi rumah kaca di Indonesia. Untuk diketahui, Indonesia telah bertekad untuk mengurangi emisi rumah kaca mencapai 41 persen hingga tahun 2030.

“Ada tiga program utama yang kami jalankan, mitigasi berbasis lahan seperti yang dijalankan oleh Unej, bidang energi, serta bidang adaptasi dan ketangguhan. Hingga saat ini ICCTF telah berkerjasama dengan 15 perguruan tinggi di Indonesia termasuk Unej, sehingga tantangan berikutnya adalah mempertahankan dan mengembangkan prestasi yang sudah diraih,” katanya.

Salah seorang peneliti yang menjalan program mitigasi bencana berbasis lahan Hari Sulistyowati mengatakan ada empat program yang dijalankan yakni produktivitas kawasan rehabilitasi, nilai ekologi kawasan rehabilitasi, peningkatan kualitas tanah, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

“Selain melaksanakan penanaman bibit tanaman di kawasan rehabilitasi di dalam kawasan TNMB, kami juga memberikan berbagai keterampilan bagi warga Desa Wonoasri seperti budidaya semut angkrang, pembuatan silase, pembuatan batik dengan pewarna alami dan keterampilan lainnya, agar mereka tidak lagi merambah kawasan hutan TNMB,” katanya.

Sementara Kepala TNMB Kholid Indarto mengatakan laju kerusakan di TNMB saat ini berkisar 50 hektare per tahunnya dan fakta itu harus ditanggulangi, agar fungsi TNMB sebagai paru-paru wilayah dan daerah tangkapan air, serta rumah bagi keanekaragaman hayati tetap lestari.

“Persoalannya adalah bagaimana mensinkronkan kepentingan TNMB dengan masyarakat sekitar. Berkaca dari keberhasilan program ICCTF ini, kami bertekad melanjutkan kerja sama dengan Unej,” ujarnya.[ant]

Lihat juga...

Isi komentar yuk