INDEF: Kenaikan BI Rate 4,50 Persen Terbilang Lamban

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

239

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan besaran suku bunga atau BI Rate Seventh Days Reserve Revo sebesar 25 basis point atau menjadi 4,50 Persen. Kenaikan tersebut resmi berlaku pada hari ini, Jumat (18/5/2018).

Ekonom Institute Development for Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adinegara menilai langkah BI menaikan bunga acuan 25 basis point atau 4,50 persen terbilang sedikit lamban. Karena bank sentral negara lain seperti Malaysia dan Singapura lebih dulu menaikan bunga acuan.

“Pelaku pasar pun sudah price in ke harga saham. Jadi tidak ada efek yang berlebihan ke Index Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada sesi perdagangan hari ini IHSG diperkirakan menguat tipis ke angka Rp 5.820-Rp 5.850,” kata Bhima kepada Cendana News dihubungi, Jumat (18/5/2018).

Menurutnya, memang bunga acuan yang naik akan menahan keluarnya dana asing terutama di pasar modal karena return beberapa instrumen investasi domestik menjadi lebih menarik.

Dampak positif yang timbul adalah cadangan devisa untuk stabilisasi kurs tidak akan terus tergerus secara besar besaran. Sejak awal tahun, cadangan sudah tergerus 7 miliar USD. Sedangkan dampak lainnya adalah menguatnya confidence pelaku pasar, bahwa BI telah melakukan kebijakan yang tepat.

Dampak negatifnya memang, sebut dia, dikhawatirkan akan kenaikan bunga kredit perbankan. Meskipun kecil kemungkinan dalam 1 bulan ini mengingat likuiditas bank masih cukup gemuk.

“Jika bunga kredit naik, bisa menganggu pertumbuhan kredit yang pada ujungnya membuat laju ekonomi kurang optimal. Semoga itu tidak terjadi,” ujar Bhima.

Bhima berharap BI dan OJK harus terus bekerjasama untuk memacu bank lebih efisien dalam penyaluran dana. Karena bunga kredit yang masih dobel digit sebenarnya bukan karena bunga acuan saja, tapi lebih disebabkan biaya operasional bank masih tinggi.

Sementara investor juga masih mencermati data ekonomi global seperti laporan klaim pengangguran dan data manufaktur Amerika Serikat (AS).

Hal ini jelas dia, untuk menentukan arah kenaikan bunga acuan Fed rate berikutnya, khususnya bulan Juni 2018 mendatang di rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Di sisi lain laporan Beige Book yang dirilis Goldman Sachs mengungkap kekhawatiran para investor terkait perang dagang AS-China. “Faktor global ini bisa menentukan IHSG dalam jangka panjang,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...