Indmira Klaim Sistem RAS Jauh Lebih Efektif Dibanding KJA

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

364

YOGYAKARTA — Penerapan teknologi Resilkurasi Aquaculture System (RAS) dalam budidaya ikan kerapu di lahan perkotaan dinilai memiliki keuntungan sangat besar.

Selain memangkas jalur distribusi karena lokasi produksi dekat dengan pasar, budidaya kerapu sistim ini juga dinilai memperkecil bahkan meniadakan resiko penyakit pada ikan.

Tim pengelola budidaya kerapu di lahan perkotaan, Indmira, Sleman, Yogyakarta, Finandita Satria mengatakan, selama dua tahun lebih mengembangkan sistim RAS, ia mengaku tidak menemukan kendala penyakit sama sekali.

“Kendala penyakit hampir tidak ada. Karena ini kan close system. Semua, termasuk air kita buat sendiri. Jadi tidak ada residu dari luar,” katanya di sela acara kunjungan Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi Titiek Soeharto di lokasi budidaya kerapu di lahan perkotaan, Indmira, Sleman, Yogyakarta belum lama ini.

Indmira
Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi Titiek Soeharto saat meninjau budidaya kerapu di lahan perkotaan Indmira Sleman Yogyakarta. Foto: Jatmika H Kusmargana

Dari sisi produksi, penerapan sistem ini diklaim Satria jauh lebih efisien dibanding dengan model budidaya menggunakan jaring apung. Jika sharing capacity dengan sistem keramba jaring apung hanya menghasilkan 13 kilogram per meter kubik air, dengan sistem ini bisa mencapai 48 kilogram per meter kubik air.

“Sistim RAS ini juga bisa diterapkan untuk semua jenis varietas ikan. Tahun ini kita bahkan juga sudah berencana akan mengembangkan varietas lain seperti udang vaname, bawal bintang dan ikan kue,” ungkapnya.

Indmira
Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi Titiek Soeharto saat meninjau budidaya kerapu di lahan perkotaan Indmira Sleman Yogyakarta. Foto: Jatmika H Kusmargana

Salah satu hal yang mungkin masih jadi kendala budidaya kerapu di lahan perkotaan ini hanyalah penerapan teknologi yang masih cukup mahal. Meskipun pihaknya sendiri telah mampu menekan pengaplikasian sistem ini jauh lebih rendah dibandingkan yang ada di luar negeri.

“Untuk satu modul skala industri, lengkap mulai dari pembuatan kolam hingga panen butuh angka sedikitnya Rp1,8 Milyar. Jadi memang agak berat jika didemplotkan ke kelompok petani kecil. Namun kita tetap terbuka untuk melibatkan masyarakat petani atau nelayan untuk bergabung. Nanti modelnya bisa sewa fasilitas, jadi infestor atau join operation,” jelasnya.

Sementara itu Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mendukung penuh upaya yang dilakukan Indmira dalam mengembangkan budidaya kerapu di lahan perkotaan dengan sistem RAS tersebut.

Ia menilai apa yang telah dilakukan Indmira merupakan sebuah terobosan teknologi yang harus terus dikembangkan dan disebarluaskan demi kemajuan dunia perikanan.

“Ini merupakan terobosan teknologi yang luar biasa. Saya kaget di kawasan lereng gunung Merapi seperti ini, bisa dilakukan pembesaran kerapu. Yang membuat saya lebih senang lagi ternyata yang melakukan adalah anak-anak muda. Ini harus didukung, agar semakin berkembang dan skalanya semakin meluas,” ujarnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.