Indonesia Berpotensi Jadi Kiblat Wisata Halal Dunia

Editor: Mahadeva WS

322

JAKARTA – Aktivitas pariwisata mancanegara mengambil pasar wisatawan muslim dari berbagai negara mulai mengeliat. Salah satu yang diincar adalah wisatawan dari Indonesia.

Fouder & Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF), Priyadi Abadi mengatakan, melalui industri halal, banyak negara memberikan fasilitas yang memanjakan wisatawan muslim untuk berwisata di negara non muslim.

“Indonesia, dengan mayoritas penduduk Muslim harus lebih maju dibandingkan dengan negara lain. Jangan sampai tertinggal, karena Indonesia berpotensi menjadi kiblat wisata halal dunia,” ungkap Priyadi pada acara diskusi bertajuk “Mengangkat Potensi Wisata Muslim di Nusantara dan Mancanegara”di Muamalat Tower, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Priyadi mengklaim, berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat agar mengubah mindsetnya. Selama ini mindset masyarakat bila ingin berlibur ke Jepang, Korea, dan Eropa pasti akan pesan ke travel umum. Padahal sebenarnya travel Muslim juga mampu menggarap wisata Muslim di luar umrah dan haji. Meskipun tidak mudah dan butuh waktu.

Dalam catatan Mastercard-HalalTrip Muslim Millenial Travel Report 2017 (MMTR2017), perjalanan wisatawan muslim generasi milenial di dunia diprediksi akan terus tumbuh pesat. Diprediksikan bisa mencapai nilai 100 miliar dollar Amerika Serikat (AS), di 2025 mendatang.

Sementara secara keseluruhan, segmen perjalanan Muslim diperkirakan akan mencapai 300 miliar dollar AS di 2026. Adapun data Word Travel and Tourism Council di 2013, nilai transaksi dari segmen wisata muslim telah mencapai  USD 140 miliar. “Diperkirakan terus meningkat menjadi  USD 238 miliar pada 2019,” ujar Priyadi.

Di 2017 juga telah dirintis terobosan untuk menyatukan  produk travel Muslim melalui Muslim Holiday Konsorsium. Tujuannya, untuk memberikan layanan kepada wisatawan muslim yang ingin travelling ke mancanegara dengan konsep Islami. Konsorsium tersebut, kegiatannya sarat dengan unsur edukasi kepada para anggota.

Seperti setiap bulan selalu dibuat acara sharing destinasi, evaluasi dan problem solving. Muslim Holiday merupakan bentuk keprihatinan karena masih minimnya travel muslim yang menggarap pasar wisata Muslim.

Mayoritas travel muslim masih bermain di zona aman hanya menggarap pasar haji dan umrah. “Yang menggarap pasar wisata Muslim kurang dari 20 persen. Akibatnya, pasar wisata muslim yang prospektif dan potensial ini masih dipegang oleh travel umum,” ujarnya.

Namun demikian, untuk bergabung dalam konsorsium tersebut, ada aturan main atau komitmen bersama yang harus dipatuhi. Salah satu yang terpenting adalah harga jual harus sama. Tidak boleh ada yang menjual lebih murah atau lebih mahal dari harga yang sudah ditetapkan oleh konsorium.  “Intinya, semua travel muslim yang bergabung dalam Muslim Holiday Konsorium harus amanah,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...