Ingin Perubahan, Eno Sigit Putuskan Terjun Politik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

385

SOLO — Berbicara kepada publik memang tak mudah. Apalagi bagi mereka yang belum pernah terjun ke dunia politik praktis. Hal inilah yang dirasakan Retnosari Widowati Harjojudanto, salah satu cucu Presiden ke 2 Indonesia, H.M Soeharto yang kini memutuskan terjun ke partai politik di tanah air.

Sebagai pribadi yang baru di dunia politik, putri kedua Sigit Harjojudanto ini mengaku masih canggung dan kikuk saat harus menghadapi orang banyak dan bersuara lantang. Apalagi saat ini, perempuan yang akrab disapa Eno Sigit ini memiliki peran penting untuk membesarkan partai.

“Saat ini sebenarnya sambil belajar, karena memang saya tidak terbiasa untuk bicara ke publik. Saya lagi mencoba pelan-pelan, insya’allah nanti bisa lancar,” ucap Eno saat berbincang dengan Cendana News, di sela kegiatan Konsulidasi Partai Berkarya, di Solo, Jawa Tengah, beberapa hari lalu.

Partai politik bagi perempuan kelahiran Jakarta, 10 Maret 1974 ini bukan hal yang baru. Karena sebelumnya, Eno Sigit sudah pernah masuk dalam jajaran pengurus partai yang saat ini masuk lima besar secara nasional, dan memiliki jabatan yang cukup tinggi. Hanya saja, kiprahnya belum banyak didengar masyarakat.

“Sudah pernah sebenarnya, tapi belum sampai ke publik. Dulu saya di DPP diberi amanah menjadi ketua bidang yang mengurus tentang difabel,” ungkap perempuan yang menjadi Koordinator Daerah (Korda) Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) wilayah 3, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Masuk dalam kepengurusan partai besutan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, bagi dirinya menjadi salah satu panggilan. Sebab, selain menjadi bagian dari partai keluarga, Partai Berkarya juga memiliki cita-cita yang sama, yakni menjadikan Indonesia lebih berdaulat, yakni swasembada bidang pangan, stabilitas nasional lebih terjaga, serta kesejahteraan masyarakat mampu terwujud.

“Melihat perkembangan Indonesia saat ini saya prihatin. Banyak rakyat yang kesulitan, pemerintah impor sana, impor sini. Jurang kemiskinan semakin tinggi, ketersediaan lapangan pekerjaan juga tak memadai. Beda zamannya eyang (Soeharto) dulu. Sekarang sepertinya justru terbalik,” papar perempuan 44 tahun itu.

Melihat kondisi bangsa Indonesia seperti inilah, ia merasa terpanggil untuk bisa terjun langsung ke partai politik untuk membantu mengatasi berbagai persoalan rakyat Indonesia.

“Nah di sini saya merasa terpanggil untuk membantu masyarakat. Karena saya adalah sosial, ini yang harusnya dibutuhkan,” tegasnya.

Memperjuangkan kepentingan masyarakat, terlebih berada satu gerbong dengan partai yang berasaskan visi dan misi yang mengangkat keberhasilan program era Presiden Soeharto, Eno Sigit berkeyakinan akan lebih mudah untuk disampaikan kepada masyarakat. Selama 32 tahun kepemimpian Soeharto, Eno tak menampik jika ada kekurangannya.

Namun dalam hal memberikan kenyamanan dan menjaga stabilitas Nasional, Era Soeharto lebih terbukti dan teruji. “Saya melihat ini keluarga, apalagi untuk memperbaiki kondisi bangsa yang saat ini banyak rakyat yang mengeluh. Maka saya harus membantu dan harus all out,” tandas ibu empat anak ini.

Berada di partai baru, perempuan yang hobi menyanyi ini sadar butuh perjuangan keras untuk bisa membesarkan partai. Kendati demikian, dirinya yakin tidak sulit untuk bisa menyampaikan apa yang ingin dilakukan melalui Partai Berkarya. Terlebih, di dalam partai ini, sosok Soeharto masih mengilhami dari berbagai program dan visi misi partai.

Termasuk untuk merebut suara dari pemilih pemula yang merupakan generasi millinial. Sebagai partai yang benar-benar fress, dirinya yakin mampu menjadi alternatif tersendiri bagi kalangan anak muda. Apalagi, dalam tubuh partainya tak sedikit merupakan generasi muda yang sudah tampil.

“Kalau saya melihat perkembangan partai saat ini, yang lebih dibutuhkan adalah harus ada perubahan. Yakni perubahan kondisi bangsa saat ini menuju yang lebih baik. Apalagi Tommy Soeharto sebagai ketua umum juga masih menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi millinial,” tutup perempuan yang aktif di Yayasan Damandiri itu.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.