Inilah 2 Kandidat Pengganti Artidjo di MA

Editor: Mahadeva WS

577
Juru Bicara KY Farid Wajdi - Foto M Hajoran Pulungan

JAKARTA – Hakim Agung Artidjo Alkostar akan memasuki masa pensiun per 1 Juni 2018 mendatang. Satu posisi hakim agung di kamar pidana di Mahkamah Agung akan kosong.

Karenanya, sejak akhir 2017 lalu, MA meminta Komisi Yudisial (KY) untuk mencari pengganti Artidjo Alkostar dan hakim agung lain yang memasuki masa pensiun atau meninggal dunia. Proses pengisian dilakukan melalui seleksi Calon Hakim Agung (CHA) periode II 2017/2018.

Proses seleksi CHA dilakukan melalui administrasi, kualitas, kesehatan dan kepribadian, hingga seleksi wawancara. Saat ini hanya ada dua CHA yang berasal dari kamar pidana yang lolos hingga tahap wawancara. Yakni Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Jayapura, Bambang Krisnawan dan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Padang, Syamsul Bahri. Kedua nama besar tersebutlah yang kemungikinan bakal menggantikan Artidjo Alkostar.

Juru Bicara KY Farid Wajdi mengatakan, proses seleksi CHA Periode II 2017/2018 ini atas dasar Surat Wakil Ketua MA Bidang Yudisial Nomor 28/Wk.MA.Y/X/2017 tentang Pengisian Kekosongan Jabatan Hakim Agung. Untuk mengisi kekosongan beberapa hakim agung yang purna tugas termasuk diantaranya ada Artidjo Alkostar dan juga yang meninggal.

Dan saat ini ada dua CHA kamar pidana lulus hingga tahap wawancara. “MA hanya menyebut satu orang yang kosong di kamar pidana, tidak menyebut untuk pengganti Artidjo dan kualifikasi hakim agungnya sama seperti sosok Artidjo. Jadi, proses seleksi CHA kali ini hanya menjawab surat dari MA. Sehingga, tidak menyebutkan pengganti untuk orang tertentu, tapi menyebutkan pengganti kursi yang kosong,” kata Farid di Gedung KY, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Farid mengatakan, usai menggelar seleksi wawancara, pihaknya masih terus menggelar rapat bersama tim panelis yang lain untuk menentukan nama-nama yang lulus dan akan diserahkan ke DPR untuk disetujui. Namun, Dia mengingatkan, KY tidak akan memaksakan sesuai kebutuhan hakim agung yang diminta MA. Apabila tidak memenuhi syarat integritas dan kompetensi atau kualitas yang tinggi, kemungkinan KY akan mengosongkan kursi pidana itu.

“Kita mencari hakim agung kamar pidana dengan kompetensi dan kualitas di atas rata-rata. Jadi kita tidak ingin tersandera hanya karena MA butuh,” sebutnya.

Farid menilai Artidjo memang layak diberi apresiasi atas kemampuannya melihat sebuah makna dan peristiwa hukum serta ruhnya pemberantasan korupsi. Karenanya, purna tugasnya Artidjo tidak akan membuat sirna dan berkurangnya semangat para hakim agung lain untuk melakukan pemberantasan korupsi.

“Tentu masih banyak hakim agung kamar pidana yang punya kemampuan dan komitmen yang sama dalam menangani perkara korupsi. Seperti, Hakim Agung Salman Luthan, Krisna Harahap, MS Lumme dan hakim agung kamar pidana lain. Yang terpenting, public trust lembaga peradilan harus tetap hidup dan jadi contoh pengadilan di bawahnya. Semangat pemberantasan korupsi diharapkan tidak padam akibat purna tugasnya Artdijo,” jelasnya.

Baca Juga
Lihat juga...