Jelang Buka Puasa, Anak-anak Rajabasa Gunakan Mainan Meriam

Editor: Satmoko

287

LAMPUNG – Jelang waktu berbuka salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh anak anak diantaranya dengan membunyikan meriam dari bambu dan kaleng.

Tradisi membunyikan meriam berbahan bambu serta kaleng tersebut diakui Andi (15) salah satu warga desa Hargo Pancuran kecamatan Rajabasa sudah dilakukan belasan tahun silam.

Pada masa bulan ramadan tahun ini Andi menyebut bertepatan dengan sawah milik orangtuanya memasuki masa padi menguning.

Warga desa Hargopancuran kecamatan Rajabasa menunggu waktu berbuka puasa sembari mengusir hama burung [Foto: Henk Widi]

Bersama dengan anak anak lain Andi menyebut mempergunakan meriam berbahan kaleng bekas minuman soda, kaleng susu cair untuk mainan. Mainan meriam untuk adu suara serta bermain perang-perangan tersebut sengaja dimainkan di tepi sawah.

Selain tidak mengganggu warga yang ada di desanya suara meriam diakuinya dipergunakan untuk menakuti hama burung yang menyerang di lahan pertanian padi.

“Meriam bambu biasanya kami tempatkan di gubuk untuk adu suara dengan teman yang lain biasanya berjarak ratusan meter di gubuk tengah sawah, suaranya menggema untuk mengusir hama burung pipit,“ terang Andi, salah satu anak di desa Hargo Pancuran kecamatan Rajabasa saat ditemui Cendana News, Sabtu sore (19/5/2018).

Areal lahan pertanian padi di desa Kerinjing kecamatan Rajabasa kabupaten Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]

Proses pembuatan meriam kaleng bekas disebut Andi cukup sederhana dengan mempergunakan pemantik korek gas. Pemantik korek bas tersebut dihubungkan dengan lubang khusus dengan kaleng sepanjang kurang lebih satu meter.

Bahan bakar yang dipergunakan mempergunakan spritus yang akan berbunyi saat dipantik dengan pemantik korek bekas. Suara yang dihasilkan meriam disebut Andi terbukti bisa mengusir hama burung sekaligus untuk ajang bermain bersama dengan anak-anak lain.

Permainan meriam bambu juga diakui Andi kerap dimainkan di gubuk yang ada di sawah untuk mengusir hama burung. Selama ini meriam bambu dibuat dari bambu jenis ori yang diberi lubang pada bagian tengahnya dan diberi bahan bakar minyak tanah.

Pembuatan meriam bambu dilakukan selama bulan ramadan seperti pada tahun sebelumnya meski kini ditempatkan di gubuk dan dinyalakan setiap sore.

“Banyak anak sekarang memilih membuat meriam kaleng yang kami sebut dengan jedoran karena mudah dibawa ke mana-mana dibanding meriam bambu,” beber Andi.

Karena suara yang dihasilkan cukup keras, Andi dan kawan-kawannya tidak pernah menyalakan meriam tersebut di perkampungan. Saat sore sembari menunggu waktu berbuka puasa ia bahkan memilih area di dekat persawahan yang tepat berada di kaki Gunung Rajabasa.

Selain suara yang menggema bersahut-sahutan dengan meriam milik rekan lain, suara meriam kaleng efektif mengusir hama burung yang kerap menyerang saat pagi dan sore.

Meriam kaleng dengan bahan bekas tersebut diakui Andi dan kawan-kawannya dibuat dengan biaya sekitar Rp30.000. Biaya tersebut  dipergunakan untuk membeli selotif untuk merangkai kaleng yang sudah dilubangi, kaleng bekas serta korek gas yang dimanfaatkan bagian pemantiknya.

Selain lebih hemat dibandingkan membeli petasan atau mercon mainan tersebut diakuinya tidak membahayakan jika dimainkan dengan benar.

Permainan meriam bambu dan kaleng yang dibuat anak-anak juga banyak dimainkan anak-anak di desa Kerinjing kecamatan Rajabasa. Masa padi berbulir (mratak) hingga menguning tahun ini, diakui Asminah (50), hama burung kerap menyerang tanaman padi.

Hama tersebut dihalau menggunakan orang-orangan sawah dan bunyi-bunyian dari kaleng berisi kerikil. Ia bahkan menyebut sang cucu mempergunakan waktu saat pagi dan sore pada hari libur awal puasa dengan bermain meriam kaleng.

“Selama ini bulan ramadan banyak anak bermain petasan namun karena harga petasan juga mahal membuat anak anak membuat meriam sendiri,” beber Asminah.

Asminah bahkan menyebut anak-anak di wilayah tersebut bermain meriam bambu dan meriam kaleng di lahan sawah. Sebab selain membantu mengusir hama burung, anak-anak tidak melakukan kegiatan ngabuburit atau menunggu waktu berbuka dengan bermain di jalan raya.

Meski memiliki meriam kaleng Asminah tetap menyarankan anak-anak di wilayah tersebut tidak memainkan meriam di perkampungan yang bisa mengganggu ketenangan warga saat istirahat.

Baca Juga
Lihat juga...