Jelang Ramadhan, Warga Lakukan Tradisi Ngelop di Sejumlah Pantai

Editor: Satmoko

181

LAMPUNG – Menjelang bulan suci Ramadhan umat Muslim, sejumlah pantai di wilayah Lampung Selatan mulai diserbu oleh pengunjung untuk melakukan tradisi ngelop atau mandi bersih diri di pantai.

Puput, salah satu warga desa Hatta kecamatan Bakauheni menyebut, tradisi bersih diri dengan mandi di pantai oleh masyarakat di Lampung dikenal juga dengan istilah punggahan selain ngelop.

Puput bersama keluarga dan tetangga di wilayah tersebut mengungkapkan kegiatan mandi di pantai, mata air secara beramai-ramai dimaksudkan untuk menyucikan diri sebelum melakukan puasa di bulan Ramadan.

Warga dari beberapa kecamatan memanfaatkan waktu libur akhir pekan dengan melakukan tradisi punggahan dengan mandi di laut atau ngelop di pantai Belebug desa Totoharjo kecamatan Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Pemilihan waktu akhir pekan untuk melakukan tradisi ngelop diakui Puput dilakukan karena bertepatan dengan hari libur akhir pekan. Sebab sesuai dengan perhitungan awal bulan suci Ramadan diprediksi puasa akan dimulai pada awal pekan ini, sekitar hari Selasa (15/5).

Selain libur akhir pekan, tradisi ngelop disebutnya bersamaan dengan acara perpisahan siswa kelas 6 SD yang memilih kegiatan libur bersama dengan guru ,orangtua dan siswa di pantai Belebug desa Totoharjo.

“Kegiatan ngelop kami lakukan sekaligus mengisi liburan akhir pekan dan pelepasan siswa SD yang dilakukan di pantai. Biasanya kegiatan ngelop dilakukan dengan mandi bersama di pantai dilanjutkan dengan makan bersama atau bancakan,” terang Puput, salah satu warga yang melakukan tradisi ngelop di pantai Belebug desa Totoharjo kecamatan Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Minggu (13/5/2018).

Puput, salah satu warga desa Hatta kecamatan Bakauheni memilih ngelop di pantai Belebug sebelum Ramadan [Foto: Henk Widi]
Tradisi ngelop diakui Puput merupakan tradisi turun temurun warga yang memanfaatkan pantai sebagai tempat untuk membersihkan diri. Pantai disebutnya dipilih karena lokasi yang luas sekaligus untuk mengisi waktu libur setelah sepekan bekerja.

Kegiatan menyucikan diri tersebut diakuinya diiringi niat untuk bisa menjalankan ibadah bulan suci Ramadan yang akan dilakukan selama sebulan penuh sebelum hari raya Idul Fitri.

Hasan, salah satu warga lain yang melakukan tradisi ngelop bersama anggota keluarganya menyebut memilih pantai Belebug. Lokasi yang dekat dengan tempat tinggalnya sekaligus menjadi lokasi favorit untuk berwisata.

Kondisi cuaca yang memadai dengan ombak tenang dan pantai berpasir terhalang pulau Sekepol membuat ia mengajak serta keluarga dan tetangga ngelop di pantai.

Hasan yang melakukan tradisi ngelop seperti tahun sebelumnya telah mempersiapkan bekal untuk kegiatan bancakan di pantai. Bancakan merupakan ungkapan syukur dengan makan bersama dengan menu ayam bakar, ikan bakar yang dibakar di pantai.

Warga dari beberapa kecamatan memanfaatkan waktu libur akhir pekan dengan melakukan tradisi punggahan dengan mandi di laut atau ngelop di pantai Belebug desa Totoharjo kecamatan Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Bekal nasi dan sayuran sudah dibawa dari rumah oleh para wanita dan lauk ikan serta ayam dibakar di tepi pantai.

“Kami gotong royong membakar ikan dan daging ayam sementara anak anak dan keluarga mandi di laut sembari menunggu lauk matang untuk makan bancakan,” terang Hasan.

Tradisi ngelop yang turun temurun dilakukan dengan sebutan lain punggahan pada tahun ini disebut Hasan cukup istimewa. Sebab selain bertepatan dengan libur akhir pekan, sebagian anak siswa SD menjalani proses kelulusan dan bulan suci Ramadan akan dimulai pada pekan kedua bulan ini.

Waktu ngelop berlangsung sejak pagi hingga sore dan bisa berlangsung hingga sehari sebelum waktu penentuan awal bulan Ramadan. Selain di pantai Belebug ia menyebut sejumlah pantai di pesisir Rajabasa di antaranya Canti, Way Muli, Kunjir menjadi lokasi ngelop.

Hendrik, anggota kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Ragom Helau desa Totoharjo menyebut, kunjungan wisatawan ke pantai tersebut meningkat pada saat ngelop.

Pada hari biasa pengunjung bisa mencapai puluhan, hari libur akhir pekan mencapai di atas 300 orang pengunjung dan saat libur akhir pekan bersamaan dengan ngelop pengunjung diprediksi bisa lebih dari 700 orang.

“Sejak pagi memang mulai berdatangan bersamaan dengan anak-anak perpisahan sekolah, datangnya berombongan sekalian melakukan ngelop,” beber Hendrik.

Kunjungan yang meningkat tersebut diantisipasi oleh Pokdarwis Ragom Helau dengan menyiapkan perahu kano sebanyak enam unit, perahu karet dan pelampung jenis life jacket.

Penataan lokasi parkir dan tempat berjualan di pantai Belebug juga membuat pantai tersebut semakin banyak dikunjungi wisatawan ditambah infrastruktur pendukung jalan yang cukup lancar.

Akses jalan aspal dari Jalinsum KM 3 Bakauheni dengan jarak ke pantai hanya lima kilometer membuat pantai Belebug jadi pilihan akhir pekan, bertepatan dengan tradisi ngelop atau menyucikan diri di pantai.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.