Jelang Ramadhan, Warga Ramai Ziarahi Makam

Editor: Satmoko

388

LAMPUNG – Jelang bulan suci Ramadan 2018 yang akan berlangsung mulai pekan kedua bulan Mei ini, umat Muslim mulai melakukan persiapan.

Setelah kegiatan membersihkan diri dengan mandi di pantai (ngelop) pada sejumlah pantai, warga melanjutkan tradisi dengan melakukan ziarah makam keluarga.

Mujiono (50) salah satu warga desa Gandri kecamatan Penengahan menyebut kegiatan ziarah merupakan tradisi rutin sebelum kegiatan penting. Sebelum melakukan acara keluarga, Ramadan serta Hari Raya Idul Fitri ia bersama keluarganya mendatangi makam keluarga atau kerabat.

Mujiono bahkan menyebut sengaja mendatangi makam keluarga untuk berziarah pada Minggu (13/5) bertepatan dengan hari libur meski awal puasa diakuinya baru akan dimulai pada Selasa (15/5) atau sesudahnya.

Tradisi ziarah makam atau dalam istilah Jawa dikenal dengan Nyekar disebutnya rutin dilakukan secara turun temurun. Ziarah ke makam keluarga dilakukan Mujiono dan keluarganya di tiga pemakaman umum desa Pasuruan, desa Kelaten dan desa Gandri.

“Keluarga besar kami yang sudah meninggal dimakamkan di beberapa pemakaman umum sehingga kami melakukan ziarah secara bergantian sejak hari ini hingga besok setelah sekeluarga melakukan ngelop di pantai,” ungkap Mujiono, salah satu peziarah di pemakaman umum desa Pasuruan, saat ditemui Cendana News, Minggu (13/5/2018).

Mujiono, salah satu peziarah di pemakaman umum desa Pasuruan jelang bulan suci Ramadan mengajak serta keluarganya [Foto: Henk Widi]
Mujiono menyebut ziarah ke makam anggota keluarga yang sudah mendahului merupakan kegiatan positif dalam tradisi keluarganya yang berasal dari Yogyakarta.

Nyekar dengan membawa bunga dan wewangian disebutnya dilakukan setelah melakukan pembersihan pada bagian makam, mencabuti rumput hingga mencuci batu nisan yang berdebu. Melalui tradisi nyekar dengan bunga menyimbolkan kiriman doa keluarga yang masih hidup.

Tradisi ziarah makam dilakukan dengan mengajak serta anak anak untuk memperkenalkan silsilah keluarga. Sebab diakuinya dengan melakukan ziarah makam bisa diperlihatkan silsilah keluarga dan kerabat yang sudah meninggal serta urutan kekerabatan baik yang sudah meninggal maupun keluarga yang masih hidup.

Doa doa yang dipanjatkan diakuinya dilakukan untuk mengantar keluarga yang sudah meninggal di antaranya orangtua dan sanak keluarga.

Peziarah lain bernama Hasan (40) menyebut dirinya berasal dari kecamatan Palas yang jauh dari pemakaman umum yang dikunjungi. Meski demikian ia menyebut sejumlah anggota keluarga yang sudah meninggal diantaranya ayah, ibu dan kerabat lain dimakamkan di pemakaman desa Pasuruan.

Meski sudah tinggal jauh ia menyebut bentuk bakti ahli waris sekaligus sebagai anak dan cucu ia juga mengajak serta anak-anaknya.

“Melalui tradisi nyekar ini kami mendoakan leluhur agar diterima di sisi-Nya dan bersyukur masih bisa menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini,” papar Hasan.

Sebelum berziarah ia memohon izin kepada juru kunci makam yang menjadi penanggungjawab pemakaman umum tersebut. Ia menyebut hakikat ziarah kubur atau makam bukan hanya untuk mengunjungi dan berdoa di makam keluarga tapi sekaligus mengingatkan akan kematian.

Melalui ziarah makam Hasan menyebut bisa mengintrospeksi diri agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik sebelum hari raya Idul Fitri. Sebab meski masih hidup ia percaya kelak akan menyusul keluarga yang sudah meninggal.

“Kesempatan ziarah kubur sekaligus pesan bagi anak-anak dan kerabat agar kita tetap mengenang keluarga yang sudah meninggal, kelak anak cucu kita dianjurkan meneruskan tradisi ini,” cetusnya.

Hasan juga menyebut, selain ziarah ke makam keluarga dan kerabat bersama jamaah lain juga ikut membersihkan masjid. Pembersihan masjid sebagai tempat ibadah taraweh saat bulan Ramadan  dilanjutkan dengan tradisi bersih jasmani melalui kegiatan mandi di pantai atau ngelop. Ngelop dilakukan memanfaatkan waktu beberapa hari sebelum bulan suci Ramadan dijalankan.

Pantauan Cendana News selain di pemakaman umum desa Pasuruan sejumlah pemakaman umum lain mulai ramai dikunjungi peziarah. Pada wilayah keratuan Darah Putih sejumlah makam bersejarah diantaranya makam Ratu Darah Putih di Keramat Seksi, makam Raden Inten II sekaligus pahlawan nasional asal Lampung juga ramai dikunjungi peziarah.

Sebagian warga yang tidak sempat melakukan ziarah sebelum Ramadan kerap melakukan ziarah sehari sebelum shalat Ied pada saat hari raya Idul Fitri.

Baca Juga
Lihat juga...