Jordania Desak UE Akui Jerusalem Timur Sebagai Ibu Kota Palestina

160
wilayah Jerusalem - Foto: Istimewa

AMMAN, JORDANIA — Jordania pada Rabu (16/5) mendesak Uni Eropa (UE) agar mengakui Jerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina, prasyarat bagi terwujudnya perdamaian dan kestabilan di Wilayah Timur Tengah, demikian laporan kantor berita resmi Jordania, Petra.

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Jordania Ayman Safadi dalam satu pertemuan dengan duta besar negara anggota UE di Ibu Kota Jordania, Amman. Dalam pertemuan itu, ia menyerukan tindakan segera guna mendukung pembentukan satu komite internasional guna menyelidiki pembantaian yang dilakukan oleh pasukan keamanan Israel terhadap warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

Menteri tersebut mengatakan kejahatan yang terus dilakukan oleh Israel tanpa reaksi apa pun intternasional akan mengarah kepada lingkaran baru kekerasan, yang akan mempengaruhi wilayah itu, Eropa dan seluruh dunia, demikian laporan Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Kamis pagi. Ia menekankan bahwa kestabilan Timur Tengah penting bagi kestabilan internasional.

Tindakan Israel dan tak-adanya penyelesaian bagi konflik Palestina-Israel menambah parah situasi dan meningkatkan kekecewaan, yang mengakibatkan makin banyaknya kerusuhan dan ekstremisme, kata menteri tersebut.

Safadi menyeru masyarakat internasional agar memikul tanggung-jawab moral dan hukumnya dari agresi dan tindakan tidak sah Israel terhadap rakyat Palestina.

Menteri itu memperingatkan mengenai konsekuensi serius dari tindakan sepihak Israel, yang berusaha memaksakan kenyataan di lapangan, merusak upaya perdamaian dan mengubah identitas Arab di Jerusalem.

Mengenai Jerusalem, Safadi mengatakan Jerusalem adalah kunci bagi perdamaian dan mewujudkan hak sah rakyat Palestina adalah keharuan bagi kestabilan serta perdamaian regional.

Safadi menambahkan Jordania akan melancarkan semua upayanya untuk memelihara tempat suci di Jerusalem.

Menteri tersebut juga mengutuk tindakan AS memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Jerusalem dan mengakui kota suci itu sebagai ibu kota Israel.

Ia menambahkan Jordania akan berusaha bersama negara Arab, UE dan semua mitra internasional guna mewujudkan perdamaian –yang dilandasi atas penyelesaian dua-negara sejalan dengan gagasan perdamaian Arab dan resolusi sah internasional.

Sementara itu gerilyawan Syiah Yaman Al-Houthi –yang menguasai Yaman Utara– dengan keras mengutuk Amerika Serikat karena membuka kedutaan besarnya di Jerusalem, kata kelompok itu di dalam satu pernyataan baru-baru ini.

“Tindakan mencolok tersebut dilakukan sebagai pengumuman perang melawan bangsa Arab dan umat Muslim,” kata pernyataan itu –yang disiarkan oleh kantor berita yang dikuasai Al-Houthi, Saba.

“Keputusan AS akan memiliki konsekuensi buruk tanpa batas atas wilayah ini,” katanya.

Pada Senin (14/5), Amerika Serikat membuka kedutaan besarnya di Jerusalem, sehingga menyulut bentrokan berdarah di sepanjang perbatasan Palestina-Israel, sehingga menewaskan tak kurang dari 55 orang Palestina dan melukai lebih dari 2.700 orang lagi.[ant]

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.