Kami Marah Bila Ada yang Menghujat Pak Harto

Oleh Mahpudi, MT

1.381

Catatan redaksi: 

Dalam catatan berseri ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

 

Bagian 14 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Pada setiap daerah, selalu ada warga masyarakat  yang mampu mengubah potensi kreatif  dalam  sebuah kerja kreatif menjadi karya-karya kreatif.  Proses kreatif seperti ini merupakan respon atas pemaknaan warga  terhadap lingkungannya. Pada sebagian dari mereka, kerja kreatif ini telah menjadi industri kreatif yang menjadi mata pencaharian mereka. Ada yang sudah berlangsung turun temurun generasi demi generasi, namun ada pula yang muncul pada waktu belakangan, seiring dengan menguatnya kebutuhan akan sebuah solusi.

Pak Harto mengunjungi bengkel rakyat kecil perajin senjata tajam dan alat-alat pertanian di Cisaat, SUkabumi (10/4/1970) – Foto Istimewa / Musium Bakti Pertiwi

Ketika Mei 2012, tim Ekspedisi Incognito Pak Harto berkeliling di kawasan industri logam Cisaat, daerah ini sudah sangat maju. Berderet pabrik-pabrik begitu sibuk mengerjakan berbagai pesanan. Sebagaimana dituturkan oleh Ayep, satu saksi yang menyaksikan Incognito Pak Harto, daerah Cisaat-Sukabumi berkembang pesat sejak kehadiran Pak Harto. Incognito Sang Presiden tersebut telah membuat Cisaat menjadi salah satu pusat industri logam yang  memiliki peran penting dalam menyokong industri manufaktur Indonesia.

Ternyata, dalam perjalanan incognito-nya, Pak Harto senantiasa menyempatkan waktu untuk singgah ke tempat-tempat kerja kreatif masyarakat. Demikian pula dalam perjalanan ke Sukabumi pada 10 April 1970, setelah menginap semalam di rumah penduduk dan menikmati sarapan pagi di Rumah Makan Ni’mat (kini dikenal sebagai rumah makan Lembur Kuring, Red), Pak Harto meninjau industri pengolahan batu permata di Cibadak dan industri alat-alat pertanian di Cibatu, Cisaat, Sukabumi. Di kedua tempat tersebut, Pak Harto berkeliling dari satu pengrajin ke pengrajin lainnya.

Memang, Sukabumi dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin batu mulia. Dalam perjalanan incognito tersebut, Pak Harto menyempatkan berkunjung ke rumah-rumah perajin batu akik. Tentu saja, Pak Harto tak hanya berkunjung, melainkan juga berdiskusi dengan para perajin tentang bagaimana memajukan taraf hidup mereka, serta bagaimana meningkatkan mutu dan produksi batu akik dari Sukabumi.

Sesaat Sebelum melanjutkan perjalanan, Pak Harto menikmati sarapan paga di rumah makan Nikmat (kini Lembur Kuring) di tepi jalan yang menghubungkan kota Cianjur dengen Kota Sukabumi, Jawa Barat – Foto Istimewa/ Musium Bakti Pertiwi

Selain mengunjungi sentra perajin batu mulia, Pak Harto juga mengunjungi para perajin logam. Seperti diketahui sejak lama, Cibatu merupakan salah satu daerah penghasil golok dan aneka jenis alat pertanian terkenal. Di Cisaat pula, Pak Harto berbincang dengan para perajin tentang berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

Seperti dituturkan oleh Ayep kepada Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto yang mengunjunginya pada Mei 2012, dirinya menyampaikan bahwa masalah pemasaran dan permodalan serta teknologi yang masih terbatas, menjadi kendala. Pak Harto pun memberi solusi, para pengrajin di sana diminta untuk memproduksi berbagai peralatan pertanian yang dipesan, guna memenuhi kebutuhan sarana transmigrasi dan aktivitas militer. Berbeda dengan Sarno di Lebaksiu yang tidak begitu antusias menerima tawaran ini, Ayep dan kawan-kawannya sangat bersemangat dan segera menindaklanjutinya.

Pak Harto juga mendorong para pengrajin untuk membentuk koperasi yang dikenal sebagai Koperasi Industri Kerajinan Rakyat (Kopinkra). Melalui koperasi itulah  bantuan permodalan serta dukungan teknologi disalurkan. Bahkan, pada awal tahun 1998, Pak Harto masih sempat meresmikan sebuah Sentra Industri Kecil (SENTRIS) buah kerjasama dengan PT Astra International yang dibangun di Cibatu, Cisaat-Sukabumi. Tak heran bila Ayep berujar, “warga di sini merasakan, betapa Pak Harto sangat peduli nasib rakyatnya. Jadi, kami marah bila ada warga yang menghujat  Pak Harto.” **

Baca Juga
Lihat juga...