Kasus Gizi Buruk di Bali Masih Tinggi

Editor: Koko Triarko

137
 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya. -Foto: Sultan Anshori. 

DENPASAR-  Kasus gizi buruk di Bali terhitung masih cukup tinggi. Pada 2017, kasus gizi buruk di Bali mencapai 8,6 persen, dengan rincian kasus balita kurus (wasted) 6,3 persen dan kasus balita pendek alias stunting 19,1 persen. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya, mengatakan, faktor penting penyebab tingginya kasus gizi buruk bukan lagi faktor ekonomi, melainkan lebih disebabkan faktor salahnya pemberian asupan gizi kepada anak.

“Masyarakat sekarang cenderung salah dalam memberikan asupan kepada anaknya. Hal ini terlihat dalam aktivitas keseharian masyarakat yang cenderung memberikan makanan cepat saji. Padahal, itu tidak boleh”, ucap pria yang akrab disapa Suarjaya ini Jumat, (18/5/2018).

Karena itu, ia menyarankan kepada masyarakat lebih sering memilih makanan yang aman serta mengandung protein tinggi dan masih tradisional. Tidak hanya itu, asupan gizi tersebut juga harus diperhatikan oleh ibu-ibu saat dalam masa kehamilan.

“Jika asupan gizi ibu hamil, kurang, bisa menyebabkan bayinya akan stunting”, imbuh Suarjaya.

Suarjaya juga menambahkan, kasus gizi buruk dan balita pendek alias stunting dijadikan program prioritas penting bagi Dinas Kesehatan Bali hingga 2020 ke depan. Hal ini juga seiring dengan target dari pemerintahan pusat, yakni 0 persen kasus stunting.

Untuk menyukseskan hal tersebut, pihaknya sudah melakukan sinergi dengan intansi terkait lintas sektor seperti BBPOM, Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan lainnya dalam penyediaan makanan berkualitas dan aman bagi masyarakat.

“Kami terus melakukan langkah-langkah sebagai bagian kepedulian kepada masyarakat”, kata dokter asli Buleleng ini.

Seperti diketahui, data Pemantauan Status Gizi (PSG) Dinas Kesehatan Provinsi Bali dari 2015 hingga 2017 menyebutkan, kasus gizi di lima daerah di Bali masih tergolong dalam status akut kronis.

Lima daerah tersebut meliputi Kabupaten Jembrana, Gianyar, Bangli, Karangasem dan Buleleng.

Sementara daerah yang tergolong rendah bahkan bebas dari kasus ini adalah Denpasar dan Klungkung.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.