Kaya Manfaat, Pohon Dadap dan Trembesi Masih Dilestarikan Warga Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

397

LAMPUNG — Manfaat yang beragam jenis pohon dadap atau cangkring (Erythrina variegata) dan pohon trembesi (Samanea saman) membuat dua jenis tanaman tersebut tetap dilestarikan masyarakat Lampung Selatan.

Dasturi (40) warga desa Ketapang kecamatan Penengahan menyebutkan, tanaman pagar sekaligus peneduh di tepi jalan tersebut dapat digunakan untuk kebun sekaligus tanaman kehutanan. Pohon tersebut umumnya ditanam sebagai pembatas lahan, jauh sebelum ada patok besi dan beton.

Tanaman dadap sebagian sengaja diperbanyak sebagai lanjaran tanaman vanili, lada dan cabai jawa. Sejumlah tanaman berusia puluhan tahun bahkan sengaja ditanam Dasturi di lereng bukit sebagai penahan longsor.

Keberadaan pohon dadap juga ikut membantu penyediaan pupuk organik dari daun yang berguguran dan penyubur tanaman di bawahnya. Berbagai jenis tanaman bertajuk pendek seperti kakao, pisang hingga cabai ikut terbantu dengan keberadaannya.

“Kami menanam selain menjaga kelestarian lingkungan dalam tradisi pengobatan tradisional, daun dadap kerap digunakan untuk pengobatan anak terkena sakit demam,” terang Dasturi saat ditemui Cendana News, Rabu (30/5/2015).

Warga lain yang masih mempertahankannya di antaranya Suharso yang menanam di sepanjang tepi sawah miliknya. Tanaman dadap semula dipergunakan sebagai pagar hidup untuk mencegah ternak masuk ke sawah. Malahan pohon tersebut berfungsi sebagai pakan ternak kambing saat ia kesulitan mendapat pakan hijauan.

“Daun dadap memiliki kandungan protein dan nitrogen yang tinggi,” sebutnya.

pohon dadap
Warga Banjarmasin kecamatan Penengahan melakukan penanaman pohon dadap dan trembesi sebagai tanaman naungan [Foto: Henk Widi]
Daun berguguran sekaligus perakaran dadap yang bisa bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium bahkan bisa meningkatkan kesuburan tanah.

“Kearifan lokal masyarakat juga sekaligus mempertahankan pohon dadap karena memiliki peranan dalam sejumlah upacara adat,” papar Suharso.

Selain itu, Suharso memastikan keberadaan pohon dadap bisa dipergunakan sebagai bahan pembasmi serangga. Aroma menyengat dan diolah sedemikian rupa menjadi pengusir hama walangsangit dan belalang. Pestisida alami tersebut dipergunakan sebagai upaya meminimalisir penggunaan obat obatan kimia berbahaya.

Selain mempertahankan tanaman dadap Suharso menyebut masih menanam jenis pohon trembesi. Pohon dengan kanopi yang bagus menutupi jalan dipergunakan sebagai peneduh dan sumber pakan ternak.

Selain dipergunakan sebagai tanaman peneduh kayu pohon yang sudah cukup tua dipakai bisa dipakai untuk membuat furniture. Selama ini trembesi yang sudah berusia cukup tua juga ikut membantu kelestarian lingkungan dalam penyediaan sumber mata air.

Mata air yang muncul dari penanaman pohon trembesi diakuinya karena pohon tersebut memiliki akar tunjang penyedia pasokan air. Sejumlah pohon tanaman trembesi yang kerap ditanam di sepanjang tepi jalan lingkungan sekaligus menyerap polusi udara.

Saat panas terik matahari keberadaan tanaman trembesi diakui Suharso bisa meneduhkan pengguna jalan. Meski demikian sebagai tanaman untuk kelestarian lingkungan ia menyebut harus rajin melakukan pemangkasan agar dahan tidak tumbang saat angin kencang dan bisa berfungsi sebagai peneduh.

Lihat juga...

Isi komentar yuk