Kembangkan Vanili dan Lada, Petani Penengahan Peroleh Hasil Berlipat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

782

LAMPUNG — Petani komoditas vanili dan lada panjat di desa Tamanbaru kecamatan Penengahan masih terus mengembangkan tanaman tersebut selama bertahun-tahun. Kesetiaan tersebut tidak terlepat dari harga yang cukup menjanjikan di pasaran.

Jafar (70) salah satu petani yang memiliki sekitar 100 batang vanili menyebut harga kering berkisar Rp1,5 juta dan pada tahun ini naik menjadi Rp2juta per kilogram di tingkat petani. Sebaliknya harga lada semula Rp80.000 kini turun menjadi Rp60.000 perkilogram dalam kondisi kering.

“Harganya memang terus naik namun salah satu kendala kami sulit memperoleh bibit yang berkualitas sehingga proses perbanyakan bibit dilakukan secara mandiri melalui stek bibit serta menyemai biji,” terang Jafar petani penanam vanili dan lada saat ditemui Cendana News, Jumat (18/5/2018).

Jafar menyebut masih tetap membudidayakan dua komoditas tersebut di kaki Gunung Rajabasa yang sejuk meski sudah banyak petani yang beralih.

Proses perawatan yang rumit dan membutuhkan ketelatenan dengan waktu panen tahunan. Saat harga masih berkisar Rp1,5juta Jafar menyebut pernah menjual vanili kering sekitar 5 kilogram dengan hasil Rp7,5juta.

Hal yang sama diakuinya dilakukan untuk budidaya tanaman lada. Jenis pohon rambat yang kerap dipergunakan Jafar di antaranya dadap, leresede, lamtoro yang berfungsi sekaligus sebagai peneduh. Jenis pohon tersebut sudah terbukti memiliki manfaat untuk penyediaan pupuk dari daun yang berguguran.

Tanaman lada disebutnya sebagian merupakan generasi kedua dari tanaman lada yang sudah dibudidayakan sebelumnya. Tanaman rempah dengan ciri khas merambat tersebut beberapa di antaranya sudah berusia 8 tahun. Buah lada berbuah sepanjang tahun dengan proses pemanenan dilakukan saat buah mulai menguning.

“Saya menanam jenis lada panjat selama bertahun tahun memanfaatkan pohon peneduh yang ada di kebun,” cetusnya.

Beruntung meski menjadi media rambatan jenis pohon tersebut tidak pernah terganggu oleh pertumbuhan lada panjat sehingga Jafar bisa melakukan efesiensi penggunaan pohon tambat.

Lamanya proses merawat dan penanaman lada membuat tanaman lada mulai langka di wilayah tersebut.

“Setelah tahun ketiga tanaman lada akan terus berbuah dan dilakukan pemanenan semingggu sekali, dipilih yang sudah matang,” beber Jafar.

Harga lada biasa saat ini sempat mengalami penurunan sebesar Rp20.000 dari semula Rp80.000 menjadi Rp60.000. Dengan hasil panen perpohon rata rata 1 kilogram dari sebanyak 100 pohon ia bisa mendapatkan hasil Rp6juta.

Berbeda dengan vanili dan cengkeh yang hanya bisa dipanen sekali, jenis tanaman lada yang terus berbuah menjadi sumber penghasilan rutin baginya. Lada yang sudah dipanen disimpan untuk dijual saat harga membaik sehingga memberi keuntungan berlebih.

Baca Juga
Lihat juga...