Kemeriahan Jelang Berbuka Puasa di Pasar Sore Ramadan

Editor: Satmoko

218

LAMPUNG – Kekayaan kuliner selama bulan suci Ramadan menjadi kesempatan sejumlah desa di Lampung Timur menciptakan pasar sore Ramadan.

Waktu berbuka puasa menjadi kesempatan bagi warga untuk bisa berwisata dengan menikmati suasana sore sembari mencari menu berbuka puasa.

Pasar sore yang digelar di Masjid At Taqwa Desa Rejomulyo menjadi salah satu wisata kuliner selama bulan Ramadan.

Rudianto (52) salah satu penggagas pasar sore Ramadan menyebut, awalnya ia melihat potensi kuliner lokal di wilayah tersebut. Lokasi tempat berjualan yang tersebar dan tidak tertata selama bulan suci Ramadan disebutnya kerap menimbulkan kemacetan.

Rudianto (kanan) penggagas pasar sore Ramadan serta Partono (kiri) penanggungjawab Masjid At Taqwa Desa Rejomulyo Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur [Foto: Henk Widi]
Setelah berdiskusi dengan pengurus Masjid At Taqwa semenjak tahun 2010 sejumlah pedagang mulai dikumpulkan di halaman masjid.

Mendapat sambutan positif selama beberapa tahun, pedagang yang berjualan disebut Rudianto berjumlah di atas 50 pedagang. Lokasi tersebut berdekatan dengan destinasi wisata Muara Alam, objek wisata tirta yang berjarak ratusan meter dari pasar sore Ramadan.

Saat bulan suci Ramadan selain objek wisata alam, pasar sore menjadi destinasi warga dari beberapa wilayah Lampung Timur dan Lampung Selatan.

“Tradisi berjualan kuliner takjil sekaligus upaya pemerintah Desa Rejomulyo melestarikan kuliner tradisional serta menjadi destinasi wisata selama Ramadan,” terang Rudianto, selaku penggagas pasar sore Ramadan, saat ditemui Cendana News baru-baru ini.

Sebagian warga bahkan bisa mengajak serta anak-anak untuk bermain di wahana permainan anak-anak yang disediakan di lokasi pasar sore Ramadan berupa odong-odong dan wahana istana air. Lokasi yang terpusat juga membuat warga bisa memilih beragam kuliner berupa makanan dan minuman.

Nasi Tiwul serta sejumlah makanan tradisional menu berbuka puasa menjadi lokasi favorit wisata kuliner jelang berbuka puasa [Foto: Henk Widi]
Rudianto menyebut, kegiatan menyiapkan menu berbuka puasa menjadi kegiatan istimewa dibandingkan hari biasa. Berbagai sajian kuliner  berupa makanan tradisional yang hanya muncul saat Ramadan, bisa dijumpai di sini. Beberapa menu kuliner tradisional di antaranya buras, kue talam, putu mayang, kolak serta berbagai menu yang hanya muncul di kala Ramadan, tersaji.

“Kekayaan tradisi berbagai kuliner tradisional harus kita lestarikan tentunya dengan memberi fasilitas yang memadai,” papar Rudianto.

Melalui pasar sore Ramadan bisa menjadi wisata belanja sekaligus menjadi sarana edukasi bagi anak-anak mengenal beragam kuliner tradisional. Berbagai makanan tradisional menjadi sumber penghasilan tambahan bagi pedagang yang berjualan hanya saat bulan Ramadan. Keberadaan pasar sore Ramadan sebagai pusat wisata kuliner juga bisa ikut memakmurkan masjid.

Partono (72), selaku penanggungjawab Masjid At Taqwa menyebut, pasar sore Ramadan ikut mendukung kemakmuran masjid. Banyak warga yang datang, ada yang sekadar ingin bersosialisasi bersama rekan-rekannya, sembari membeli kuliner untuk berbuka puasa. Penyediaan lokasi parkir dan lokasi berjualan ikut memberi pemasukan bagi masjid dengan rata-rata per hari bisa mencapai Rp4 juta.

“Pedagang mendapat hasil yang lumayan pada akhir Ramadan. Biasanya juga bersedekah ke masjid. Pendapatan parkir dari pengunjung juga bisa untuk memakmurkan masjid,” terang Partono.

Yuni (30), salah satu pengunjung pasar sore Ramadan mengaku, kerap mengunjungi lokasi tersebut. Sebab ia mengaku mencari beberapa jenis kuliner yang belum pernah ditemuinya. Selain menjadi waktu memanfaatkan ngabuburit sembari berwisata, ia bisa mengenal sejumlah kuliner tradisional yang muncul saat Ramadan. Meski tidak semua kuliner dibelinya, ia bisa berwisata kuliner mengenal berbagai jenis hasil olahan khas Lampung Timur.

Pasar sore Ramadan disebutnya bukan sekadar wahana jual beli makanan, melainkan ajang bersosialisasi. Keanekaragaman kekayaan kuliner sekaligus menjadi sarana untuk mencintai adat dan budaya lokal.

Yuni bahkan menjadikan ajang berburu kuliner Ramadan untuk mengisi blog yang banyak mengulas kuliner. Sebab di masa Ramadan memang banyak bermunculan menu istimewa.

Lihat juga...

Isi komentar yuk