Ken Zuraida: Sudah Saatnya Film Tentang Pancasila, Dibuat

Editor: Koko Triarko

646
Ken Zuraida –Foto: Akhmad Sekhu.
JAKARTA – Ken Zuraida, istri sastrawan dan budayawan WS. Rendra (alm), yang sepeninggal suaminya melanjutkan pertunjukkan-pertunjukkan Bengkel Teater Rendra, kini menjalani pengalaman baru dengan membintangi film ‘Lima’. Film yang menyiratkan makna Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Hal yang mengejutkan bagi Ken, tentu karena film tersebut ditangani lima sutradara, yaitu Adriyanto Dewo, Harvan Agustriansyah, Lola Amaria, Tika Pramest dan Shalahuddin Siregar. Sebuah pengalaman baru yang bagi Ken, ‘ajaib’.
“Saya merasa ada sesuatu yang ajaib terjadi pada waktu sore. Saya dapat SMS untuk datang ke Lola Amaria Production, tidak terbayangkan sebelumnya, saya pikir saya harus bikin apa karena pekerjaan saya sehari-hari di panggung, jadi tidak ada hubungannya dengan film langsung,“ kata Ken Zuraida, seusai press screening film ‘Lima’ di XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (24/5/2018) malam.
Perempuan kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 15 Mei 1954, itu membeberkan ketika bicara pada Lola Amaria, tentang cerita yang sehari-hari dirinya bergulat di dalamnya dan sudah lama ia mengalaminya mengenai intoleran dan tragedi kemanusiaan lainnya, yang dirasakan terasa berat, dan ia merasa terpuruk, tapi ia kemudian menyepakatinya untuk terlibat dalam film tersebut.
“Ada benda kotak yang suka nyamperin saya, namanya kamera, itu robot yang menakutkan betul,“ beber jebolan Unpad, Bandung (1973) dan Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1974).
Sebagai pekerja panggung teater, Ken tentu asing dengan kamera. Begitu juga dengan set di lokasi syuting film yang beda dengan set panggung teater.
“Saya tidak terlalu mengerti dengan apa yang namanya set lokasi syuting film, tapi saya harus mengalami dan menjalani syutingnya,“ paparnya.
Setelah menjalani syuting film ‘Lima’, Ken merasa memang sepantasnya kita berbagi dalam film Lima, karena dengan berbagi tentu akan meringankan beban masalah kehidupan.
“Yang ajaib adalah tidak ada film yang sebelumnya dibuat dengan lima sutradara, sebenarnya itu yang seksi bagi saya, film Lima ini ajaib sekali,“ ungkapnya.
Cerita dalam film ‘Lima’ di antaranya dialami Ken mengenai anak buahnya di Bengkel Teater Rendra, yang meninggal dunia, tapi pengurus masjid yang terdekat menolak untuk menyalatkan anak buahnya, hanya karena KTP-nya tidak KTP kampung tersebut. Akhirnya, jenazah anak buahnya disalatkan di Bengkel Teater Rendra.
“Ini kenyataan yang menyentak kita. Hanya karena KTP menjadi problem, mari kita renungkan bersama,“ tegasnya.
Ken menyampaikan, bahwa sudah saatnya kita mempunyai film seperti ini, apalagi dirilis di saat Pancasila dipertanyakan.
“Film seperti ini memang sudah sepantasnya dibuat untuk kita jadikan renungan bersama,“ tandasnya, lagi.
Baca Juga
Lihat juga...