Kenduri Cinta Cak Nun Angkat Tema Jababiroh’

Editor: Satmoko

541

JAKARTA – Komunitas Kenduri Cinta (KKC) rutin menggelar diskusi bulanan di plaza Taman Ismail Marzuki (TIM).

Kali ini pada Jumat, 18 Mei 2018 mengangkat tema ‘Jababiroh’, yaitu sebuah zaman yang menganut kebebasan menjadi sebuah sikap yang diberhalakan. Perilaku maksiat, fitnah, kebohongan, dusta, ketidakadilan, keserampangan adalah hal yang biasa terjadi dan dimaklumi oleh siapa saja.

Jababiroh, zaman dimana umat Islam di seluruh penjuru dunia adalah umat yang paling banyak jumlahnya, namun kuantitas itu ibarat buih yang tampak di permukaan laut.

Cak Nun (pegang mic) berbicara di tengah Komunitas Kenduri Cinta (Foto Akhmad Sekhu)

Sebagaimana biasanya kegiatan tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai kalangan, baik anak muda maupun orang tua, perempuan, dan laki-laki. Acara dimulai sekitar pukul 20.30 WIB seusai tarawih dengan diawali dengan diskusi kecil yang menghadirkan beberapa narasumber. Dalam diskusi tersebut, para jamaah turut aktif menyampaikan pendapatnya tentang berbagai hal yang aktual terjadi sekarang ini.

Meski sempat beberapa saat diguyur hujan, tapi KKC tetap begitu semangat berdiskusi. Dinginnya angin malam terbakar semangat berdiskusi mereka yang tetap berkobar-kobar. Apalagi ketika sekitar pukul 23.00 WIB saat Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun mulai bicara, KKC semakin lebih bersemangat lagi mendekat dan mendengarkan dengan penuh hikmat.

“Sekarang bukan zaman Nabi dan Rasul. Juga bukan era dimana manusia terpilih diberi mandat langsung dan difasilitasi untuk menyebarkan nilai, “ kata Cak Nun.

Cak Nun membeberkan bahwa para pendahulu kita menyebutnya sebagai ‘Jababiroh’, yang dipenuhi berbagai berhala, seperti di antaranya berhala jabatan, berhala popularitas, berhala uang, berhala like dislike, berhala viral dan berbagai berhala lainnya.

“Manusia pada zaman ini tak memiliki pijakan untuk berdiri pada titik koordinat yang tepat dan seimbang,“ ungkapnya.

Cak Nun menekankan sekarang kita memang sedang memasuki zaman ‘Jababiroh’ dengan salah satu cirinya, yaitu memuncaknya maksiat.

“Maksiat bukan hanya ke tempat prostitusi, tapi juga maksiat itu ketika Anda mengatakan yang seharusnya tidak Anda katakan, ketika Anda melakukan yang seharusnya tidak Anda lakukan,“ bebernya.

Kalau ditarik garis berpuasanya, kata Cak Nun, puasa pekerjaan kita sehari-hari dan tidak mungkin kita hidup tanpa puasa.

“Tidak mungkin kita makan dilampiaskan sepuas-puasnya, Anda harus membatasinya. Begitu juga dalam bidang apapun ada batasan-batasannya,“ paparnya.

Jadi tidak ada hidup tanpa puasa. Orang-orang jamaah maiyah (KCC) tidak menunggu bulan Ramadan untuk menyadari betapa puasa itu adalah prinsip utama dalam hidup. Bukan hari rayanya.

“Bahkan kalau bisa seluruh hidup kita di dunia ini adalah puasa, karena hari raya itu di akhirat“ tegasnya.

Dunia bukanlah tempat kita membangun rumah, karena kita tidak hidup di dunia untuk selama-lamanya.

“Karena hidup kita di dunia memang amat sangat singkat maka gunakan hidup kita di dunia sebaik-baiknya untuk bekal hidup kita di akhirat  selama-lamanya,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...