Kesulitan BBM, Nelayan Pulau Pemana Butuh SPDN

Editor: Mahadeva WS

239

MAUMERE – Wilayah Pulau Pemana yang memiliki dua desa yaitu Desa Gunung Sari dan Desa Pemana membutuhkan Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN). Sarana tersebut dibutuhkan oleh masyarakat setempat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Dengan jumlah penduduk 5.300  jiwa, tercatat 2.500 orang diantaranya menjadi nelayan. “Kami sudah berulang kali mengusulkan agar SPDN dibangun di pulau Pemana, sebab saat nelayan hendak mengisi BBM jenis solar atau premium tidak perlu berlayar lagi ke kota Maumere dengan waktu tempuh sejam perjalanan,” ujar Kepala desa Pemana  La Ampo, Senin (21/5/2018).

Nelayan setempat selama ini mengisi BBM di SPDN di pelabuhan rakyat Wuring dan SPBU Mawarani di Waidoko. Kedua sarana tersebut milik Pemkab Sikka dan keduanya berada di kota Maumere. Untuk mendapatkan BBM di kedua SPDN tersebut, nelayan harus mendapatkan rekomendasi tertulis dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sikka.

Dengan rekomendasi tersebut, barulah nelayan bisa membeli dengan jeriken dengan alat angkut berupa mobil. Untuk mendapatkan BBM nelatan harus melewati jalur darat dan kapal yang dipergunakan harus ditambatkan TPI Alok atau pelabuhan Wuring.

Menurut La Ampo, ebuah SPDN yang selama ini ada di TPI Alok Maumere sudah lama tidak beroperasi. Kondisi tersebut membuat nelayan kesulitan mendapatkan BBM karena hanya ada satu SPDN yang khusus melayani nelayan di Kabupaten Sikka. “Kalau dibangun di Pemana nelayan tidak perlu membeli di Maumere lagi. Terkadang nelayan pulang melaut sudah malam, sampai di Maumere SPBU sudah tutup sehingga tidak bisa melaut,” ungkapnya.

Kepala dinas Kelautan dn Perikanan kabupaten Sikka, Heribertus Krispinus. Foto : Ebed de Rosary

Kepala dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kabupaten Sikka Heribertus Krispinus kepada Cendana News menjelaskan, SPDN yang dibangun di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Alok Maumere milik Pemkab Sikka. Hanya saja pengelolaannya diserahkan kepada Koperasi Ekonomi Masyarakat Pesisir dan sejak 2014, SPDN tersebut sudah tidak beroperasi.

Pembangunan SPDN tersebut mempergunakan anggaran pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan dilakukan pada masa Bupati Sikka Drs.Alex Longginus. “Saya hanya mengetahui SPDN ini tidak beroperasi lagi dan pengurusnya juga tidak aktif dan tidak pernah melakukan rapat anggota tahunan. Dalam posisi seperti ini saya sementara berusaha agar dihidupkan kembali karena sudah lama SPDN ini dibiarkan telantar,” tuturnya.

Selama diurus koperasi, dinas dan pemerintah daerah menurut Heri tidak mengetahui seperti apa sistem, manajemen dan berapa keuntungannya. Dirinya hanya mengetahui semuanya untuk kepentingan koperasi.

Lihat juga...

Isi komentar yuk