KPK Panggil Wakil Bupati Bengkulu Selatan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

195
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah. Foto: Eko Sulestyono

JAKARTA — Wakil Bupati Bengkulu Selatan, Gusnan Mulyadi dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi kasus dugaan suap atau gratifikasi dengan tersangka Dirwan Mahmud.

Dirwan Mahmud, Bupati Bengkulu Selatan non aktif saat ini masih menjalani masa penahanan sementara dan dititipkan dalam Rumah Tahanan (Rutan) cabang KPK di Jakarta.

Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah menjelaskan, selain Gusnan, penyidik juga memanggil lima orang saksi lainnya yang akan menjalani pemeriksaan di Gedung KPK Merah Putih, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Keterangan sejumlah saksi diperlukan untuk melengkapi berkas pemeriksaan tersangka,” kata Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Sejumlah saksi lainnya yang dipanggil masing-masing, Suhadi (mantan Kepala Dinas PUPR Bengkulu Selatan), Nusadian Eka Putra (Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Bengkulu Selatan), Nurhadi alias Nuang (Kepala Urusan Pemenerintahan Desa Tungkal I Bengkulu Selatan), Bahrensyah dari unsur swasta dan Hari Julian, sopir pribadi Kadis PUPR.

Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi tersebut merupakan hasil pengembangan dari kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar KPK di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Hingga saat ini penyidik KPK telah menetapkan empat orang sebagai tersangka.

Keempat tersangka tersebut masing-masing adalah Dirwan Mahmud (Bupati Bengkulu Selatan), Hendrati (istri Dirwan Mahmud), Nursilawati (keponakan Hendrati) dan Juhari seorang kontraktor di daerah setempat. Keempat tersangka tersebut hingga saat ini masih menjalani masa penahanan di Rutan KPK.

KPK menduga bahwa penerimaan sejumlah uang tersebut sebagai imbalan untuk memenangkan lelang tender lima proyek pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Selatan.

Kelima proyek pembangunan infrastrukstur jalan dan jembatan tersebut nilai kontraknya diperkirakan sekitar Rp750 juta. Dirwan Mahmud diduga menerima fee sebesar Rp112,5 juta dari Juhari melalui perantaraan Nursilawati dan Hendrati.

Baca Juga
Lihat juga...