Kurang Inovasi, Kerajinan Kere Rumbia Kalah Bersaing

Editor: Mahadeva WS

263

YOGYAKARTA – Kurangnya inovasi serta banyaknya produk pesaing berbahan plastik dari luar negri, menjadi kendala usaha kerajinan Kere berbahan baku kayu Rumbia di DIY. 

Para perajin di wilayah Bantul Yogyakarta menyebut, omset penjualan terus mengalami penurunan sejak beberapa tahun terakhir. Mereka mengeluhkan semakin sulitnya menjual produk kerajinan tradisional itu sejak 2-3 tahun belakangan.

Jika biasanya mampu menjual kere Rumbia 250 lembar per bulan. Kini para perajin hanya mampu menjual kurang dari jumlah tersebut. “Sejak beberapa tahun terakhir ini penjualan semakin menurun. Dulu 2.000 lembar kere itu dalam waktu tujuh bulan selalu habis. Tapi sekarang sampai delapan bulan lebih belum juga habis,” ujar salah seorang pengrajin kere Rumbia, di kawasan Pleret, Bantul, Handi, Selasa (29/5/2018).

Selain karena semakin banyak perajin yang bermunculan, Handi menyebut, produk berbahan modern seperti plastik dan pvc dari luar negri juga mempengaruhi penjualan kerajinan kere Rumbia.  “Sekarang kan banyak produk seperti ini dari luar, misalnya sekat ruangan dari plastik pvc dsb, otomatis berdampak ke produk kita. Orang lebih memilih yang plastik karena dinilai lebih awet,” tandasnya.

Disamping itu, tidak adanya perubahan atau perkembangan desain produk juga ikut menjadi faktor penyebab turunnya omset. “Memang dari dulu kita jual seperti ini. Polos. Karena ciri khasnya memang seperti itu,” ujarnya.

Handi mengaku mendatangkan seluruh bahan baku utama pembuatan kere berupa kayu Rumbia dari Palembang Sumatera Selatan. Bahan baku yang dipasok oleh kerabatnya, kemudian dirangkai dan dijual secara keliling di Bantul, Yogyakarta dan sekitarnya.

“Untuk ukuran kere bermacam. Sedikitnya ada 4 jenis. Ukuran 1 sampai 2,5 meter. Harganya dari Rp40-180ribu. Setiap hari ada 7 orang yang berjualan keliling. Tidak hanya di Bantul, tapi juga di Jogja Sleman sampai Kulonprogo dan Gunungkidul,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...