Lahan Bekas Galian Pasir di Lampung Timur Dibuat Kolam

Editor: Koko Triarko

336

LAMPUNG — Penambangan pasir sedot di lahan terbuka di wilayah Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur, telah berlangsung puluhan tahun.

Jutaan kubik pasir bahan bangunan yang sudah ditambang menyisakan bekas galian besar dengan kedalaman satu meter hingga belasan meter. Luas galian pasir di wilayah kecamatan Pasir Sakti yang mencapai ratusan hektare, sebagian dibiarkan menjadi embung dan sebagian lagi dimanfaatkan warga.

Agus Siswanto (34) salah satu warga Desa Rejomulyo, Pasir Sakti, merupakan salah satu warga yang memanfaatkan eks galian pasir tersebut. Bermodal keinginan untuk memiliki usaha, ia memanfaatkan bekas tambang pasir dengan membeli lahan seluas satu hektare.

Sebagian lahan harus ditimbun dengan batu, tanah dan pasir untuk bangunan dan sebagian dipertahankan sebagai kolam.

Agus Siswanto, warga Desa Rejomulyo, Pasir Sakti, Lampung Timur memperlihatkan kolam bekas galian pasir menjadi lokasi budi daya lobster, ikan nila, ikan mas, betutu dan beberapa jenis ikan air tawar lainnya. [Foto: Henk Widi]
Satu petak bekas galian pasir disebutnya memiliki kedalaman hingga dua meter, dan dipergunakan untuk budi daya ikan air tawar. Sebagian kolam tersebut sudah berisi ikan ikan liar yang berasal dari sungai dan masuk ke area kolam.

Meski demikian, ia menambah benih ikan jenis nila sebanyak 20.000 ekor, ikan emas 10.000 ekor dan sebagian ikan mujahir, gurame yang jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor.

“Selain benih ikan yang saya budidayakan, sejak ada genangan air bekas galian pasir ikan endemik Pasir Sakti di antaranya gabus, betutu, lobster air tawar dan mujahir sudah berkembangbiak alami. Tinggal saya beri pakan rutin,” terang Agus Siswanto, Senin (21/5/2018).

Ia mengatakan, pemberian pakan dilakukan dengan pakan buatan jenis pelet. Selain itu, menjaga kondisi kolam yang tetap alami membuat ikan air tawar yang dikembangkan bisa memperoleh pasokan pakan alami dari lumut.

Setelah hampir satu tahun melakukan budidaya, sebagian besar ikan yang dikembangkan sudah bisa dipanen.

Pemanenan ikan air tawar dilakukan parsial, dengan pemilahan ikan siap konsumsi. Jenis ikan budi daya yang kerap ditangkap di antaranya ikan emas, mujahir, gurame, nila, dengan ukuran 2,5 ons atau satu kilogram berisi sekitar empat ekor ikan.

Selain mempergunakan jala, penangkapan ikan dengan pancing sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Saya mulai membuat kolam pemancingan dengan sistem timbang dan lokasi bekas galian pasir menjadi objek wisata bernama Muara Alam, sekaligus tempat budi daya ikan,” terang Agus Siswanto.

Budi daya lobster air tawar, ikan betutu serta ikan gabus yang secara alami hidup di kolam diakui Agus Siswanto terus berkembang. Khusus untuk lobster, ia menggunakan teknik penangkapan memakai bubu kawat yang diberi umpan.

Sejumlah pemancing yang saat sore hari datang untuk memancing, katanya, kerap memperoleh hasil satu hingga dua kilogram. Setelah mendapat ikan, hasilnya bisa ditimbang untuk dibawa pulang dengan harga Rp30.000 per kilogram.

Konsep budi daya ikan untuk pemancingan, diakuinya sekaligus ikut menjaga kelestarian ikan di kolam miliknya. Dan, kolam dengan luas setengah hektare tersebut terus dikembangkan luasnya dengan menyewa lahan yang tidak dimanfaatkan.

Dalam waktu dekat, Agus Siswanto mengaku akan mengembangkan budi daya ikan air tawar dengan sistem keramba jaring apung.

Pengembangan tersebut dilakukan setelah ia bisa menyewa kolam bekas galian pasir yang tidak terpakai milik warga lain di dekat lahan yang dikelolanya.

Berbagai jenis ikan yang akan dikembangkan selain jenis ikan emas, nila, gurame akan ditambah dengan jenis ikan lele dan ikan patin. Rata-rata per hari pemancing datang dengan biaya Rp20.000 mendapat fasilitas umpan dan pancing dan asumsi per kilogram ditimbang seharga Rp30.000, ia bisa mendapatkan Rp50.000 dengan menyediakan kolam pemancingan.

“Bagi warga yang tidak ingin memancing, tapi ingin makan ikan air tawar biasanya sudah kami sediakan ikan segar dalam keramba jaring,” beber Agus Siswanto.

Di setiap tepi kolam, Agus Siswanto juga menyediakan belasan saung terbuat dari kayu, bambu sebagian dari rangka baja. Selain sebagai lokasi untuk bersantai, lokasi tersebut kerap dipergunakan para pemancing.

Agus Siswanto menyebut pemanfaatan bekas galian pasir untuk budi daya ikan juga mulai dilirik warga lain dengan sistem keramba. Bagi pemilik modal cukup seperti dirinya, kolam pemancingan sekaligus lokasi budi daya bisa menjadi nilai tambah.

Menebar bibit hingga puluhan ribu benih ikan air tawar, diakui Agus Siswanto secara bertahap ikan yang sudah dipanen hampir mencapai satu ton.

Selain dipanen dengan sistem pemancingan oleh pemancing, pemanenan ikan yang sudah besar dengan jala kerap dilakukannya. Ikan jenis gurame dan emas menjadi salah satu ikan favorit di kolam miliknya, yang dijual sebagai ikan bakar, sebagian dibeli dalam kondisi segar.

Baca Juga
Lihat juga...