Larangan Alat Tangkap Berbahaya Ikut Jaga Laut di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

168

LAMPUNG — Sejumlah nelayan di wilayah pesisir Lampung Selatan sempat mengeluhkan aturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait larangan penggunaan alat penangkapan ikan(API) jaring trawls, bahan peledak dan racun ikan jenis sianida. Meski sempat menurunkan penghasilan namun memiliki dampak positif bagi lingkungan laut.

“Penggunaan trawls dan peledak serta racun ikan memang merusak terumbu karang di wilayah pesisir dengan adanya penyuluhan dari instansi terkait nelayan mulai melakukan perubahan pola penangkapan ikan,” papar salah satu nelayan di pantai Belebuk desa Totoharjo, Sudin, Rabu (16/5/2018).

Sudin, menyebut trawls dan bahan peledak sempat jamak digunakan beberapa tahun silam namun pelaku penggunaan bahan peledak biasanya berasal dari luar daerah berasal yang melintas di perairan Lampung Selatan. Bahkan sejumlah nelayan yang mendekat dan hendak mengingatkan justru dihalau dan diancam akan dilempar bahan peledak.

“Setelah melapor ke pihak keamanan para pelaku tak berani kembali ke lokasi meski dampak kerusakan terumbu karang tak bisa dihindarkan,” sebutnya.

Sudin menyebut butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi kerusakan lingkungan terumbu karang tersebut. Selain akibat bahan peledak dan racun ikan ia memastikan penggunaan pukat trawls ikut menarik terumbu karang saat menangkap ikan.

Semenjak tahun 2016 sejumlah nelayan disebutnya mulai mempergunakan alat tangkap ramah lingkungan jenis pancing rawe dasar, jaring lapan lapan, rumpon serta bagan apung.

Dampak positif lainnya yang dirasakan nelayan di antaranya menggeliatnya pariwisata di pesisir pantai. Hal tersebut memberikan keuntungan bagi nelayan dengan menjadi penyedia jasa ojek perahu.

“Jika mencari ikan dalam sehari saya hanya bisa mendapat hasil sedikit tapi dengan menyediakan jasa ojek wisata hasilnya lumayan,” beber Sudin.

Dalam sekali menangkap ikan ia mendapatkan hasil Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Namun semenjak ada kegiatan wisata ia bisa menawarkan jasa ojek dengan penghasilan total sehari bisa Rp200 ribu bahkan bisa mencapai Rp500 ribu saat kunjungan wisatawan meningkat.

salah satu nelayan
Sudin, salah satu nelayan di desa Totoharjo kecamatan Bakauheni pencari ikan dengan sistem pancing dasar [Foto:Henk Widi]
Lingkungan perairan dengan ekosistem terumbu karang untuk habitat ikan yang menarik kerap dijadikan tempat menyelam. Program penanaman terumbu karang oleh sejumlah komunitas peduli lingkungan pesisir dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) ikut memulihkan kondisi lingkungan di sekitar Pulau Sekepol dan Pulau Mengkudu.

Pelarangan penggunaan alat tangkap yang merusak lingkungan perairan juga disambut positif nelayan pesisir Bakauheni. Herman di antaranya menyebutkan, awalnya sulit mencari jenis ikan japu bahan ikan asin yang kerap tertangkap oleh pengguna trawls.

Sebagai nelayan dengan modal kecil dan peralatan jaring sederhana ia bahkan kalah dengan pengguna bahan peledak dan racun ikan di sekitar pulau rimau lunik, pulau kandang.

“Semenjak ada larangan alat tangkap trawls dan peledak ekosistem laut kembali normal dan nelayan kecil seperti kami bisa memperoleh tangkapan,“ tuturnya.

Selain mengembalikan lingkungan terumbu karang yang baik di sekitar pulau Rimau akibat penggunaan racun, nelayan tradisional bahkan bisa memperoleh hasil yang lebih baik.

Sejumlah nelayan yang sempat menggunakan alat tangkap berbahaya di antaranya mulai diberi penyuluhan dan bantuan alat budidaya jenis keramba jaring apung (KJA). Hasilnya lingkungan perairan di sekitar Bakauheni dan Ketapang bisa dipergunakan lagi oleh nelayan untuk budidaya rumput laut dan kerang hijau.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.