hut

Mahasiswa UMB Ajari Warga ‘Kampung Geulis’ Gunakan Medsos

Editor: Koko Triarko

DEPOK – Lima mahasiswa Universitas Mercu Buana (UBM) Jakarta, menyambangi ‘Kampung Geulis’ (Green Urban Life Style) di Kota Depok, Jawa Barat. Mereka bersama remaja perempuan dan para ibu desa setempat, berbaur dan berbagi kiat mempromosikan produk unggulan, seperti kuliner, melalui media sosial.
Kelima mahasiswa itu, Ana Anita Wardani, Cipto Soedrajat, Fransiska, Risty Mandasari, dan M. Ihsan, didampingi dua dosen, Dewi Sad Tandi dan Gadis, tengah menunaikan tugas pengabdian masyarakat bertajuk ‘Sosialisasi Medsos Sebagai Media Promosi Bagi Pedagang Pasar Geulis’.
Dosen pendamping, Dewi Sad Tandi (kiri) dan mahasiswa KPN di Kampung Geulis Kota Depok, Cipto Soedrajat. -Foto: Makmun Hidayat
“Selain menuntut ilmu di kampus, kami punya program Kuliah Peduli Negeri. Meski (mahasiswa) sudah bekerja di mana-mana, kita tidak boleh lupa amal. Tapi, amalnya berdasarkan yang kami mampu. Kuliah ini kita akan menganilisis kita punya ilmu apa, lalu akan kita satukan dengan kebutuhan masyarakat. Jadi, inilah yang disebut Kuliah Peduli Negeri dengan banyak macamnya,” kata Dewi Sad Tandi, saat memberi sambutan pada acara Kuliah Peduli Negeri di Gedung Serba Guna, RW 07 Mekarjaya, Sukmajaya, Kota Depok, Minggu (27/5/2018).
Dewi Sad yang juga Secretary Advertising and Marketing Communication Major Fakultas Ilmu Komunikasi UMB, memuji warga ‘Kampung Geulis’ yang super dalam memoles lingkungannya menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Depok, dengan konsep destinasi wisata mural.
“Teman-teman mahasiswa sudah bagus memilih sini (Kampung Geulis) yang telah mempunyai potensi, tinggal melanjutkan kebutuhan warga apa dan mahasiswa punya ilmu apa dipadukan,” tutur perempuan yang memulai karir dosen sejak 2002 di Surabaya dan pernah menjadi wartawan ini.
Sementara itu, salah satu mahasiswa, Cipto Soedrajat, memaparkan tentang apa itu medsos dan bagaimana menggunakannya untuk memberi nilai lebih pada produk.
Cipto bersama mahasiswa juga dosen pendamping, melibatkan langsung para ibu dan remaja perempuan, membidikkan kamera foto yang pas, sehingga hasilnya bagus. Setelah itu, dilakukan proses editing langsung dari hasil jepretan masing-masing, dengan aplikasi tertentu, lalu di-publish.
Kepada Cendana News, Cipto mengatakan, saat ini hampir kegiatan masyarakat Indonesia 70 persen berada di dunia online. Karenanya, media sosial sangat penting untuk mendukung promosi sebuah produk.
“Masyarakat di sekitar ‘Kampung Geulis’ memiliki potensi yang sangat besar dalam dunia kuliner. Karena kuliner merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan, makanan akan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, ketika dikemas secara baik,” ujarnya.
Menurut Cipto, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat konten promosi di media sosial adalah konten yang harus unik dan menarik. Juga pemilihan media sosial yang tepat untuk produk konten tersebut.
“Tema juga harus disesuaikan dengan karakter media sosial, misalnya facebook, harus memiliki caption yang detil. Tak kalah pentingnya adalah promosi dilakukan secara berulang atau kontinyu”, jelasnya.
Sementara itu, Ana Anita Wardani, melihat kelebihan media sosial yang relatif praktis untuk berpromosi tanpa biaya mahal. Kampung Geulis sebagai salah satu destinasi wisata urban di Depok adalah salah satu lokasi Generasi Pesona Indonesia (GenPi) yang juga perlu dipromosikan secara gencar melalui media sosial.
Dia berharap, masyarakat bisa lebih memanfaatkan media sosial dalam memasarkan produk rumahan yang dibuatnya. Menurutnya, meski makanan biasa, tetapi konten dan fotonya lebih mudah diserap oleh netizen. Selain itu, hastag juga penting dalam berpromosi.
“Sebuah produk, misalnya makanan, penting untuk dipromosikan agar bisa dikenal banyak orang atau khalayak, memperluas pasar, mengajak orang untuk berkunjung ke ‘Kampung Geulis’,” sebutnya.
Salah satu peserta, Nani, mengaku warga ‘Kampung Geulis’ kompak selalu mendukung kegiatan yang membawa kemajuan lingkungan. Dia mengatakan, materi yang disampaikan para mahasiswa baik sekali untuk menambah ilmu dan wawasan.
Nani mengingat benar bagaimana praktik cara penataan penjualan melalui medsos yang baik, membawa kesan berbeda orang. “Tadinya dengan tataan yang biasa saja, lalu dengan pemolaan yang baik orang jadi tertarik,” ungkapnya.
Dosen pendamping, Dewi Sad Tandi, berharap Kuliah Peduli Negeri di ‘Kampung Geulis’ dapat menjadikan ibu-ibu lebih memaksimalkan medsos untuk media promosi dan bisa bermanfaat.
“Kita memaksimalkan ibu-ibu di sini yang sudah punya instagram dan ada produk, ini termasuk praktik-praktik marketing communication. Jadi, memaksimalkan media sosial sebagai media promosi,” pungkasnya.
Lihat juga...