Maksimalkan Lahan Pertanian, Petani Kerinjing Kenali Perubahan Iklim

Editor: Satmoko

331

LAMPUNG – Penurunan curah hujan dalam beberapa bulan terakhir di sejumlah wilayah termasuk Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan berimbas pada sektor pertanian.

Jayusman (48) salah satu petani di Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa menyebut memperhatikan pola iklim untuk lahan pertanian yang dimilikinya. Selama satu tahun memanfaatkan lahan seperempat hektar dirinya mengaku menanam jenis tanaman mentimun sumber benih dan mentimun konsumsi.

Pola penanaman komoditas pertanian tanpa membutuhkan air banyak berbeda dengan padi.

Perubahan iklim disebut Jayusman membuat kawasan lahan pertanian sawah di wilayah kaki Gunung Rajabasa sebagian tidak tercukupi oleh air untuk pengairan lahan pertanian.

Terjadinya jumlah hujan dan pola hujan yang berimbas pada pergeseran awal musim dan periode tanam bahkan membuat petani beralih ke penanaman komoditas pertanian lain.

Jika sebelumnya petani masih menanam padi, namun ketersediaan air yang minim membuat setengah tahun terakhir petani beralih menanam komoditas sayuran, jagung manis, jagung hibrida serta timun benih.

Sebagian lahan persawahan di desa Kerinjing kecamatan Rajabasa yang kekurangan pasokan air dialihfungsikan menjadi lahan pertanian jagung dan sayuran [Foto: Henk Widi]
“Saluran irigasi masih mempergunakan siring alam. Saat musim curah hujan kurang petani enggan menanam padi sawah. Sebagian beralih menanam jagung agar lahan tetap bisa menghasilkan secara ekonomi,” terang Jayusman, salah satu petani di Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa saat ditemui Cendana News, Sabtu (26/5/2018).

Jayusman menyebut, pemanfaatan lahan tersebut sekaligus upaya petani yang telah mendapatkan dukungan pola kemitraan dari perusahaan benih. Melalui pola kemitraan petani juga dilatih mempelajari pola perubahan iklim termasuk dampak perubahan pola hujan bagi sistem pertanian.

Ia menyebut dari para pendamping kemitraan untuk budidaya timun benih ia bisa memahami pola hujan yang mempengaruhi waktu dan musim tanam, pola tanam, degradasi lahan, kerusakan tanaman, dan produktivitas tanaman.

Apalagi disebut Jayusman, kontur perbukitan di lereng Gunung Rajabasa sekaligus menghadap ke laut Selat Sunda membuat lahan pertanian di wilayah tersebut harus dipahami oleh petani.

Lahan sawah milik warga yang masih bisa dialiri air dipergunakan untuk menanam padi varietas Ciherang [Foto: Henk Widi]
Saat kondisi iklim didominasi angin barat dan timur dari perairan Selat Sunda seperti badai siklon tropis Dahlia diakui Jayusman ikut berdampak pada hasil pertanian. Pada saat penanaman mentimun benih tipe 24 dirinya memperoleh sekitar 19,6 kilogram dengan perolehan Rp8 juta. Mentimun tipe 27 sebanyak 8 kilogram memperoleh sekitar Rp5,4 juta.

“Pengaruh iklim dengan dominasi angin dan hujan juga berimbas pada pembungaan dan penyerbukan,” papar Jayusman.

Sebaliknya kekeringan disebutnya sekaligus menjadi penghambat bagi petani untuk melakukan penanaman. Meski rentan perubahan iklim dengan perubahan pola hujan serta suhu udara dan kekeringan, namun dengan mempelajari perhitungan untuk melakukan aktivitas pertanian Jayusman mengaku petani bisa memilih untuk menanam jenis tanaman tertentu.

Bagi lahan yang masih bisa dialiri air irigasi, Jayusman menyebut, masih bisa menanam padi varietas Ciherang, sebagian memanfaatkan lahan untuk budidaya jagung.

Jayusman bahkan melakukan penggarapan lahan dengan sistem kontrak pada lahan yang semula ditanami padi dan tidak dimanfaatkan. Penggunaan lahan seluas satu hektar untuk menanam jagung karena penanaman jagung tidak memerlukan air yang banyak.

Menanam sebanyak 45 kilogram benih jagung ia menyebut dengan pola tanam yang bagus ia bisa memperoleh hasil sekitar 5 hingga 6 ton jagung.

“Proses penanaman benih dilakukan dengan sistem tajuk pada lahan setelah dialiri air, namun sebagian ada benih yang tidak tumbuh harus disulam,” terang Jayusman.

Pola penanaman berselang memanfaatkan musim yang ada disebut Jayusman sekaligus karena ia belajar melalui sejumlah buku. Buku tersebut diakuinya dipinjam dari Perpustakaan Desa Wahana Ilmu terkait pemanfaatan waktu tanam menyesuaikan musim.

Kebutuhan air untuk lahan pertanian disebut Jayusman ikut memberi dampak bagi lahan pertanian, namun dengan pemahaman petani bercocok tanam tetap masih bisa dilakukan.

Jenis tanaman yang ditanam menyesuaikan iklim sehingga petani tidak membiarkan lahan tanpa dimanfaatkan. Dalam beberapa tahun terakhir Jayusman memastikan iklim serta cuaca kerap berubah seketika sehingga petani harus bisa menyesuaikan jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan agar memberi keuntungan.

Selain berdampak pada lahan pertanian ia memastikan perubahan cuaca ikut berpengaruh pada hadirnya organisme pengganggu tanaman (OPT).

Selain pendamping dari perusahaan mitra, kehadiran penyuluh pertanian diakuinya menyumbang penting dalam upaya petani melakukan usaha sektor pertanian. Sebab saat ini petani didorong melakukan upaya khusus padi, jagung dan kedelai serta percepatan luas tambah tanam dalam upaya swasembada pangan.

  1. Program tersebut harus tetap memperhatikan kondisi iklim dan cuaca yang disebutnya memiliki dampak besar bagi pertanian.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.