Masa Jaya Petinju Ellyas Pical dan Nasehat Pak Harto

Editor: Koko Triarko

399

JAKARTA – Pada masa Orde Baru, ada seorang petinju yang mengharumkan nama Indonesia di dunia olahraga tinju, yaitu Ellyas Pical. Seorang petinju juara dunia pertama Indonesia.

Tanggal 3 Mei adalah hari bersejarah bagi legenda tinju nasional itu, 33 tahun yang lalu, tepatnya pada 3 Mei 1985, ketika Ellyas Pical berhasil merebut gelar tinju dunia IBF dari Judo Chun, petinju dari Korea Selatan.

Bangsa Indonesia tentu bangga saat melihat wasit Joe Cortez mengangkat tangan Ellyas Pical di atas ring, sesaat setelah petinju Korea Selatan, Ju Do-chun, terjatuh di ronde ke-8. Sebuah peristiwa sangat bersejarah dalam dunia olahraga tinju ditorehkan di Istora Senayan, Jakarta, seorang petinju Indonesia untuk pertama kalinya menjadi juara dunia.

Atas prestasi yang begitu sangat gemilang, Ellyas Pical diundang khusus oleh Presiden Soeharto ke Bina Graha, Istana Negara. Sebuah kehormatan bagi Ellyas Pical yang baru saja menggondol sabuk kejuaraan dunia kelas super terbang versi IBF.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 9 Mei 1985, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co dalam buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988”, yang ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003, bahwa Presiden Soeharto menerima petinju Ellyas Pical, yang didampingi Wakil Ketua Komisi Tinju Indonesia, Mohammad Anwar, promotor Boy Bolang, pelatih Simson Tambunan dan ibu Ellyas Pical, Ny. Suzana.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Soeharto memberikan nasehat bijaksana kepada sang juara, Ellyas Pical. Sebuah wisdom untuk mengingatkan seorang yang tengah berada dalam puncak pujaan kepada ilmu padi, yakni makin runduk ketika makin berisi. Berlatihlah baik-baik, tidak hanya fisik dan teknik, tetapi juga kepercayaan diri sendiri.

Harapan Presiden Soeharto pada Ellyas Pical, juara tinju kelas super terbang versi IBF, agar tetap rendah hati atas kemenangan yang baru diraihnya. Seperti adagium, bahwa meraih gelar juara lebih mudah daripada mempertahankannya.

Kepala Negara juga berpesan, Elly jangan menjadi sombong, karena watak sombong, bukan merupakan falsafah bangsa Indonesia.

Presiden Soeharto mengingatkan, kemenangan yang diperoleh petinju Indonesia, karena anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Karenanya jangan lupa kepada Tuhan dan orang tua.

Sekarang ini tantangan bukan hanya untuk Elly, tetapi juga untuk organisasi tinju dan bangsa Indonesia,“ kata Presiden Soeharto, waktu itu, mengingatkan.

Pada akhir pertemuan, Presiden Soeharto menghadiahkan kepada Ellyas Pical sebuah arloji berlapis emas yang di dalamnya terdapat foto Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.

Saat menghadap Presiden Soeharto, Ellyas Pical mengenakan baju khas daerahnya, daerah Maluku, yaitu baju stelan “baniang”, baju wama merah hati dengan celana berwarna hitam.

Ellyas Pical senang sekali dapat diterima oleh Presiden Soeharto, namun pembawaan juara dunia yang baru ini, memang agak pemalu dan kurang lancar berbicara. Demikian pula ibunya, merasa sangat bahagia, anaknya telah menang dan merebut gelar juara tinju kelas dunia, apalagi lalu dapat diterima Presiden Soeharto.

Pada masa kecil, Ellyas Pical, seperti rekan-rekan sebayanya di kampung, adalah seorang pencari mutiara alami, yang menyelam sampai ke dasar laut untuk mencari mutiara alam. Karena seringnya menyelam saat kecil itu, pendengaran Ellyas Pical agak kurang peka.

Lelaki kelahiran Ullath, Saparua, Maluku Tengah, Maluku, 24 Maret 1960, itu jatuh cinta kepada olahraga tinju sejak menonton pertandingan-pertandingan tinju di TVRI, satu-satunya TV pada waktu itu, terutama pertandingan Muhammad Ali.

Ellyas Pical telah menggeluti olahraga tinju sejak berusia 13 tahun, dengan berlatih sembunyi-sembunyi, karena dilarang oleh kedua orang tuanya. Sebagai petinju amatir yang bermain di kelas terbang, ia kerap menjadi juara mulai dari tingkat kabupaten hingga kejuaraan Piala Presiden.

Karier profesional Ellyas Pical dimulai pada 1983 dalam kelas bantam junior. Sejak itu, berturut-turut sederet prestasi tingkat dunia diraihnya, seperti juara OPBF setelah mengalahkan Hi-yung Chung asal Korea Selatan dengan kemenangan angka 12 ronde pada 19 Mei 1984 di Seoul, Korea Selatan.

Atas kemenangan ini, Ellyas Pical menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar internasional di luar negeri.

Pukulan hook dan uppercut kirinya yang terkenal cepat dan keras itu, membawa Ellyas Pical ke puncak popularitas. Oleh pers, pukulan tersebut dijuluki sebagai “The Exocet”, merujuk pada nama sebuah rudal milik Perancis yang digunakan oleh Argentina yang dalam Perang Malvinas yang berkecamuk pada masa jaya Ellyas Pical, saat itu.

Ellyas Pical merebut gelar juara IBF kelas bantam yunior (atau kelas super terbang) dari petinju Korea Chun Ju-do di Jakarta pada 3 Mei 1985. Setelah mempertahankan gelar melawan petinju Australia, Wayne Mulholland, 25 Agustus 1985, Ellyas Pical harus mengakui keunggulan petinju Republik Dominika, Cesar Polanco, dengan angka di Jakarta. Namun, Ellyas Pical mampu bangkit dan membalas kekalahannya atas Polanco dengan balik memukul KO Polanco pada pertandingan kedua di Jakarta, 5 Juli 1986.

Sempat mempertahankan gelar melawan petinju Korea Selatan, Dong-chun Lee, langkah Ellyas Pical terhenti setelah menyerah dari petinju Thailand, Khaosai Galaxy dengan KO pada ronde 14, pada 1987.

Setelah terjadi pergulatan batin berbulan-bulan karena depresi pascakekalahan melawan Galaxy, Ellyas Pical mampu bangkit dan merebut gelar IBF kelas bantam yunior kembali dari sang juara bertahan waktu itu Tae-ill Chang, juga dari Korea Selatan.

Gelar ini sempat bertahan sampai dua tahun, hingga akhirnya Ellyas Pical harus terbang ke Ronoake, Virginia, Amerika Serikat untuk mempertahankan gelar melawan Juan Polo Perez dari Kolombia, (4 Oktober 1989), dan Pical harus menyerahkan gelarnya setelah kalah angka.

Pascakekalahan dari Perez, Ellyas Pical sempat bertanding nongelar sebanyak tiga kali, hingga akhirnya ia sedikit demi sedikit menyingkir dari ring tinju. Ellyas Pical yang tidak sempat lulus SD ini kemudian bekerja sebagai petugas keamanan (satpam) di sebuah diskotik di Jakarta.

Pada saat bekerja sebagai satpam, Ellyas Pical ditangkap pada 13 Juli 2005 oleh polisi, karena melakukan transaksi narkoba. Penangkapannya sempat menuai kritikan dari berbagai pihak yang menyoroti tiadanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah kepada atlet yang telah mengharumkan nama negara. Ellyas Pical lalu divonis hukuman penjara selama 7 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Setelah bebas dari penjara, Ellyas Pical diterima bekerja di KONI pusat, sebagai asisten ketua KONI, Agum Gumelar.

Sepanjang karier profesionalnya, rekor Ellyas Pical adalah 20 kemenangan (11 KO), 1 seri, dan 5 kekalahan. Dari pernikahannya dengan Rina Siahaya Pical, ia memperoleh dua orang putra: Lorinly dan Matthew, kini tinggal di perumahan Duta Bintaro, Kabupaten Tangerang.

Sebagaimana yang dinasehatkan Presiden Soeharto pada Ellyas Pical mengenai ilmu padi, yakni makin runduk ketika makin berisi. Bahwasannya, semestinya kita memang harus rendah hati dalam hidup ini, yang tentu kita semua mengalami suka-duka maupun jatuh-bangun, semua atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.