Masjid Harus Jadi Penangkal Berita Bohong

Editor: Mahadeva WS

200

YOGYAKARTA – Seluruh elemen dan kekuatan umat Islam harus bersatu untuk menangkal berita bohong atau hoax yang saat ini banyak muncul khususnya di media sosial. Masyarakat, khususnya penggerak masjid, harus mampu menjadi percontohan dalam upaya menangkal berita bohong.

Hal itu diperlukan untuk meminimalisir dampak adanya berita bohong. “IT saat ini sudah menjadi live style masyarakat. Sementara kita tahu berita-berita hoax di IT sangat besar. Karena itu kekuatan elemen umat Islam harus bersatu untuk meng-cut berita hoax tadi,” ujar Ketua Takmir Masjid Al-Firdaus, Ngoto, Sewon, Bantul dalam acara pengajian dan Focus Group Discussion (FGD) sosialisasi UU ITE dalam antisipasi penyalahgunaan teknologi informasi di Masjid setempat.

Sebagai wadah kreatifitas generasi muda umat Islam di wilayah Sewon khususnya dan Bantul umumnya, masjid Al-Firdaus dinilai Faisol ikut memiliki tugas untuk menangkal pengaruh hoax. Hal tersebut semakin dibutuhkan di kondisi tahun politik seperti saat ini.

Ketua Takmir Masjid Al-Firdaus, Ngoto, Sewon, Bantul, HM Faisol MM – Foto :Jatmika H Kusmargana

“Banyak sekali dampak yang dirasakan dari adanya berita hoax, seperti menjerumuskan dan meresahkan masyarakat. Apalagi yang berbahaya jika pengajian berkiblat ke IT. Tidak ke masjid atau pondok pesantren. Ini yang melahirkan aliran garis keras,” tandasnya.

Selain bertujuan menyatukan kekuatan elemen dan sayap-sayap umat Islam, seperti banser dan kokam, pengajian yang menghadirkan pembicara Ust HM Sholihuddin Al-Hafidz dan narasumber Ipda Supriyadi dari Polres Bantul, digelar untuk menepis suara bahwa Masjid Al-Firdaus berafiliasi dengan kelompok tertentu. “Itu tidak benar. Masjid Al-Firdaus tidak beafiliasi dengan kelompok manapun. Kita Inklusif. Baik NU, Muhammadiyah, Shalafi boleh. Kecuali pengajian yang punya afiliasi tertentu yang negatif akan di stop,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.