Masyarakat Sikka Mulai Paham Minum Obat Filariasis

Editor: Mahadeva WS

236

MAUMERE – Kesadaran masyarakat kabupaten Sikka untuk meminum obat penyakit kaki gajah atau Filariasis dalam program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POPM) terus mengalami peningkatan. Hal tersebut menjadi progres positif setelah POPM diluncurkan pada 2015 lalu.

Dua tahun terakhir, jumlah peminum obat filariasis sudah mencapai 85 persen. “Di 2016 dan 2017 cakupan masyakat yang minum obat kaki gajah sudah mencapai target di atas 85 persen. Ini menunjukan bahwa masyarakat mulai paham akan pentingnya kesehatan terutama dalam melindungi dirt dan keluarga dart penyakit kaki gajah atau filariasis,” sebut Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sikka Drs.Paolus Nong Susar, Jumat (18/5/2018).

Di 2016, angka kesadaran untuk meminum obat filariasis jika dibandingkan dengan jumlah penduduk mencapai 78,45 persen. Sementara dibandingkan dengan jumlah sasaran mencapai 88,40 persen. Sedangkan di 2017 berdasarkan sasaran menurun menjadi 87,11 persen dan jika berdasarkan jumlah penduduk juga menurun menjadi 76,01 persen.

Plt.Bupati Sikka Drs.Paolus Nong Susar. Foto : Ebed de Rosary

“Keberhasilan Pemberian Obat  Pencegahan Massal (POPM) kaki gajah di Sikka pada 2016 dan 2017 merupakan upaya, kerja keras dan kerja cerdas kita semua, mulai dari tingkat desa atau kelurahan sampai dengan kabupaten. Juga dukungan dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat Sikka,” tuturnya.

Berdasarkan data di Dinas Kesehatan, hasil pelaksanaan POPM penyakit kaki gajah selama tiga tahun terakhir, hanya di 2015 cakupan target tidak terpenuhi. Di awal program, peminum obat berdasarkan jumlah penduduk hanya 52,4 persen dari target 85 persen. Sementara jika berdasarkan sasaran, baru mencapai 46,55 persen dari target 65 persen.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari masih rendahanya pemahaman masyarakat mengenai filariasis. “Kita masih melaksanakan kegiatan pemberian obat pencegahan massal kaki gajah sampai dengan 2019. Diharapkan cakupan masyarakat yang meminum obat bisa di pertahahankan dengan target berdasarkan sasaran usia dua sampai 70 tahun,” himbaunya.

Target POPM jika berdasarkan populasi penduduk Kabupaten Sikka adaah 85 persen. Sementara jika dibandingkan dengan sasaran mencapai 65 persen. Dengan targer tersebut diharapkan Kabupaten Sikka bebas filariasis pada 2020 mendatang.

Berdasarkan perkiraan nasional, penularan filariasis, apabila terdapat satu kasus kronis di suatu wilayah maka sudah terdapat 10 kasus akut yang sudah bergejala dan sudah terdapat 100 orang yang sudah tertular tetapi belum menimbulkan gejala tetapi bepotensi menularkan.

Untuk menghentikan penularan filariasis, lanjut wakil bupati Sikka tersebut, maka sejak 2015 Kabupaten Sikka melaksanakan bulan eliminasi kaki gajah dengan POPM filariasis selama lima tahun berturut-turut setiap Oktober.

Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan NTT Joice Tibuludji, SKM, M.Kes mengatakan, POPM filariasis di NTT pertama kali dimulai pada 2002. Kegiatan diawali di Kabupaten Alor dan berlanjut di 2005 di Kabupaten Rote Ndao dan Ende pada 2012.

Untuk Kabupaten Sikka, Lembata dan Ngada dilakukan pada 2015 yang disusul Kabupaten Sumba, Malaka, TTU, TTS, Kupang, Manggarai,Manggarai Timur dan Flores Timur pada tahun 2016. “Eliminasi filariasis merupakan salah satu prioritas nasional pengendalian penyakit menular denga dua strategis utama. Memutuskan rantai penularan dengan program POPM di kabupaten dan kota endemis filariasis,” ungkapnya.

Dilakukan upaya pencegahan dan membatasi pencacatan dengan melaksanakan program penatalaksanaan penderita filariasis. POPM Filariasis di NTT sejalan dengan kapasitas global dan kebijakan nasional Pemprov NTT yang ingin mewujudkan eliminasi filariasis tahun 2020.

Baca Juga
Lihat juga...