Mbah Sumo, Penenun Anyaman Daun Gebang yang Masih Tersisa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

371

YOGYAKARTA — Di halaman teras depan rumahnya, Mbah Sumo Wiyadi (71) siang itu nampak sibuk menganyam sisiran janur daun gebang kering. Kedua tangannya nampak begitu terampil menyambung satu demi satu sisiran daun pohon jenis palma itu menjadi untaian tali/benang yang memanjang.

Begitu selesai, ia lantas berpindah ke sebuah amben kecil. Terdapat sebuah alat tenun kayu tradisional. Mbah Sumo lantas memasangkan untaian tali yang telah dirajutnya untuk mulai ditenun menjadi sebuah anyaman. Perlahan tapi pasti, sisiran tali tipis itupun nampak mulai berubah menjadi sebuah lembaran anyaman.

Mbah Sumo Wiyadi atau yang bernama kecil Sumirah, merupakan salah satu penenun tradisional yang masih tersisa di dusun Bantarejo, Banguncipto, Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta.

Dulu dusun ini dikenal sebagai daerah penghasil kerajinan anyaman janur daun Gebang. Selain bisa digunakan sebagai tikar, anyaman juga sering dimanfaatkan untuk membuat topi, tas, hingga karung.

“Saya sudah mulai membuat tenun sejak masih SD. Begitu lulus, langsung membantu simbah menenun. Berlanjut hingga sekarang,” ujar nenek yang memiliki 11 cucu dan 5 buyut itu.

Mbah Sumo menuturkan membutuhkan waktu hingga berhari-hari untuk bisa menyelesaikan sebuah anyaman. Prosesnya dimulai dari mengambil pucuk janur daun gebang atau juga biasa disebut daun bogor untuk dipisahkan dari tulangnya. Daun itu kemudian direndam selama sehari agar memiliki tekstur lemas dan licin.

Setelah direndam, daun lantas disisir tipis dan disuwir kecil-kecil. Pengeringan membutuhkan waktu sehari jika cuaca mendukung. Begitu kering, daun yang telah menyerupai sisiran tipis itu masih harus disambung secara manual dengan tangan untuk menjadi untaian tali/benang.

“Paling lama itu proses menyambung. Paling tidak butuh waktu lima hari. Begitu berukuran 80 meter, baru bisa dikelep atau digulung ke alat tenun,” ujarnya.

Proses penenunan sendiri dilakukan mbah Sumo dengan menggunakan alat kayu peninggalan neneknya. Jika semua bahan sudah siap, dalam sehari ia mengaku mampu mendapatkan anyaman hingga sepanjang 4-5 meter. Satu meternya biasa ia jual dengan harga Rp11.000

“Tadi baru saja diambil pedagang. Anyaman sepanjang 16 meter dihargai Rp175ribu. Biasanya itu disetor ke pengrajin untuk digunakan membuat kerajianan tikar hingga tas,” ujarnya

daun Gebang
Mbah Sumo Wiyadi (72) tengah menganyam sisiran janur daun Gebang. Foto: Jatmika H Kusmargana

Semakin berkurangnya jumlah pengrajin tikar maupun tas dari bahan anyaman daun Gebang, memang membuat keberadaan pohon berbentuk mirip kipas ini, saat ini semakin sulit ditemukan. Tak sedikit warga yang memilih menebang untuk diambil kayunya. Hal itulah yang menjadi kendala bagi penganyam tradisional seperti Mbah Sumo.

“Saat ini sulit mendapatkan pucuk janur daun Gebang. Karena sudah tidak ada yang menanam. Saya saja harus membeli Rp50ribu untuk setiap satu ikat,” katanya.

Selama 60 tahun lebih menjadi penenun anyaman daun Gebang, Mbah Sumo mengaku banyak mengalami suka duka. Termasuk ketika saat itu satu meter anyaman masih dihargai Rp9. Namun berkat ketekunan dan kesetiaannya dalam menenun itulah ia mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

“Sebenarnya saya sudah dilarang olah anak saya agar berhenti menenun, dan diminta momong cucu saja. Tapi saya tidak mau, saya masih ingin tetap menenun. Karena ini satu-satunya pekerjaan yang paling saya suka,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...